Tuhan Dapat Datang Kapan Saja
Renungan Harian
Selasa, 21 Oktober 2025
Oleh: D. Nursih Martadi
Pengantar:
Salam bahagia sejahtera, saudara saudaraku yang terkasih dalam Kristus. Tuhan memberkati dan menyertai, melindungi kita dan keluarga kita serta orang-orang yang kita cintai
Membaca Injil dan renungan pesannya mempunyai peranan penting bagi kita. Dengan melakukan ini, kita mendekatkan diri pada Tuhan setiap hari, memperkuat iman, dan membentuk karakter hidup beriman kita. Selain itu, renungan harian, memberi ketenangan batin dalam kehidupan, dan memberikan pegangan hidup yang berkenan kepada Allah dan sesama. Waktu pribadi bersama Tuhan memberikan momen spiritual mendalam. Yang mendorong kita semakin menyadari panggilan misioner dan memperkaya hubungan personal dengan sesama.
Saudara-saudari terkasih, hari ini Gereja Kudus mengajak kita untuk merenungkan :
- Bacaan 1: Rom 5:2.5b.7-19.20b-21: mengajarkan bagaimana dosa masuk ke dunia dan bagaimana kehidupan dapat berkuasa melalui Kristus.
- Bacaan Injil: Lukas 2:35-38: menekankan pentingnya berjaga-jaga, berdoa, dan siap sedia menghadapi kedatangan Tuhan.
Kalender Liturgi hari Selasa 21 Oktober 2025 merupakan Hari Selasa Biasa XXIX, Peringatan Santo Hilarion dari Gaza, Abbas, Santa Ursula dkk, Perawan dan Martir, dengan Warna Liturgi Hijau.
Yuk, kita simak Bacaan Liturgi Katolik dan Renungan Harian Katolik pada hari Selasa 21 Oktober 2025:
Bacaan Pertama: Rm 5:12.15b.17-19.20b-21: Jika karena dosa satu orang maut telah berkuasa,betapa hebatnya mereka akan berkuasa dalam kehidupan.
“…dosa telah masuk ke dunia lantaran satu orang, dan karena dosa itu juga maut. Demikianlah maut telah menjalar kepada semua orang, karena semua orang telah berbuat dosa.
Jika karena pelanggaran satu orang semua orang jatuh ke dalam kuasa maut, jauh lebih besar lagi kasih karunia dan anugerah Allah, yang dilimpahkan-Nya atas semua orang lantaran satu orang, yaitu Yesus Kristus…. Jadi sebagaimana oleh ketidaktaatan satu orang semua orang telah menjadi orang berdosa, demikian pula oleh ketaatan satu orang semua menjadi orang benar. Di mana dosa bertambah banyak, di sana kasih karunia berlimpah-limpah.
Jadi sebagaimana dosa berkuasa dalam alam maut, demikianlah pula kasih karunia akan berkuasa karena Tuhan kita Yesus Kristus membenarkan kita untuk hidup kekal”.
Bacaan Injil: Luk 12:35-38: Berbahagialah hamba yang didapati tuannya sedang berjaga.
“…Hendaklah pinggangmu tetap berikat dan pelitamu tetap menyala. Hendaklah kalian seperti orang yang menanti-nantikan tuannya pulang dari pesta nikah, supaya jika tuannya datang dan mengetuk pintu, segera dapat dibukakan pintu. Berbahagialah hamba, yang didapati tuannya sedang berjaga ketika ia datang…”
Renungan
Saudara-saudari terkasih dalam Kristus,
Hari ini, Gereja Kudus mengajak kita untuk merenungkan dua hal mendasar dalam kehidupan rohani kita: dosa dan kasih karunia, serta kesiapsiagaan dalam hidup sehari-hari. Dalam bacaan pertama, Rasul Paulus mengajarkan bahwa satu pelanggaran manusia pertama membawa maut bagi semua orang. Dapat kita rasakan dalam kehidupan kita sendiri- ketika kita membuat keputusan yang salah atau menyerah pada godaan, dampaknya cukup luas, bukan hanya untuk diri sendiri, tetapi juga untuk orang-orang di sekeliling kita. Dosa, sebenarnya, bukan semata- mata persoalan aturan atau larangan yang dilanggar; tetapi, dosa adalah relasi personal yang tercipta antara kita dan Allah, dan kita dengan sesama, sebuah kegelapan yang menyelimuti hati kita. Dosa merusak relasi harmonis antara kita dengan Allah, dan juga relasi kita dengan sesama.
Rasul Paulus membawakan kabar sukacita yang luar biasa, yaitu kasih karunia Allah jauh lebih besar dari dosa itu. Satu perbuatan besar penuh kebenaran, yaitu pengorbanan Yesus Kristus, memberikan hidup yang berlimpah, membebaskan dari maut, dan meletakkan kita dalam panggilan untuk hidup benar. Dalam perkataan lain, hal ini berarti tidak peduli seberapa berat kesalahan kita, tidak peduli seberapa jauh kita tersesat, kasih karunia Allah selalu lebih besar. Kasih karunia Allah adalah nyata -bukan hanya kata-kata, tapi nyata dapat kita rasakan setiap hari ketika kita berupaya hidup benar, menolong sesama, dan mengasihi tanpa syarat. Rasul Paulus mengajarkan kita untuk tidak “gampang” menyerah pada rasa bersalah, tetapi untuk terus bangkit dan memilih kehidupan yang membawa kasih karunia. Inilah Injil, kabar suka cita.
Bacaan Injil hari ini menuntun kita ke hal yang lebih praktis: kesiagaan dalam hidup rohani kita. Yesus mengajar dan menasihati para murid-Nya untuk berjaga-jaga, “…Hendaklah kalian seperti orang yang menanti-nantikan tuannya pulang dari pesta nikah, supaya jika tuannya datang dan mengetuk pintu, segera dapat dibukakan pintu. Berbahagialah hamba, yang didapati tuannya sedang berjaga ketika ia datang…”
Nasihat ini sangat dekat dengan kehidupan keseharian kita. Tuhan dapat datang dalam hidup kita setiap saat, kapan saja -melalui sapaan pertemuan sederhana, senyum seorang teman, kata-kata yang menguatkan, menghibur atau bahkan tantangan yang menuntut kita untuk percaya dan bertindak. Tuhan tidak selalu datang dalam bentuk dramatis, mukjizat- mukjizat besar; sering Ia hadir dalam peristiwa-peristiwa kecil, yang remeh temeh, yang hanya dapat kita sadari bila kita berjaga-jaga dengan hati yang terbuka. Kita diajak untuk selalu mencari dan peka terhadap kehadiran Tuhan.
Marilah kita menjaga hati dan pikiran tetap “terikat dan menyala”, siap melihat kebaikan di sekitar kita, siap menolong saat diperlukan, dan siap memaafkan ketika terluka. Hal ini juga berarti kita berani menghadapi kehidupan dengan sadar bahwa setiap tindakan, sekecil apapun, memiliki nilai di mata Allah. Seperti pelita yang tetap menyala di malam gelap, iman kita menjadi cahaya bagi dunia -kecil tetapi mampu memberi terang dan menuntun banyak langkah.
Marilah kita belajar dari Yesus Sang Guru: berani menjaga diri dalam iman, meletakkan harapan pada kasih karunia Allah, dan menjadi terang yang bernyala bagi sesama. Kita tidak perlu menunggu dan menunda waktu untuk bertindak, bahkan dalam kesibukan keseharian, dalam pekerjaan, keluarga, dan pertemanan, kita dapat berjaga-jaga dengan melayani, mengasihi, dan membawa damai bagi sesama.
Semoga renungan singkat ini berdaya guna, mengingatkan kita bahwa setiap saat, setiap hari merupakan kesempatan untuk hidup dalam kasih karunia Allah dan siap menyongsong kehadiran-Nya. Tindakan kita, sekecil apapun, dapat menjadi saksi bahwa kasih karunia Allah itu penuh kuasa. Maka kita wajib bersyukur dan berterimakasih dalam segala hal, atas anugerah iman yang boleh kita imani dan amini. Amin.
Doa Penutup:
Tuhan Maha Pengasih dan Penyayang, ajari kami agar mampu melihat hidup dengan hati berjaga, semakin menyadari kasih karunia-Mu. Bimbing kami belajar berbuat baik, mengasihi sesama, dan menjadi terang bernyala bagi sesama. Semoga kami semakin setia dalam iman, sabar dalam tindakan, dan rendah hati dalam hidup keseharian. Tuhan Yesus, ajarlah kami untuk berjaga-jaga dalam iman. Semoga pelita hidup kami tetap beryala, agar ketika Engkau datang, Engkau dapati setia di hadapan-Mu. Kami tetap siap dan memiliki iman yang teguh menyongsong kedatangan-Mu. Amin.”

