Bersyukur Dalam Segala Hal

Bersyukur Dalam Segala Hal

Bacaan dan Renungan

Minggu 12 Oktober 2025, Minggu Biasa ke-XXVIII

 Oleh: D. Nursih Martadi

Bacaan Pertama: 2 Raja-Raja 5:14-17

Naaman kembali kepada Elisa, abdi Allah, dan memuji Tuhan.

“Sekali peristiwa, turunlah Naaman, panglima raja Aram, ke Sungai Yordan, lalu membenamkan dirinya tujuh kali ke dalam sungai itu sesuai dengan perkataan Elisa, abdi Allah itu.

Lalu pulihlah tubuhnya kembali seperti tubuh seorang anak, dan ia menjadi tahir. Kemudian kembalilah ia dengan seluruh pasukannya kepada abdi Allah itu. Sesampai di sana, majulah ia ke depan Elisa dan berkata, “Sekarang aku tahu bahwa di seluruh bumi tidak ada Allah kecuali di Israel …”

Bacaan Kedua: 2 Timotius 2:8-13

Jika kita bertekun, kita pun akan memerintah dengan Kristus.

“… Jika kita bertekun, kita pun akan ikut memerintah dengan Dia. Jika kita menyangkal Dia, Dia pun akan menyangkal kita. Jika kita tidak setia, Dia tetap setia, karena Dia tidak dapat menyangkal diri-Nya.”

Bacaan Injil: Lukas 17:11-19

Tidak adakah yang kembali untuk memuliakan Allah selain orang asing ini?

“… Dan sementara dalam perjalanan, mereka menjadi tahir. Seorang di antara mereka, ketika melihat bahwa ia telah sembuh, kembali sambil memuliakan Allah dengan suara nyaring, lalu tersungkur di depan kaki Yesus, dan mengucap syukur kepada-Nya.

Orang itu seorang Samaria. Lalu Yesus berkata, “Bukankah sepuluh orang tadi semuanya telah menjadi tahir? Di manakah yang sembilan orang itu? Tidak adakah di antara mereka yang kembali untuk memuliakan Allah selain orang asing ini? Lalu Yesus berkata kepada orang itu, “Berdirilah dan pergilah, imanmu telah menyelamatkan engkau.”

Renungan;

Saudara-saudara yang terkasih, hari ini Gereja Kudus mengajar kita untuk bersyukur dalam segala hal, karena itulah kehendak Allah bagi kita di dalam kesatuan dengan Yesus Kristus Tuhan kita. Dari bacaan pertama, kita belajar dari Naaman, panglima raja Aram, yang mandi di Sungai Yordan, lalu membenamkan dirinya tujuh kali sesuai dengan perkataan Elisa, abdi Allah itu. Tubuhnya pulih kembali seperti tubuh seorang anak, dan menjadi tahir. Kemudian ia kembali dengan seluruh pasukannya kepada abdi Allah itu. Sesampai di sana, majulah ia ke depan Elisa dan berkata, “Sekarang aku tahu bahwa di seluruh bumi tidak ada Allah kecuali di Israel. Sebuah ungkapan syukur dan pengakuan iman yang menyembuhkan.

Hari ini, Injil Lukas mengisahkan, Yesus melanjutkan perjalanan-Nya menuju kota Yerusalem. melalui kota Samaria, dan kota Galilea. Ketika Yesus memasuki sebuah desa, sepuluh orang penderita sakit kusta datang kepadaNya.

Kesepuluh penderita kusta itu berteriak kepada Yesus: “Yesus, Guru! Kasihanilah kami!” Yesus berhenti dan berpaling kepada mereka, kemudian berkata, ”Pergilah dan perlihatkanlah dirimu kepada imam-imam.” (Dalam konteks bangsa Yahudi, Imam-iman adalah pemimpin agama Yahudi yang mempunyai wewenang menyatakan tahir atau tidak dan boleh bergaul dalam masyarakat dan beribadah di Bait Suci. Pada waktu itu orang yang menderita kusta dipahami sebagai kutuk atau akibat dosa, maka dikucilkan dari masyarakat dan tidak boleh beribadat di bait Suci Yerusalem. Para kustawan telah menjadi orang buangan di masyarakat selama sisa hidup mereka).

Mendengar perkataan Yesus tersebut, para penderita kusta pergi ke Bait Suci. Tetapi, sementara mereka berjalan menuju Bait Suci, para penderita kusta melihat dan menyadari bahwa mereka telah ditahirkan! Mereka telah disembuhkan dari penyakit kusta.

Apakah kita dapat membayangkan betapa Ajaib, takjub dan rasa Syukur, sukacita yang mereka alami ketika mereka mulai menyadari kenyataan bahwa mereka telah menjadi tahir, sudah disembuhkan? Coba kita bayangkan gejolak perasaan, emosi yang pasti mereka alami. Betapa besar karunia yang Yesus berikan kepada mereka!.

Namun, hanya satu dari sepuluh penderita kusta yang kembali kepada Yesus untuk berterima kasih, bersyukur kepada-Nya atas karunia besar yang sudah diberikan Yesus kepada mereka. Si penderita kusta yang sudah disembuhkan itu, berlutut di kaki Yesus dan memuji Dia.

Pria ini adalah orang Samaria. Secara historis, ada permusuhan yang tidak dapat didamaikan antara orang Yahudi dan orang Samaria. Orang Yahudi biasanya menganggap orang Samaria sebagai yang terburuk dari umat manusia. Tempat beribadat mereka pun berbeda, orang Yahudi beribadat di Bait Suci Yerusalem, dan orang Samaria beribadat di Gunung Gerezim.

Orang-orang Yahudi tidak mau bergaul dengan orang kusta. Namun, ketika Yesus melihat iman orang Samaria, Dia tidak melihat seorang kusta. Sebaliknya Yesus memberikan kesembuhan, menyelamatkan sesama manusia yang menderita dan membutuhkan pertolongan.

Hari ini Yesus mengingatkan kita untuk mempuyai hati dan pikiran yang terbuka terhadap sesama. Kita mungkin tidak menyukai seseorang yang kita jumpai. Atau kita mungkin menganggap mereka sebagai ”orang buangan” (semacam KLMTD). Yesus, Sang Guru, mengingatkan kita untuk “melihat” sesama yang kita jumpai hari ini dengan mata hati kasih-Nya. Bila kita memilih untuk melakukan ini, kemungkin kita akan menerima kasih karunia yang dilihat oleh mata hati dan pikiran sesama yang penuh kasih.

Perhatian yang kita berikan kepada sesama, mungkin juga menjadi perhatian yang kita terima. Refleksi: Apakah kita mau berupaya untuk memiliki mata hati dan pikiran yang terbuka, untuk menjadi lebih peka melihat sesama yang kita jumpai seperti yang dilakukan Yesus? Semoga kita juga dimampukan oleh Yesus melakukannya.

Doa

Allah Bapa kami, kemurahan kebaikan-Mu tak ternilai oleh apa pun. Hanya mereka yang rendah hati yang Kauberi cinta kasih yang tulus. Bebaskan kami dari kesombongan diri dan ketinggian hati. Sentuh kami dengan tangan belas kasih-Mu. Terimaksih atas teladan yang Kauberikan melalui kisah Naaman dan Orang Samaria yang Kau tahirkan. Ajari kami untuk mempunyai hati dan pikiran yang terbuka dan mampu bersyukur dalam segala hal. Doa ini kami panjatkan kepadaMu dengan perantaraan Yesus Kristus, Tuhan kami. Amin.  

admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *