PERJALANAN KE KOTA BARU PULAU LAUT

PERJALANAN KE KOTA BARU PULAU LAUT

TEMAN-TEMAN SEANGKATANN TOP TAHUN KEDUA (3)

Seingat saya saya dijemput terakhir diantara teman-teman yang sudah berangkat lebih dahulu dari
Katedral ke Paroki tempat tugasnya masing-masing. Sepuluh hari setelah saya transit di Keuskupan Banjarmasin dengan berbagai variasi aktifitas mengisi waktu yang sudah saya ceritakan kemarin. Saya dijemput Rm. AB. Sumarto Setyoko MSF ke Kotabaru – Pulau Laut. Saya dengan Rm. Marto menuju terminal bis antar kota di Pal 6 (Km6). Saya lupa naik apa dari Keuskupan ke Pal 6 di Banjarmasin ini. Dari pinggir jalan kami menunggu Taxy untuk menuju ke Batulicin (Sekarang menjadi ibu kota Kabupaten Tanah Bumbu) . Waktu itu belum ada kendaran bus umum ke arah ini. Adanya trayek ke Kalimantan Tengah seperti Barabai, Amuntai, Buntok, bahkan juga ke Kalimantan Timur Balikpapan. Ke arah Kotabaru, taxy satu-satunya kendaraan angkut jarak jauh sampai ke Batulicin itu. Satu taxy bisa diisi 3 penumpang. Setelah 3 penumpang terisi taxy akan berangkat. Berhubung lama menunggu penuhnya taxy, Rm. Marto Setyoko berinisiatif 3 tempat duduk Taxy itu dibeli semua. Dan kami hanya berdua saja penumpangnya. 3 orang dengan sopirnya. Jalur yang dilalui dari Pal 6 kemudian ke arah – Banjarbaru, tetapi beberapa kilometer sebelum Banjarbaru kami belok ke kanan melewati Bati-Bati, – menuju Pelaihari – Jorong- Sungai Danau – Kintab – Satui- Sebamban- Pagatan – Batulicin. Di Batulicin perjalanan Taxy berhenti. Kami harus menyeberang dari dermaga di Batulicin menuju ke Kotabaru Pulau Laut yang ada di seberang sana.
Perjalanan dari Banajrmasin ke Batulicin tadi ditempuh beberapa jam. Dari pukul 11.00 siang sampai di
Batulicin sekitar jam 19.00 sore. Dengan jarak kurang lebih 269 km. Transit untuk makan siang sekitar
pukul 14.00 di salah satu rumah makan di daerah Sungai Danau. Di daerah Sebamban ada penumpang
yang menghentikan taxy untuk ikut sampai di Batulicin. Sopir meminta persetujuan kepada Rm. Marto
apakah penumpang itu boleh ikut? Jika boleh maka biaya taxy sebesar 16.000 akan diserahkan ke Rm.
Marto. Karena Rm. Sudah mencarter Taxy itu untuk 3 orang sebesar 150.000 dari Banjarmasin ke
Batulicin. Rm. Marto mempersilahkan kepada sopir untuk membawanya. Bukan karena motif
keuangannya tetapi karena merasa kasihan kepada calon penumpang itu karena kendaraan umum di
daerah itu pada waktu itu masih sangat jarang.


Setelah turun di pinggir jalan pangkalan taxy di dekat pelabuhan Batulicin kami jalan kaki menuju
dermaga lewat jalan geladak kayu ulin sepanjang 1700 meter. Pelabuhan Batulicin cukup besar, karena
saat itu menjadi persinggahan Kapal Penumpang antar pulau dari Indonesia Timur seperti kapal
Kelimutu yang melayani penumpang dari Kupang- Makasar- Batulicin – Surabaya – Semarang sampai
Tanjung Priok Jakarta, dan bongkar muat kapal angkut barang tambang batubara, pupuk dan logistik.
Air laut di dasar pelabuhan ini jernih jika dilihat pada siang hari, banyak ikan lele berwarna belang putih
hitam dan ikan seperti wader pari yang berenang riang di bawah kolom tiang kayu ulin penyangga
geladak dermaga yang menempel pada permukaan kayunya kerang-kerang laut membentuk beton yang
berat dan kokoh. Di sekitar tepi pantainya ada banyak pohon bakau dan banyak kera bekantan yang
tidak takut pada keramaian manusia yang lalu lalang di Pelabuhan.


Ada dua pilihan angkutan kapal jika ingin menuju ke Kotabaru. Dengan speed boat atau dengan kelotok.
Pelabuhan kapal Ferry – seperti sekarang ini- belum ada. Dengan speed boat memuat 5 orang dengan
jarak waktu tempuh sekitar 1 jam. Sedang dengan kelotok menunggu penumpang penuh jarak tempuh 3 jam. Harga tiket speed boad 50.000 sedangkan tiket klotok 30.000,- Jika speedboad diberi tambahan
muatan motor harga tiket @ 50.000 sama dengan penumpangnya, hanya dapat memuat motor
maksimal 2 buah. Rm. Marto Setyoko memilih dengan speed boat.


Ini pengalaman pertama saya juga naik kapal speed boad menyeberangi selat Laut. Saat berangkat
menyusuri pinggir Pantai sebelah kiri dekat pulau Kalimantan. Mendekati Kota Setagen di sebelah
kanan, yang terletak di Pulau Laut dia menyeberang memotong lebar selat Laut ke arah kota itu lalu
menyusuri sebelah kanan pinggir Pantai dari Pulau Laut yang sangat banyak pohon bakaunya. Jika air
laut surut akar-akar pohon bakau tampak gagah timbul di permukaannya seperti kaki-kaki burung laut
yang banyak bertengger di sana. Di bawah akar-akar yang mencengkeram lumpur laut itu tampaknya
banyak ikan bersarang. Maka banyak juga burung putih – burung layang-layang- pemakan ikan yang
seperti kuntul itu tidak jauh-jauh bersarang di sana juga. Dekat dengan sumber makanannya.


Perjalanan melalui laut dengan speed boad ini juga berkesan. Saya melihat arah belakang speed boad
yang meninggalkan Pelabuhan Batulicin. Lampu-lampu pelabuhan tampak bercahaya, makin redup saat
speed makin menjauh dari Pelabuhan. Hanya ombak putih akibat baling-baling speed boad seolah
menimbulkan jalur berbentuk panah dan buih putih dalam gelap yang ditinggalkan oleh jejaknya. Di
langit biru cerah bintang-bintang bercahaya dan terasa sangat teduh, meskipun bunyi suara mesin speed
boad yang dominan mengisi perjalanan dan gerak seperti melewati jalan yang bergelombang karena
perut speedboad membelah gelombang akibat berpapasan dengan speedboad lain yang berlawanan arah dengan keberangkatan kami ke Kotabaru. Pengalaman ini tidak menimbulkan rasa ngeri seperti
perjalanan di Tengah Sungai Barito dengan melihat sepasang Cahaya berwarna putih kebiruan – mata
seekor buaya muara. Di laut rasanya lebih nyaman dan sejuk karena angin kencang dari kecepatan
speedboad 40-50km/jam menerpa tubuh penumpangnya. Para penumpang dibekali dengan pelampung
pengamannya jika terjadi sesuatu.


Saat sampai di Pelabuhan Kotabaru berbondong-bondong perahu tambangan (perahu jukung)
mendekati speed boad atau perahu klotok yang sedang datang untuk menawarkan jasa pengangkatan
barang para penumpang termasuk motor yang dimuat menuju tangga Pelabuhan Kotabaru yang cukup
tinggi jaraknya dari permukaan laut. Dari Pelabuhan Kotabaru, kami naik becak dan barang- barang dari
Banjarmasin dibawakan oleh porter dari pelabuhan ke rumah pastoran dengan gerobak dorong yang
berjarak kurang lebih 2 km di Jl. Singabana 94 Kotabaru Pulau Laut Kalsel.


Para pekerja sektor informal, penarik becak banyak diantaranya orang Jawa Transmigran yang tidak
tahan di tanah pertaniannya. Pergi ke kota menjadi buruh seperti ini. Tadi perahu tambangan,
kebanyakan orang-orang suku Banjar atau Bugis yang habitatnya memang di pinggir laut menjadi
nelayan atau buruh pelabuhan.


Sampai di pastoran kami beritirahat untuk menyongsong tugas yang harus dikerjakan sebagai Toper di
Tahun ke dua di tanah misi Kotabaru Kalimantan Selatan yang terkenal dengan lagu daerahnya yang
menjadi milik khas Provinsi Kalimantan Selatan. Kotabaru Gunungnya Bamega (Paris Berantai). Dua bait
terakhir syair seperti ini:


Kacilangan lampulah di kapal
di kapal anak walanda main kumidi
anak walanda main kumidi
anak walanda main kumidi

Kasiangan guringlah sabantal
sabantal tangan ka dada, hidung ka pipi.
tangan ka dada, hidung ka pipi
tangan ka dada, hidung ka pipi


Selama tinggal di dalam kota ini, saya dan Romo Marto Setyoko hanya berdua saja di komunitas
pastoran. Ada satu orang yang melayani bersih-bersih pastoran dan mencuci baju dan peralatan gereja.
Dia sekaligus melayani sekolah Suster-suster SPM yang mengelola Sekolah SD dan TK di lokasi terpisah
tetapi tidak berjauhan. Komunitas Suster terdiri dari 4 orang Suster SPM. Satu suster melayani
administrasi sekolah dan berpastoral di paroki serta mengajar agama. Satu suster melayani rumah
tangga komunitas Susteran. Satu kepala Sekolah SD satu lagi Kepala Sekolah TK. Jika kami sedang berada
di dalam kota, jika makan siang dan makan malam kami berdua bergabung di komunitas para Suster.
Kami memiliki komunikasi yang baik dengan pemerintah daerah. Kadang kala kami diundang untuk hadir
dalam acara resmi pemerintahan dan kami hadir dengan mengenakan pakaian resmi rohaniwan. Jubah
suster dan jubah pastor/frater. Saat kami mengikuti upacara bendera merayakan hari Kemerdekaan
pada tanggal 17 Agustus di halaman kantor bupati Kotabaru. Juga saat Menteri Pendidikan Fuad Hasan
(Kabinet Pembangunan V: 1988-1993) hadir di Kabupaten Kotabaru dan meresmikan masjid Agung di
Kabupaten, Kami para : romo, frater dan suster-suster hadir mengikuti upacara peresmian di halaman
masjid agung dengan mengenakan jubah resmi rohaniwan-rohaniwati. Saya masih ingat sambutannya,
bahwa tempat ibadah yang namanya masjid itu fungsinya juga menjadi tempat pendidikan. Bukan hanya
untuk berdoa saja. Maka baik juga jika di tempat ibadah ini disediakan perpustakaan untuk
mengembangkan ilmu umat khususnya orang muda yang mau belajar juga secara mandiri di tempat itu.
Ada pegawai Pemda beragama Katolik yang diangkat menjadi camat di daerah Karang Bintang, yang
letaknya ada di daratan Pulau Kalimantan. Di daerah ini masih termasuk wilayah pedalaman yang
terisolir. Hanya sekali sebelum saya kembali ke Yogya daerah ini saya kunjungi. Romo Marto seingat saya
selama saya berada di Kotabaru belum pernah berkunjung ke sini. Daerah ini pada masa jayanya
menjadi lokasi Perusahaan kayu dari Filipina. Pal Goson. Saya bertemu hanya dengan 2 orang Katolik
yang tinggal di sana. Perusahaan kayu itu sudah gulung tikar. Tidak ada lagi di sana. Jalan-jalan yang dulu
pernah digunakan untuk truk-truk angkitan kayu sudah Kembali ditumbuhi Semak belukar dan menjadi
hutan Kembali. Sisa-sisa kejayaannya Sebagian masih tertinggal di Kotabaru, istri dan anak-anak hasil
kawin kotrak dengan orang-orang Katolik asli filipina yang ditinggalkan di sana, karena Perusahaan itu
sudah bubar dan karena nikahnya nikah kontrak, sesudah mereka Kembali ke Filipina tinggalah janda-
janda dan anak-anak yang cantik berjuang sendiri-sendiri di Kotabaru. Suami-suami telah Kembali ke
Filipina kepada istri dan keluarganya yang sah. Di tempat ini saya baru mendengar pertama kali ada
kawin kontrak. Menjadi keluarga dan punya anak-anak dalam batas waktu tertentu saja. Saya kadang
merasa sedih melihat anak-anak yang cantik yang yang diitnggalkan ayahnya dan beberapa diantaranya
menjadi murid SMA/ SMP yang saya ajar di Kotabaru ini.


Daerah itu memang bukan daerah yang strategis untuk pengembangan ekonomi sesudah Perusahaan
yang semula ada di situ tinggal bekas-bekasnya saja. Ada satu rongsokan pesawat yang ditinggalkan
perusahaan itu yang menjadi saksi sejarah di sana. Rongsokan pesawat jenis Foker 28 itu menjadi tempat
bermainnya kambing-kambing yang tidak digembalakan pemiliknya yang ada di situ. Di dekat lingkungan
itu saya juga menemukan bekas bangunan puskesmas yang sudah tidak terawat. Pintu dan atapnya juga
sudah tidak ada. Menjadi rumah kambing untuk beristirahat di dalamnya setelah memakan daun
daunan dari Semak belukar yang ada di sekitar tempat itu. Keluarga asli dari Yogya itu berasal dari
Gadingan paroki Banteng. Lulusan SPG Pakem, tetapi selalu gagal untuk mendaftar jadi guru SD Negeri, di Kota berulang kali. Di Karang Bintang dia tinggal dengan keluarga kakaknya dan hidup sebagai
peternak. Mempunyai beberapa ekor sapi dan juga kambing-kambing yang saya lihat berkeliaran di
bekas pabrik kayu dan bermain-main di bekas bangunan puskesmas itu kemungkinan kambing miliknya.


Bapak Camat yang beragama Katolik – pegawai pemda itu, tampaknya juga tidak pernah datang di
tempat ini, tempat dia ditunjuk sebagai seorang camat. Karena selama setahun saya berada di Kotabaru
ia selalu ada di tempat nyaman di dalam kota. Ibukota dari Kabupaten ini. Saat saya meninggalkan
tempat itu, umat tadi memberikan uang APP yang sudah dia tahan selama setahun karena belum ada
kunjungan dari romo. Dari uang itu saya diselamatkan Tuhan, karena motor trail yang saya kendarai
rusak dalam perjalanan dan sudah mendekati kota Batulicin. Busi yang tidak berfungsi itu atas saran
teman katekis yang menemani perjalanan saya di pecah dan disambungkan lagi dengan mesin sehingga
dapat berjalan lagi sampai di bengkel yang ada di Batulicin itu. Uang APP tadi bisa digunakan untuk
membayar biaya servis motor itu dan membeli busi yang baru. Itulah keuntungan saya berjalan bersama
seseorang yang memiliki pengalaman lebih dalam mengatasi persoalan di daerah terpencil. Saya tidak
dapat membayangkan jika saya harus melakukan perjalanan seorang diri dengan uang saku yang
terbatas dan di daerah yang sekitarnya hanya pohon yang sunyi dan jalan berdebu. Tidak ada orang yang
bisa dimintai pertolongan kecuali sudah berada di dalam kota yang banyak penduduknya dan ada toko
atau tempat servis kendararaan yang diperlukan.


Apa yang saya petik dari berbagai pengalaman yang saya ceritakan di atas? Saya merasa pengalaman-
pengalaman itu indah dikenang. Sekarang saya jadi lebih mampu melihat benang merah bagaimana
Tuhan melindungi saya, mendampingi saya, dalam berbagai peristiwa. Baik peristiwa yang biasa-biasa
saja. Tetapi juga peristiwa sulit yang ditemukan, dalam kekuatiran, dalam kesedihan melihat nasib orang
lain yang kehilangan sosok orang yang mestinya menjadi pelindung dan tempat untuk mencurahkan
duka cita dan kegembiraannya. Tetapi sosok itu sudah tidak bersama-sama dengannya. Saya bersyukur
dalam berbagai peristiwa hidup yang saya alami – Tuhan selalu memberikan hal-hal terbaik bagi hidup
saya. Meskipun saya juga menemukan kegagalan. Tetapi kegagalan itu ternyata mengarahkan hidup
saya untuk selalu merasakan dan menemukan juga kebahagiaan. Kegembiran. Rahmat. Yang tidak
pernah putus. Dalam sosok orang yang terus jatuh bangun dalam kegagalanpun saya melihat – Tuhan
memampukan orang itu terus tetap memiliki harapan.

Jakarta, 6 November 2025
Ansgarius Hari 45 Wijaya

admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *