Kecapi Raja
Guru memberi wejangan kepada para murid, katanya, “Ada seorang raja yang belum pernah mendengar suara kecapi. Ketika mendengar untuk pertama kalinya, ia pun berseru, ‘dari mana suara indah itu?’ Para hamba memberitahu kepada raja bahwa itu adalah suara kecapi. Kemudian raja memerintahkan agar para pelayan membawa kecapi kepadanya. ‘Aku ingin kecapi itu sekarang juga’.
Para pelayan segera mencari kecapi dan menghaturkan kepada raja. Tetapi, ketika kecapi tersebut sudah berada di tangannya, raja tidak tahu apa yang harus dilakukannya. ‘Singkirkan saja kecapi itu dari hadapanku. Bawakan saja suara sempurna kepadaku’, Seorang pelayan menanggapi permintaan raja, ‘Tidak bisa Yang Mulia. Ada banyak hal yang menyebabkan timbulnya suara itu. Salah satunya, semua bagian kecapi. Suara itu indah juga dihasilkan dari badan, rongga, batang, kepala, senar kecapi, dan tentu saja geta gerak jemari sang pemain kecapi.’ Tetapi raja malah semakin emosi. Ia bahkan tidak memahami, suara yang merdu, jernih dan menyentuh rasa tercipta dari banyak bagiannya. Raja semakin naik pitam. Ia lalu membanting kecapi itu dan menginjak-injaknya, seraya berkata, kecapi ini telah menipu banyak orang”.
Sang guru mengakhiri wejangannya. Ia bertanya kepada para muridnya, “Para murid, apa yang dapat kalian serap dari kisah raja dan kecapi tadi?” ‘Guru, penilaian atas hidup kita tidak sekadar didasarkan pada yang sebagian saja. Hidup saling terkait antara pengetahuan, perasaan, pemahaman, dan pelaksanaan”***
Hidup adalah seperti matahari. Jika kasih tumbuh merekah dalam hidup, maka kasih akan memberikan terang dan kehangatan.
– Phil Bosmans – –

