Bullying, atau Perundungan, Daya Tahan dan Kemampuan
Belajar dari Pengalaman
Konon, “bom” yang meledak di sebuah SMA Negeri di Jakarta beberapa waktu lalu diduga dilakukan oleh anak yang menjadi korban perundungan. Karena menjadi korban perundungan, diduga anak ini meledakkan bom untuk melukai teman-temannya, termasuk dirinya. Ini masih dugaan, dan juga bukan hal itu yang mau dikupas.
Menarik bicara mengenai bully, risak, atau perundungan. Bagaimanapun hal ini terjadi di mana-mana. Rumah, sekolah, lingkungan bermasyarakat, apalagi media sosial. Lihat saja bagaimana cara berinteraksi di media sosial. Caci maki, hujatan, seolah tidak berpendidikan. Itu juga termasuk bullying, perundungan. Terutama saat bicara agama atau politik.
Memberantas Perundungan, Sebuah Utopia.
Bagaimana mau menghentikan atau mengupayakan sama sekali tidak ada perundungan. Padahal dalam hidup ini, siapa sih yang mampu mengendalikan orang lain? Jauh lebih pas, tepat, dan relative lebih gampang Adalah menyiapkan mental anak-anak untuk mampu menghadapi perundungan dengan jiwa atau mental yang kuat.
Menyiapkan pribadi-pribadi bermental baja. Bagaimana caranya?
Berpikir positif. Anak dididik bahwa dia berharga, mampu menghadapi semuanya dengan baik, orang tua yang penuh kasih sayang akan membuat anak memiliki sikap batin positif. Hal ini harus dibiasakan, dibina sejak dini.
Sikap tanggung jawab. Pribadi yang bertanggung jawab akan berani menghadapi perundungan dengan sikap dewasa, bijaksana, dan positif. Anak layak dididik untuk memiliki tanggung jawab sejak dini. Sesuai dengan umur dan kemampuan, terus menerus dan akan berkembang dengan semestinya.
Berikan penghargaan sepantasnya. Memberikan pujian dan penghargaan dengan bijaksana. Pas, tidak berlebihan ataupun kurang. Dengan demikian anak berarti, bukan menjadi sombong dan sebaliknya, memiliki harga diri rendah, jika kurang penghargaan. Sering kita dididik untuk rendah hati, namun malah menjadi rendah diri. Beda jauh dan bisa sangat buruk akibatnya.
Komunikasi yang baik dalam keluarga. Anak yang hidup dalam keluarga harmonis, banyak terjadi komunikasi, tidak sibuk masing-masing dengan HP akan memiliki keterbukaan, sikap mental yang kuat, dan mampu melindungi diri dari perundungan. Faktor keluarga menjadi penting.
Kebebasan yang bertanggung jawab. Anak yang diberi kebebasan secara bertanggung jawab memiliki sikap mental yang lebih baik, tidak akan menjadi pembully pun tidak akan menerima pembullyan dengan begitu saja. Memiliki kepribadian yang lebih sehat, karena tidak mau menguasai ataupun dikuasai. Perundungan biasanya mau menempatkan diri lebih dan korbannya ada pada posisi yang kurang.
Perundungan akan selalu ada, namun jika anak memiliki mental yang kuat dan sehat, bisa diyakini dampaknya tidak sangat buruk. Anggap sebagai lelucon, semua akan menjadi cair. Memang tidak akan semua mampu, namun paling tidak lebih rasional dari pada memaksakan diri untuk meniadakan perundungan.
Salam JMJ
Susy Haryawan

