Tuhan Jadikan Kami Orang yang Rendah Hati, Seperti Engkau yang Selalu Rendah Hati
Renungan Harian
Selasa, 30 September 2025
Oleh : Ansgarius Hari 45 Wijaya
Injil Lukas 9:51-56
Yakobus dan Yohanes marah kepada orang Samaria, karena mereka tidak mau menerima Yesus yang akan menuju Yerusalem melintas di daerah mereka. (Luk 9: 54). Yesus dan para murid melintasi daerah Samaria untuk menuju Yerusalem, karena dari Galilea ke Yerusalem melewati daerah ini akan lebih singkat jalannya. Sebelum melewati daerah itu Yesus sudah mengirim utusan untuk menyampaikan informasi mungkin juga untuk mencari tempat penginapan yang akan membuat perjalanan mereka menjadi lebih nyaman. Namun persiapan perjalanan melewati daerah itu di tolak. Karena mereka tahu Yesus akan menuju tempat ibadah di Yerusalem yang bukan pusat peribadatan mereka. Di Yerusalem lah sengsara, wafat dan kebangkitan-Nya akan terjadi. Dari situ ia memulai persiapan kenaikan-Nya ke Surga. Di situ jugalah Dia mewujudkan ketaatan-Nya kepada Bapa-Nya, sampai mati di salib untuk menuju kemuliaan-Nya di surga.
Kedua murid ini mengetahui sebenarnya Yesus gurunya memiliki kuasa Tuhan. Banyak mujizat yang sudah Yesus buat selama mereka bergaul dengan gurunya. Mereka percaya Yesus dapat melakukan apapun jika Dia mau. Maka mereka meminta izin kepada Yesus untuk menggunakan kuasa-Nya itu mendatangkan api dari langit untuk membinasakan orang-orang Samaria. Yesus tidak mengizinkan kemarahan mereka itu. Kemarahan yang akan menggunakan kuasa rohani untuk membinasakan orang-orang Samaria yang menolak mereka. (Luk 9:55). Yesus menolak keinginan mereka karena melihat kemarahan mereka bukan Roh Allah yang menguasainya- tetapi kesombongan yang berasal dari bukan semangat Injil yang Dia wartakan.
Orang-orang Samaria dalam kalangan Yahudi dianggap sebagai orang yang berbeda dengan orang Yahudi. Orang Yahudi tidak bergaul dengan orang Samaria (Yoh 4:9). Mereka memiliki pusat peribadatan yang berbeda, bukan di Yerusalem tetapi di gunung Gerizim. Dari utusan Yesus mereka mengetahui bahwa Yesus dalam perjalanan ke Yerusalem yang bukan pusat peribadatan mereka. Yesus sebagai orang Yahudi tulen menghargai tradisi dan pusat peribadatan di Yerusalem, maka orang Samaria tidak dapat menerima kehadiran Yesus, walaupun dalam beberapa peristiwa Yesus sangat menghargai mereka dan dapat diterima oleh mereka.
Peristiwa itu misalnya tercatat dalam Injil Yohanes (4: 1-42) dimana Yesus bertemu dengan seorang perempuan Samaria yang sedang menimba air di sumur Yakub di kota Sikhar. Meskipun perempuan Samaria itu semula berprasangka kepada Yesus, tetapi pada akhirnya banyak orang Samaria percaya pada kesaksian perempuan itu tentang Yesus dan terlebih setelah Yesus tinggal bersama mereka selama dua hari. Mereka percaya pada perkataan Yesus sendiri, bukan hanya karena perkataan perempuan itu saja. Yesus mereka percayai sebagai benar-benar Juru Selamat (Yoh 4:42).
Dalam Lukas 10:25-37, Kisah Orang Samaria yang baik hati, Yesus memberikan contoh bagaimana orang Samaria yang dianggap orang kafir bagi kelompok Yahudi justru yang melaksanakan hukum kasih kepada Tuhan dengan hati penuh dan kepada sesama, dibandingkan dengan seorang imam dan seorang Lewi. Kalau kita mencermati kisah ini, kita akan dapat melihat bahwa pribadi Yesus sendirilah yang ada dalam diri Orang Samaria yang baik hati itu.
Dalam kedua kisah itu kita dapat melihat bagaimana Yesus tidak memblow up keburukan orang dari kelompok tertentu yang mendapat stigma dari bangsa-Nya sendiri. Yesus tidak mengikuti keinginan kedua murid-Nya yang marah dan ingin membinasakan orang Samaria yang menolak kehadiran Gurunya. Yesus menegur mereka, menolak keinginan kedua murid yang ingin membela-Nya dengan cara kekerasan yang dapat membinasakan seluruh bangsa itu. Yesus mengajak mereka menyingkir dari tempat itu. Menghindari kekerasan. Sesuatu yang mudah untuk dilakukan jika Ia mau menggunakan kuasa rohaninya, tetapi tidak dilakukan-Nya. Dengan cara ini Dia ajarkan kepada para murid-Nya kerendahan hati dan tetap menjaga keutuhan ciptaan. Dalam kelompok yang mendapat stigma buruk nyatanya masih ada juga kebaikannya. Jangan karena satu kali kesalahan seluruh bangsa menjadi binasa.
Paulus merumuskan kerendahan hati Yesus dengan kalimat yang luar biasa. Lihat dalam Filipi 2.
2:5-6. Yesus yang yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, 2:7 melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. 2:8 Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib. Apa yang dirumuskan Paulus itu nyata diwujudkan dalam sepanjang kehidupan Yesus. Dalam rangka menghadapi kematiannya di salip inilah Dia mengajak murid-murid-Nya melakukan perjalanan menuju Yerusalem.
Dalam perikop hari ini Yesus mengajak para murid untuk mewujudkan apa yang pernah diajarkannya kepada mereka. Jika di suatu tempat mereka ditolak. Pindahlah ke tempat lain, yang dapat menerima kehadiran dan berkat-Nya. Tidak menggunakan kekerasan untuk menyelesaikan persoalan. Hal itu nanti akan dialami oleh murid-murid nanti sesudah kematian-Nya. Penolakan orang-orang Samaria ini menjadi bagian dari proses penderitaan yang akan memuncak dalam penolakan bangsa-Nya sendiri di Yerusalem. Surga sudah dipandang dan dengan hati teguh akan dijalani-Nya melalui sengsara, wafat dan kebangkitan-Nya di Yerusalem. Para murid akan mengalaminya dalam masa penganiayaan kepada Gereja perdana. Mereka harus teguh – kukuh seperti teladan Sang Guru Agung-nya.
Sulit bagi kita manusia biasa mengikuti teladan Yesus tanpa bantuan kekuatan dari Roh-Nya – dengan terus menerus belajar dan sadar nilai kerendahan hati dari Yesus serta mewujudkannya dalam hidup meskipun kita sering mengalami kegagalan. Kekuasaan, kemampuan rohani sering membawa kita kepada kecenderungan untuk merasa diri lebih dibanding dengan orang lain. Perasaan superior itu dapat terwujud dengan kata-kata, dalam pernyataan yang kita ucapkan, dapat juga dalam tingkah laku yang dapat merendahkan orang lain. Dalam menilai kebiasaan dan pribadi orang lain. Bila mana perlu dengan membinasakan orang lain seperti yang ingin dilakukan oleh Yakobus dan Yohanes kepada orang Samaria itu. Tanpa kita sadari kadang-kadang pernyataan yang bermaksud rendah hati pun bisa berisi sesuatu yang sebaliknya. Bagaimanapun saya lebih baik, lebih padai, lebih mapan, lebih untuk beberapa hal dari pada kamu. Tidak ada empati pada keterbatasan orang lain. Tidak ingin orang lain menjadi maju apalagi lebih maju daripada aku. Orang lain tidak selevel dengan kita bukan bagian dari hidup saya. Kita tidak mau bergaul dengan orang-orang yang tidak setara. Tidak mau bergaul dengan orang yang berbeda. Memberikan cap kepada orang lain sifat-sifat buruk yang tidak kita inginkan. Terlebih jika orang-orang itu dapat menjadi ancaman bagi eksistensi kita. Bukan seperti ini yang diajarkan Tuhan dalam bacaan Injil
hari ini. Tetapi ajakan untuk terus menjadi rendah hati dan tidak menggunakan kekerasan dalam
menyelesaikan persoalan. Terus menerus kita harus selalu memeriksa gerakan roh dalam diri kita
– roh mana yang sedang menggerakkan pikiran, perasaan, perkataan dan perbuatan kita melalui
discernment, walaupun yang akan kita lakukan tampaknya hal-hal yang baik. Adakah sesuatu yang
tidak baik yang tersembunyi dalam kebaikan yang ingin kita lakukan?
Tuhan, ajarkanlah kepada kami kerendahan hati. Mampukan kami mengosongkan diri, sebagaimana sudah Tuhan lakukan untuk dapat mencintai Allah sepenuh hati dan sesama seperti mencintai diri sendiri. Jadikan kami orang yang rendah hati seperti Engkau yang selalu rendah hati.
Srengseng Sawah, Jagakarsa, Jakarta Selatan

