Jalan Sederhana
Seorang murid merasa jenuh dan bosan dengan kegiatan di pertapaan. “Bagaimana kalau aku keluar dari pertapaan ini? Bukankah harta dan kekayaanku berlimpah? Keluargaku memiliki banyak usaha, relasi persahabatanku pun luas. Aku dapat menggunakan semuanya itu untuk mengisi hidupku menjadi semakin bermakna” gumamnya.
Murid itu datang kepada gurunya. Sang Guru mengetahui kegelisahan yang dialaminya. “Bukankah Anda terampil memainkan gitar?” tanya guru kepadanya. Murid merasa aneh dengan pertanyaan yang diajukan kepada dirinya. Namun, ia menjawabnya juga, “Benar, Guru.” “Menurutmu, apakah mungkin memainkan gitar dengan nada yang tepat bila senar gitarnya terlalu kencang?” “Tentu saja tidak, Guru.” “Bagaimana pula bila senarnya terlalu kendur, dapatkah Anda mendengar nada merdu?””Tidak juga, Guru.” “Menurut Anda, apa yang sebaiknya Anda lakukan supaya dapat mendengarkan suara yang merdu dan seirama?” “Saya mesti menyetel secara lebih tempat antarsenar supaya menghasilkan suara yang pas. Tidak sumbang,” kata murid itu. “Benar pendapatmu,” tegas guru kepada murid itu. “Perhatikan dan ingatlah semuanya itu.
Usaha yang terlalu keras akan membebani kita dan usaha yang terlalu lemah pun akan membawa kita pada kemalasan. Jadi, yakinkan dirimu untuk berada di tengah sembari menyadari bahwa keteguhan, kewaspadaan, kekuatan dan kebijaksanaan menjadi hasil dari jalanmu itu,” tutur guru.
Ketahuilah, apapun yang menjadikanmu tergetar, itulah Yang Terbaik untukmu! Dan karena itulah, kalbu seorang pecinta-Nya lebih besar daripada Singgasana-Nya.
– Jalaludin Rumi –

