Manusia Membutuhkan Tanda

Manusia Membutuhkan Tanda

Renungan Harian

Senin, 13 Oktober 2025

Lukas 11:29-32

Oleh FA Adihendro

“Angkatan ini adalah angkatan yang jahat. Mereka menghendaki suatu tanda, tetapi kepada mereka tidak akan diberikan tanda selain tanda nabi Yunus”. (Luk 11:29)

SEJATINYA manusia membutuhkan tanda. Tak heran almarhum Romo Dick Hartoko (1922-2001), yang menjadi pemimpin di Majalah Basis, selalu menuliskan  dalam kolum  tetapnya “Tanda-tanda Jaman”, untuk mengolah, menafsirkan dan mengkritisi peristiwa-peristiwa aktual sebagai tanda-tanda jaman.  Kita diajak mencermati setiap gerak dan tanda-tanda sekitar kita. Tanda-tanda itu akan menjadi jejak untuk kita ikuti agar  bisa mengetahui arah yang belum kelihatan. Tanda-tanda adalah sesuatu yang kelihatan, sedangkan arah tujuan belum nampak. Seorang nelayan pada malam hari akan melihat bintang Gubuk Penceng di langit untuk mengetahui arah selatan karena dalam kegelapan malam di lautan luas yang kelihatan hanya air samudra dan bintang-bintang di langit. Seseorang yang berkendaraan di kota besar membutuhkan melihat tanda-tanda berupa rambu-rambu jalan, agar tidak  tersesat dan bisa sampai pada tujuan dengan selamat.

Tetapi tanda yang dimaksudkan Yesus bagi umat Yahudi pada saat itu pasti bukan tanda-tanda yang berupa rambu-rambu atau petunjuk kelihatan agar tidak tersesat, melainkan suatu mukjizat kuasa Allah yang mampu mengubah hati manusia Ninive menjadi bertobat. Itulah yang dilakukan oleh Yunus. Semula Yunus menolak misi yang diperintahkan Allah untuk menobatkan bangsa Ninive. Tetapi setelah Yunus ditelan dalam perut ikan selama tiga hari dan dimutahkan ke kota Ninive, ia baru menyadari Kuasa Allah dalam dirinya. Kesaksian hidup Yunus yang luar biasa itu ternyata mampu menobatkan bangsa Ninive dan bangsa itu mengakui kuasa yang hebat dari Allah (baca Yun 1:3 dst).

Yesus mengecam bangsa Yahudi yang bebal dan tuli karena mereka melupakan  tanda-tanda Yunus itu, sembari mengingatkan bahwa Yesus sejatinya lebih besar kuasa-Nya daripada Yunus itu; karena Diri-Nya adalah Allah sendiri yang berkenan turun ke dunia menjadi manusia (incarnatus est) agar bisa menyelamatkan manusia dari kebinasaan akibat dosa. Ini adalah mukjizat yang paling agung dan penuh kuasa melebihi nabi Yunus. Yesus memberi tanda-tanda yang merupakan jejak-jejak campur tangan Allah dalam kehidupan manusia: orang sakit disembuhkan, orang buta bisa melihat lagi, orang lumpuh bisa berjalan,  orang mati dihidupkan. Namun mata dan telinga orang-orang Yahudi sudah tertutup oleh rasa benci kepada Tuhan Yesus, sehingga tidak melihat tanda-tanda itu.

Kita pun sering menutup telinga dan mata hati kita, tidak melihat tanda-tanda yang merupakan jejak-jejak campur tangan Tuhan dalam hidup kita. Bukan karena benci kepada Tuhan. Melainkan karena nafsu egoisme keinginan diri sendiri, merasa diri seakan-akan mampu mengatasi segala perkara yang ada, tidak membutuhkan lagi uluran tangan Tuhan; kesuksesan yang dicapai diklaim karena usaha jerih payah sendiri, rejeki yang ada oleh karena banting tulang sendiri mencari nafkah. Tanda-tanda dan jejak Tuhan menjadi tidak nampak! Maka, jangan kaget kalau suatu saat Tuhan menganggap kita sebagai angkatan yang jahat dan berkata kepada,”Kepadamu tidak akan Kuberi tanda-tanda lagi!”

FA Adihendro

Pemerhati hidup rohani

FA Adihendro

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *