Diutus untuk Peduli

Diutus untuk Peduli

Renungan harian

Rabu, 3 September 2025

Oleh Susy Haryawan

Juga di kota-kota lain  Aku harus mewartakan Injil, sebab untuk itulah Aku diutus (Lukas 4:38-44)

Saudara terkasih,

Hari ini kita merenungkan tugas perutusan Tuhan Yesus di tengah dunia, salah satunya adalah menyembuhkan orang sakit. Dalam bacaan hari ini, yang memperoleh kesembuhan dari karya Yesus adalah ibu mertua Santo Petrus. Langsung sembuh dan bisa melayani tamu-tamunya, termasuk di dalamnya Yesus. Beberapa hal yang layak direnungkan lebih dalam adalah,

Kini, di zaman modern ini, sakit tidak melulu sakit fisik. Jauh lebih membutuhkan perhatian adalah sakit mental. Kesepian, merasa diri sendirian, di tengah dunia yang penuh dengan kesibukan, kecepatan, dan egoisme, banyak penderitaan. Inilah tugas perutusan kita, sebagaimana Yesus melakukannya 2000 tahun lampau. Sakit kesepian jauh lebih membutuhkan uluran tangan, sanggupkah kita melakukan itu, sebagai tugas perutusan kita? Di dalam alam pikir, aku oleh apa dengan tindakan itu? Ketulusan makin jauh dari ingar bingar dunia saat ini. Menambah sepi, jika tidak disadari.


Egoisme, viralisme, focus dunia saat ini adalah viral, yang berujung populer dan pangkalnya mendapatkan monetasi. Orang bisa sangat sibuk dengan dirinya, abai akan sekitar, lingkungan, termasuk keluarga. Oreintasi pada diri dan ketenaran. Alienasi atas lingkungannya, bisa menimbulkan banyak masalah.
Sanggupkah kita, sebagai anak-anak Allah untuk peduli pada lingkungan kita yang demikian? Mampu mendukung jika ada yang terjebak dalam pusaran viralisme dan popularitas yang menjadi tujuan.


Orang-orang di sekitar rumah mertua Santo Petrus pun terjebak untuk “memiliki” Yesus seutuhnya. Egoisme yang disadarkan Yesus, bahwa perutusan-Nya tidak sekadar di satu tempat. Sering kita menikmati zona nyaman, dan itu tidak sejalan dengan perutusan Tuhan Yesus. Kita adalah tangan, kaki, dan alat Tuhan, yang juga harus ikut apa yang Yesus lakukan. Keluar dari zona nyaman, sehingga selalu semangat, baru, dan peduli. Sikap keakuan, egoisme, mikir diri sendiri perlu jauh-jauh dari benak anak-anak Tuhan. Perlu kreatifitas sehingga tidak jenuh, bosan, dan tidak bertumbuh.


Saudara terkasih,
Siapkah kita menjalankan perutusan kita dengan suka cita, mengalahkan diri, peduli pada sesama. Almarhum Paus Fransiskus juga menambahkan bahwa Ibu Bumi masuk dalam radar kasih kita, termasuk juga menjaga alam ciptaan, sehingga lebih lestari. Empati, peduli, menyangkal diri, termasuk ketika hendak menimbulkan kerusakan ala mini ingat generasi penerus. Jangan seperti tetangga ibu mertua Petrus, yang mau “menguasai” Yesus untuk mereka saja. Alam ini juga miliki keturunan kita.
Saudara terkasih,


Tuhan mengajarkan kepada kita untuk peduli, merasakan derita sesama dan juga keberadaan alam. Memberikan perhatian dan kepentingan yang lebih luas, bukan sekadar keakuan. Hal ini kontekstual, bagaimana anggota DPR-RI tidak mau tahu dengan keberadaan masyarakat yang sedang tidak baik-baik saja, namun malah mereka merasa baik-baik saja ketika mendapatkan tunjangan yang sangat besar. Mereka abai akan sikap peduli, empati, keluar dari dirinya. Merasakan rakyat yang sedang susah.

Salam JMJ

Susy Haryawan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *