MBG Bermasalah, Menyelesaikan dengan Masalah

MBG Bermasalah, Menyelesaikan dengan Masalah


Tidak Pernah Belajar dan Mengevaluasi


Riuh rendah masalah makan bersama murid sekolah. Mulai dari menu yang acak kadut dan ada pula yang keracunan. Narasi pun bermunculan, adanya sabotase kog bisa kejang-kejang, makan lahap tiba-tiba mual dan muntah. Pihak lain mengatakan, anggota dewan dan para petinggi polisi dan militer banyak yang mempunyai dapur untuk penyediaan makan ini.


Prabowo: Higienitas itu mutlak.
Sepakat, namun apakah ini inti masalah dari banyaknya kasus MBG? Sama sekali tidak. Wong di lapangan, ada warung kaki lima, depannya tidak sampai 10 meter ada TPS, pembelinya banyak. Bermobil, pakaian kelas karyawan, bukan kelas akar rumput yang tidak punya pilihan. Tempatnya juga pastinya menang jauh dapur MBG, tidak terdengar adanya keracunan.


Masalahnya itu pada bancaan anggaran negara. Tambang gaya baru. Ikut konsesi tambang modal super besar, ini lumayan kecil bagi para elit, konsumen sangat jelas 3000-3500 porsi per hari. Bayangkan betapa besarnya. Katering yang sudah puluhan tahun saja bisa kalah, benar anggaran tidak segede untuk pesta.
Jangan sampai masalahnya apa, yang ditangani apa. Lihat saja clometan yang mengaku ahli tetapi meminta kepala sekolah menyicipi dulu makanannya, sehingga siswa terhindar dari keracunan. Lha memangnya dapur tidak mampu menyediakan alat pendeteksi racun. Kalau memang manual, apa iya pemilik dapur hanya mau untung tapi enggan untuk menanggung risiko, menimpakan pihak lain.
Ada yang mengusulkan menggunakan air galon dalam memasak. Lha memangnya sudah ada penelitian dan penyelidikan mendalam, bahwa masalahnya dari air yang tercemar? Ini kan menyelesaikan masalah tanpa tahu penyebabnya.
Malah aneh luar biasa, air galon, berarti kelas menengah atas lagi yang menyediakan air. Memangnya anggarannya cukup untuk itu. Jangan malah dari mengurangi jatah untuk menu lagi.


Menyelesaikan Masalah Tanpa Tahu Akar Penyebab
Negeri ini selalu saja begitu. Masalahnya ketamakan pejabat, penyelesaian masalahnya dengan menambah gaji dan membuat lembaga pengawasan. Ditambah berapapun gajinya ya tidak akan cukup, karena tamak, tidak merasa cukup, apalagi bersyukur. Selalu kurang. Lihat saja gaji-gaji hakim yang sudah besar, masih saja pada main kasus. Berapa banyak yang berurusan dengan penegak hukum lain.
Lembaga pengawasnya sama saja, mereka juga tamak, sehingga suap dan malak menjadi gaya hidup. Masalahnya tidak pernah diuraikan, apalagi diselesaikan, cenderung disembunyikan. Membuang sampah di bawah permadani indah, khas negara ini dalam menyelesaikan persoalan.


Evaluasi dan Beri Hukuman
Penyelesaian masalah sekadar menjadi alat menekan pihak lain. Ditangkap kemudian tawar-menawar dan dilepaskan, karena memegang kartu kunci bagi pihak lain. Selalu begitu. Tidak pernah selesai. Hanya menyenangkan pihak-pihak tertentu, seolah bekerja keras, padahal hanya berputar-putar di tempat. Lihat bagaimana kinerja KPK selama ini, tidak ada perubahan cukup berarti. Malah cenderung makin ugal-ugalan.


Proyek-proyek berjalan, namun tidak sesuai dengan kebutuhan dan anggaran yang dikeluarkan. Inefisien. Cermati saja, bagaimana terminal dibangun terus, padahal kemendesakkannya sangat minim. Hal yang sama dengan MBG ini, begitu saja yang terjadi, tidak aka nada penyelesaian yang memadai, pun perubahan dan perbaikan yang diharapkan, paling lagi-lagi rakyat yang menjadi korban.


Salam JMJ

Susy Haryawan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *