Memilih untuk Mengasihi dan Mempersatukan

Memilih untuk Mengasihi dan Mempersatukan

Renungan Harian, Rabu, 12 November 2025

Oleh M. Unggul Prabowo

Bacaan Liturgi Lukas 17, 11-19

Para sedulur terkasih,

Hari ini kita memperingati Santo Yosafat Kunsevyc, seorang Uskup dan Martir dari Ukraina. Santo Yosafat Kunsevyc dikenal sebagai rasul persatuan Gereja, seorang gembala yang berani menyalakan obor kasih di tengah perpecahan. Dalam hidupnya, ia meneladankan kasih Kristus yang mempersatukan, bukan memisahkan. Yosafat sadar bahwa hanya dengan kerendah-hatian, kesetiaan pada Injil, dan kasih tanpa batas, umat Allah dapat bersatu sebagai satu tubuh Kristus. Upayanya untuk merangkul semua golongan Kristen di Ukraina membuahkan banyak buah rohani, namun juga menimbulkan kebencian dari sebagian orang yang tidak mau berdamai. Pada akhirnya, ia menutup hidupnya sebagai martir,  bukan karena membenci lawannya, tetapi karena ia memilih untuk tetap mengasihi.

Injil hari ini Lukas 17:11–19 menampilkan sepuluh orang kusta yang disembuhkan Yesus, tetapi hanya satu, seorang Samaria, orang asing, yang kembali untuk bersyukur dan memuliakan Allah. Kisah ini mengajarkan bahwa rahmat Allah diberikan kepada semua orang, tetapi hanya mereka yang memiliki hati penuh syukur dan iman yang mengalami keselamatan sejati.

Sikap orang Samaria itu mencerminkan sikap Santo Yosafat: ia tidak hanya menerima kasih Allah, tetapi juga kembali kepada-Nya melalui pelayanan kasih dan kesetiaan terhadap Gereja.

Yesus menegur, “Tidakkah ada yang kembali memuliakan Allah selain orang asing ini?” Kalimat ini menjadi cermin bagi kita. Apakah kita masih mampu melihat rahmat Allah di tengah luka perpecahan, di antara mereka yang berbeda dengan kita?

Santo Yosafat mengingatkan bahwa iman sejati selalu menumbuhkan syukur dan membuka jalan persaudaraan. Persatuan tidak lahir dari keseragaman, melainkan dari hati yang mengakui: “Kita semua telah disembuhkan oleh kasih yang sama.”

Hari ini, kita diajak meneladani Santo Yosafat untuk menjadi pembawa damai, bukan penghasut perpecahan. Dalam keluarga, komunitas, atau Gereja, semoga kita menjadi pribadi yang mampu bersyukur atas karya Allah dan membawa kasih yang menyatukan. Karena di mata Kristus, yang menyembuhkan dan menyelamatkan bukanlah status atau asal-usul kita, melainkan iman yang disertai kasih dan syukur.

Doa:  Tuhan Yesus, Engkau telah menyembuhkan kami dari dosa dan perpecahan. Tanamkanlah dalam hati kami semangat syukur dan persatuan seperti yang hidup dalam diri Santo Yosafat. Jadikan kami alat damai-Mu, yang memuliakan nama-Mu dalam kasih kepada semua orang. Amin.

M. Unggul Prabowo

Orang biasa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *