BRAYAT MINULYA
Seri 1
Nama itu adalah kumpulan mantan-mantan anggota MSF yang ada di Jakarta. Bogor. Depok.
Tangerang. Bekasi. Jabodetabek. Saya masuk Jakarta tahun 1995 sesudah 2 tahun bekerja
menjadi Guru di suatu SMK di Randublatung Blora. SMEA St. Louis Cabang Cepu. Yayasan
Katolik milik Keuskupan Surabaya. Saya berani meninggalkan Randublatung karena tantangan
mas Singgih yang waktu itu sudah tinggal di Jl. Bangau 250 Depok Utara. Pertama kali bertemu
dengan teman-teman mantan MSF yang tinggal di rumah pastoran Gereja St, Herkulanus Depok
Utara. Di sana pernah tinggal mas Haryo Sumarto, Mas Singgih, Mas Thomas Suharjono, Mas
Paulus Triyatno (mantan frater Projo Keuskupan Purwokerto) dan Mas Teguh. Menyusul
kemudian saya datang paling akhir di rumah itu. Saat mas Haryo sudah berkeluarga dan tinggal
di Lembah Hijau Depok Bagian dari Gereja Paroki St. Lukas Depok Tengah. Rumah singgah ini
dikuasakan kepada alm. Bapak Herman Rumpoko sesepuh dan mantan anggota Ordo Karmel
yang menjadi orangtua kami di Depok ini. Beliau saat masih aktif bekerja juga pernah menjadi
pemimpin Redaksi Harian Suara Karya.
Bertemu pertama kali dengan mereka ini saat saya mengikuti tes ujian masuk Bimas Katolik dan
sementara mengikuti ujian di Wisma Haji Pondok Gede selama 2 hari. Saya menginap di rumah
Pak Dhe dari calon isteri di Depok Utara ini. Saat saya bertemu dengan Kepala Bagian Umum
dan Kepegawaian beliau menceritakan bahwa di rumah pastoran ini tinggal para konfrater
mantan MSF yang sudah terlibat aktif dan dikenal di kalangan umat di Paroki Herkulanus ini.
Saya belum mengetahui bahwa ada Paguyuban yang lebih luas daripada kelompok kecil di jalan
Bangau Depok ini.
Mulai saat itu, saya berani merintis pekerjaan baru dan meninggalkan pekerjaan sebagai guru di
SMEA Katolik St. Louis Randublatung. Meskipun sebenarnya pihak Yayasan melalui Kepala
Sekolahnya berharap saya tetap tinggal di sana karena pada tahun kedua saya bekerja selain
sebagai Guru Pendidikan Agama Katolik, Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan dan
Sejarah Perjuangan Bangsa, saya juga diangkat sebagai Wakil Kepala Sekolah Bidang
Kesiswaan. Yang honor/ gaji mengajarnya lebih besar dari gaji PNS yang baru diangkat. Tetapi
karena rasa ingin berkembang menjadi lebih baik seperti yang saya lihat perkembangan teman-
teman yang sudah lebih dahulu tinggal di Depok ini saya berani meninggalkan kemapanan itu –
untuk mencari kehendak Tuhan. Mencoba menengok jendela baru yang disediakan Tuhan bagi
saya melalui dorongan mas Singgih. Yang menyatakan kalua mau mencari pekerjaan baru –
jangan hanya datang saat sekolah sedang libur. Tetapi memang harus berani meninggalkan
tempat yang menurutnya tidak ada dalam peta wilayah Indonesia. Karena Randublatung baginya
adalah tempat yang belum pernah dikenalnya hingga saat itu.
Saat pertema kali datang ke Jakarta/ Depok, jujugan saya adalah rumah singgah teman-teman di
Depok ini. Mas Singgih memberikan arah untuk mencari pekerjaan supaya menghubungi mas
PD Subagyo di Grasindo. Mas Bagyo memiliki jabatan sebagai manajer Pemasaran Buku di
sana. Bersama mas Bagyo ada mas Gunawan Seno. Mas Ratmono ada di Majalah Bola yang
kantornya berada di Palmerah Selatan. Saya datang ke sana. Mas Bagyo memberikan tawaran
apakah saya mau bekerja di Bidang pemasaran buku, dengan tugas memasarkan buku-buku terbitan Grasindo ke Sekolah-sekolah di Jabodetabek. Saya merasa tidak sanggup untuk hal itu.
Saran lanjutan saya diminta ke LPKT bertemu dengan mas Thomas Suharjono. Gedung itu saat
ini sudah menjadi Hotel Santika di Jalan KS. Tubun Slipi Jakarta Barat. Ternyata di situ sudah
ada mas Untung Aribowo yang sudah masuk lebih dahulu 2 bulan sebelumnya. Bersama mas
Krisna Rendra mereka menangani bidang pemasaran Komputer Gramacom. Tidak ada tempat
bagi saya di situ karena Gramacom masih merupakan Perusahaan rintisan yang harus bersaing
dengan Perusahaan computer yang sudah jauh lebih berkembang dalam bidangnya. Namun
informasi untuk mencari pekerjaan di Jakarta saat itu terus menerus berkembang, meskipun
hanya dari kalangan para senior mantan MSF yang sudah lebih dahulu tinggal di Jakarta.
Informasi berikutnya datang dari mas Andre Sumaryatmo, kepada saya disarankan untuk
menghubungi Mas Nandi (waktu itu sedang berhenti dari jabatannya sebagai pastor Projo
Keuskupan Agung Semarang dan bekerja di kelompok Melawai Grup – 2 tahun kemudian mas
nandi kembali inkardinasi sebagai Imam di Keuskupan Agung Semarang) dan tinggal di Mess
Karyawan Melawai di daerah Slipi jl. KS. Tubun dekat Tanah Abang. Sementara waktu dengan
mudah saya mendapatkan pekerjaan di Melawai Grup. Dengan gaji masa percobaan hamper 2
kali lipat daripada yang didapatkan sebagai guru dan wakil Kepala Sekolah di Randublatung.
Mendapatkan fasilitas tempat tinggal di Mess di daerah Kebayoran Baru. Ini baru perngalaman
seminggu meninggalkan Randublatung di awal bulan Januari 1995. Bahkan tunangan yang
lulusan akuntansi dari Perguruan tinggi Di Malang juga diberi kesempatan untuk bekerja di
kantor Pusat Melawai di Jalan KS. Tubun dan boleh tinggal di Mess karyawan Putri di daerah
Slipi itu juga. Dengan bangga segera saya kembali ke Randublatung untuk mengajak tunangan
berjuang mengembangkan sayap untuk terbang lebih jauh ke ibukota. Mencari jalan nasib
memperjuangkan masa depan yang lebih baik untuk anak-anak yang akan diberikan Tuhan kelak
di kemudian hari.
Jakarta bukan tempat yang menakutkan lagi dengan berbagai persoalan yang menggelisahkan
tetapi menjadi tempat yang menjanjikan masa depan. Ada banyak teman-teman senior MSF yang
ada di sana dan itu memberikan rasa aman karena berbagai persoalan akan dapat diatasi dengan
saling berbagi rasa persaudaraan. Nama-nama para senior selain yang sudah saya sebut di atas
ada nama: Mas Wisnu Kadilan yang bekerja di Megawarna – Pasar Minggu, Ririk yang sudah
bekerja dengan Bapak Broto Santoso di Mandara Permai PIK, Mas Mangun Tiyarso yang
menaungi anak-anak jalanan di daerah Jatinegara, alm. Purnomo yang bekerja dengan anak-anak
yang mengembangkan UMKM, sekelompok Senior MSF bekerja di bidang media di daerah
Tebet Barat belakang hotel Bidakara Pancoran Jakarta Selatan antara lain: Bapak Edy Suhendro,
Rm. Tjoko Atmojo, Pak Dhe. Mas Adihendro di Gramedia Percetakan, mas Darmaji jadi dosen
di STIE daerah Petukangan, Mas Hadi Subroto bekerja sama dengan UT untuk bidang perbukuan
dan berkantor di Jl. Surabaya dekat stasiun Cikini, Mas Wedyo Kartono di Litbang Tarakanita,
Cipto Martoyo Cikupa sebagai Kepala Assrama Karywan Pabrik Textil, Bapak Hadi Subroto
yang bekerja di LBI, Herdra Kusno yang membuat Perusahaan Pengolahan Limbah air di Rumah
sakit atau Lembaga-lembaga Sekolah, Bapak Th. Sumartaji di Bank Mega sebelum di likuidasi
gara-gara Krismon 1998, Mas Bandi Raharjo di Tour ke Holyland yang berkantor di Blok M,
Pak Minarto di jajaran pemimpin manajemen Kompas, Bapak Darmadi yang bekerja dalam salah
satu Departemen di KWI, mas Subiyanto Purwo Pranjonom Mas Edy Kristianto Pasar Minggu
yang bekerja di PL, Mas Sri Purnomo, dan masih ada banyak senior yang saya tidak hafal nama-namanya. Pos tempat kami berkumpul para anggota Brayatminulyo ini seringkali di Aula Paroki
Rawamangun yang pada waktu itu pastor Parokinya Rm. Suryo Sunaryo dan Rm. Harso Wijoyo
yang sangat terbuka menerima mantan-mantan MSF yang Bersatu dalam Paguyuban Brayat
Minulyo ini. Beberapa kali kami juga berkumpul di daerah Puncak. Di Wisma Kompas dan di
salah satu Villa Milik Wahana Tata atas fasilitas Mbak Emy isteri mas Andre. Pernah juga kami
berkumpul di Wisma Sunter pada saat yang menjadi Provinsial MSF Rm. Wahyu Haryanto.
Dalam pertemuan yang lebih terbatas juga di depan Bentara Budaya dekat kantor Kompas di
Palmerah. Di resto kafe tertentu hanya untuk saling ngobrol dan merencanakan suatu kegiatan
rekreatif tertentu.
Para senior sebelum Brayat Minulyo berubah namanya menjadi PBMN, sejauh saya mengetahui
perkembangan awalnya dipimpin oleh Bapak Pak Dhe Hendro Warsito, mas Hadi Subroto,
Bapak Broto Santoso, Mas Andre Sumaryatmo, setelah mas Andre mulai dari Mas Thomas yang
pengukuhan kepemimpinannya terbatas pada suatu pertemuan di suatu restoran pada suatu
pertemuan di suatu restoran oleh Rm. Purnomo yang sudah menjadi Asisten Generalat
Konggregasi MSF berubahlah nama Bramin itu menjadi PBMN juga keanggotaannya bukan saja
mantan-mantan yang tinggal di Jabodetabek tetapi juga dari seluruh Indonesia.
Ini catatan saya sepintas yang kurang runtut. Semoga para Senior pelaku Sejarah Brayatminulyo
atau PBMN dapat memberikan catatan yang lebih detail dan personal terkait dengan dinamika
dan perkembangan kelompok kita ini. Nanti saya akan juga menambahkan kaitan dengan
pribadi-pribadi dalam perjalanan kehidupan saya sekeluarga hingga saat ini tetap setia menjadi
anggota PBMN ini.
Demikian catatan saya semoga tulisan ini menjadi pancingan untuk mas Andre Wignyo
Sumaryatmo, Pak Broto Santoso, Rm. Tjokro Atmojo, Mas Adi Hendro, Mas Thomas
Suharjono, atau siapa saja anggota Bramin dan PBMN dapat mengisahkan cerita personalnya
dalam kaitan dengan Paguyuban ini secara lebih menarik.
Jakarta, 20 Oktober 2025
Ansgarius Hari 45 Wijaya

