Dapur Sekolah dan Program Asal-asalan

Dapur Sekolah dan Program Asal-asalan


Solusi atau Reaksi?
Menarik, usai banyak tuntutan untuk mengadakan evaluasi, karena banyaknya keracunan MBG, kini pihak Kemendisdasmen mengeluarkan gagasan untuk memfasilitasi kemungkinan sekolah mengelola dapur. Sebenarnya menggelikan, begitu banyak sekolah berasrama, lha mereka pastinya sudah biasa mengelola makan bukan sekadar makan siang, namun makan tiga kali.


Reaktif, Tidak Solutif
Keracunan dan kacaunya MBG itu bukan soal dapurnya, namun memang sejak awal ada masalah dari gagasan yang prematur, namun harus dilaksanakan segera. Semua tergopoh-gopoh dan anak jadi korban. Jangan katakana hanya nol koma persen, ini anak manusia, anak bangsa, generasi masa depan dipertaruhkan, bagaimana kesehatan mereka di masa nanti?


Dapur sekolah. Ada masalah besar, anggaran yang sudah digelontorkan untuk dapur umum kemarin, berapa anggaran negara sudah keluar? Bangunan untuk siapa? Apakah mereka, yang sudah mengivestasikan kemarin rela untuk melepaskannya begitu saja? Jangan pakai palu untuk menyelesaikannya. Baca tentara untuk menekan pengusaha-pengusaha ini.


Apakah negara harus membangun dapur lagi? Pastinya akan lebih kecil, proyek lagikah? Ataukah masih sama seperti yang sudah berjalan. Pelakunya ya elit-elit partai dan militer? Terlihat ini bukan solusi, namun reaksi.


Apa yang dinyatakan pun bukan reaksi tepat guna, sekadar mereaksi, seolah-olah mengadakan evaluasi, padahal asumsi mentah. Sama dengan konstruksi awal adanya program ini, sekadar asumsi, wow di depan calon pemilih, dan zoooonk. Ngeri.


Persoalan itu bukan sekadar dapurnya dipindah, namun bagaimana pengelolaan anggaran ratusan trilyun ini dengan waras. Mengapa sampai keracunan, apa yang terjadi dengan menu yang lucu-lucu itu? Kan ada edaran untuk merahasiakan jika ada keracunan. Ini ada apa? Ya gamblang, ada persoalan dalam persiapan, bahan, dan pengolahan, serta distribusi. Sederhana, mau tidak mengorek semua jalur itu?
Mereka pasti tahu, karena koncoisme semua. Tahu sama tahu, bahan kelas termurah, tenaga minim dipress kerja maraton, masak ala kadar, terjadilah basi massal. Sudah bahannya buruk, baca ambang maut, dimasak dengan separo hati, dan hasil akhirnya mana bisa bagus.


Plesetan Makan Beracun Gratis itu miris sebenarnya. Anggaran negara superjumbo, memangkas dana untuk pendidikan dan kesehatan, eh malah keracunan. Sejak awal memang sudah banyak masalah, wajar ketika berjalan makin tidak karuan, pengelolanya juga bukan tenaga ahli, namun konco dan timses.
Tanpa jujur dan terbuka mengevaluasi total, mau apapun dilakukan pasti akan menghasilkan kekacauan baru. Gagasannya saja sudah ada kekeliruan, perencanaannya ugal-ugalan, ya jelas pelaksanaannya kacau balau. Jujur saja gagasannya untuk bagi-bagi pada yang telah berjasa dikemas dengan generasi emas. Perencanaannya ngaco mendirikan dapur supermewah, padahal mepet sawah, hasilnya ya keracunan massal.


Apakah akan masih berlanjut terus seperti ini, tampaknya iya, model antikritik dan merasa sudah paling terus. Negara dan anak bangsa taruhannya.


Salam JMJ

Susy Haryawan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *