Ngelmu Iku, Kalakone Kanthi Laku

Ngelmu Iku, Kalakone Kanthi Laku

Renungan Harian
Selasa, 11 November 2025
Peringatan Wajib St. Martinus dari Tours, Uskup

Oleh Yohanes Haryanto

Injil: Lukas 17:7-10

“Demikian jugalah kamu. Apabila kamu telah melakukan segala sesuatu yang ditugaskan kepadamu, hendaklah kamu berkata: kami adalah hamba-hamba yang tidak berguna; kami hanya melakukan apa yang kami harus lakukan. “(Luk.17:10)

Bapak, Ibu, Saudara/i terkasih dalam Kristus, Berkah Dalem, Tuhan memberkati kita semua !

Dalam upaya memahami maksud dan menangkap pesan Injil hari ini -Lukas 17:7-10- ingatan saya lari ke salah satu bagian dari Serat Wulangreh Sri Susuhunan Pakubuwono IV, Raja Keraton Kasunanan Surakarta (1788-1820). Ajaran untuk mencapai hidup luhur mulia (Wulangreh) yg saya maksudkan adalah bait Sekar Pocung ini:

Ngelmu iku
Kalakone kanthi laku,
Lekase lawan kas,

Tegese kas nyantosani,
Setya budya

Pangekese dur angkara.

Makna dari bait Sekar Macapat Pocung tsb. kurang-lebih demikian:
Pengertian tentang hidup luhur itu dikuasai dengan jalan ditempuh, dijalani secara aktif, dilakukan, berproses berjuang mewujudkannya;
diawali dengan kemauan, niat dan tekad yang kuat;
Hal itu akan meneguhkan/menguatkan dalam menghadapi hambatan, tantangan, ancaman dan gangguan;
Sikap setia dan ketulusan dalam berjerih-payah bakal mampu mengatasi /mengalahkan nafsu dan perbuatan jahat dan tercela.

Saya sebagai orang Katholik tentu memahami “wulangreh” itu dari kacamata iman Katholik. Bacaan Injil hari ini – Lukas 17: 7-10 – maksud dan pesannya dapat kita tangkap dengan baik dalam dialog budaya dg sekar Pocung “wulangreh” itu. Sebelum hal itu kita lakukan, kita upayakan pemahaman akan maksudnya terlebih dahulu.

Konteks Lukas 17:7-10

  1. “Tidak mungkin tidak akan ada penyesatan… ” Tuhan Yesus menyadarkan para muridNya untuk bersikap realistis dan waspada. Dalam beriman ada tantangan “penyesatan”
    Itulah kenyataannya. Tetapi celakalah orang yang mengadakannya ! Celakalah orang yang menyesatkan orang lain ! (ayat 1-2).
  2. “Jagalah dirimu” Sabda Tuhan.

Kita perlu waspada, perlu melindungi diri agar tidak terbawa arus “penyesatan”, jangan sampai tersesat, apalagi menyesatkan. (ayat 3a)

  1. Tidaklah cukup bila kita memikirkan diri sendiri. Kita perlu juga memikirkan keselamatan sesama. Akan ada sesama yang tersesat. Untuk itu perlulah pelayanan iman agar mereka yg tersesat sadar, menyesal dan bertobat. Hal ini perlu dilakukan tanpa bosan, bersabar dan berbesar hati sedia memaklumi dan mengampuni (ayat 3b-4).
  2. Agar mampu mengemban tugas pelayanan iman ini, para muridNya memohon kpd Tuhan Yesus:”Tambahkanlah iman kami”.

Tanggapan Tuhan Yesus :

  1. Iman bertambah itu tentu tidak dalam arti makin bisa mengandalkan kehebatan (kesaktian)-ku sendiri untuk mampu berbuat hal-hal spektakuler agar dikagumi banyak orang (ayat 6) .
  2. Iman bertambah itu berarti semakin sedia menjadi hamba yang dengan setia menjalankan tugas dari tuannya, mendahulukan pelayanan kpd tuannya, tidak mengharap ucapan terima kasih, dan bersikap rendah hati: ” Kami adalah hamba-hamba yg tidak berguna, kami hanya melakukan apa yang kami harus lakukan” (ayat 7-10)

Bertambah beriman berarti semakin dekat mengikuti Yesus, semakin meneladaniNya: taat dan setia menjalani kehendak Bapa.

Bertambah beriman bukan pertama-tama berarti moncer di mata banyak orang, tetapi kian sedia menjalani hidup sebagai hamba Tuhan.

Kembali ke “wulangreh” :
Ngelmu iku
Kalakone kanthi laku

pesan Tuhan hari ini dapat terwujud bila kita sedia berjerih-payah menjalaninya.

Tentu dengan mengandalkan rahmat pertolonganNya.

Doa

Ya Tuhan,
Ajar dan tolong kami setia melaksanakan kehendakMu, dan bersikap rendah hati.
Amin.

admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *