Bunga Tanda Persahabatan
Malam kian larut. Perempuan yang berusia menjelang 80 tahun itu
tepekur duduk di depan jenazah suaminya. Ia sendirian dan setia
menjaga jasad suami yang disemayamkan di ruang peruang perawatan
jenasah salah satu rumah sakit di pusat kota. Lantunan lagu bernuansa
Gregorian berbahasa Jawa, Ndherek Dewi Maria, mengalun lembut
mewarnai kepasrahan seorang perempuan yang berpisah dengan
kekasih hati. Suasana perkabungan menjadi kian syahdu.
Tak lama berselang, para tamu berdatangan. Sambil menjaga jarak,
mereka−satu per satu−bertatap muka dengan perempuan itu. Bahasa
mimik para pembelasungkawa menyinarkan rasa duka bagi istri yang
baru saja kehilangan suaminya. Kali ini, lagu In Paradisum menggema
kuat, seolah mewartakan kabar; jiwa sang suami tercinta telah dibimbing
para malaikat, disambut para martir dengan jaya, dan diterima para
malaikat balatentara surga, “In paradisum deducant te Angeli; in tuo
adventu suscipiant te martyres, et perducant te in civitatem sanctam
Ierusalem. Chorus angelorum te suscipiat, et cum Lazaro quondam
paupere æternam habeas requiem.
Para pelayat jalan perlahan mengelilingi peti jenazah dan berdoa bagi
jiwa yang kembali bersama Pencipta-Nya. Satu per satu pula, mereka
meninggalkan ruang berdinding putih dan beraroma wangi bunga. Satu
peziarah datang belakangan. Ia pun beradu pandang dengan
perempuan yang tampak tegar ketika duka menyertainya. “Terimakasih
atas perhatian, kehadiran dan doanya. Semuanya menjadi berkat dan
kekuatan tersendiri bagi saya,” tutur perempuan itu kepada pelayat
terakhir yang menjenguk mereka. Bunga persembahan dari para
sahabat membumbungkan wewangian, menegaskan belarasa antar
mereka.***

