Empat Tahun di Biara, Tujuh Puluh Satu Tahun di Jalan Kasih
Oleh: Yohanes Haryanto dan FA Adihendro
Ia tidak pergi dengan pintu yang dibanting, tidak dengan surat pengunduran diri yang penuh kekecewaan, apalagi dengan dendam yang terselubung doa. Ia pergi seperti orang yang pamit pulang, karena sadar, rumah yang sedang dibangun ternyata bukan untuknya. Diantar oleh rektor, didoakan oleh para saudara, dan dilepas dengan pelukan yang tulus: “Jalanmu mungkin berbeda, tapi semangat kita tetap satu.”
Empat tahun di dalam tembok biara MSF bukanlah kegagalan baginya, melainkan musim tanam yang sunyi, tempat benih-benih kebaikan disemai oleh tangan-tangan yang tak pernah memaksa, hanya menanam, merawat, lalu mempercayai tanah kehidupan untuk menuntaskan tumbuhnya.
“Saya Mundur Baik-Baik”, Ketika Kejujuran Diri adalah Bentuk Kesetiaan Tertinggi
Yohanes Haryanto (kini 71 tahun), rambutnya sudah perak, tapi matanya masih berbinar seperti frater muda yang baru belajar berdoa, tidak menyebut masa lalunya di Misionaris Santo Keluarga (MSF) dengan nada getir atau romantisme palsu. Ia berkata jujur, tenang, tanpa beban: “Saya mundur menjelang TOP, karena sadar tak memenuhi syarat.”

Tidak ada drama. Tidak ada krisis iman yang meledak di malam sunyi. Hanya sebuah pengenalan diri yang jujur, sebuah keberanian yang justru jarang dimiliki: berhenti bukan karena menyerah, tapi karena menghormati panggilan yang sebenarnya.
Dan yang luar biasa? MSF (lewat Rm Rektor, Rm Byakto, dan kawan-kawan) mengizinkan kepergiannya dengan martabat alias kepala tegak. Tidak ada cap “gagal”, tidak ada diskualifikasi rohani. Yang ada adalah pengantaran pulang, bukan pengusiran.
Dalam dunia yang kerap mengukur kesuksesan dari lamanya seseorang bertahan, sikap ini adalah revolusi kecil: kesetiaan bukan soal bertahan di institusi, tapi soal tetap setia pada kebenaran batin, dan institusi yang dewasa adalah yang menghormati keputusan itu.
“Tidak ada sakit hati,” katanya. “Relasi kasih berlanjut, karena ada kesediaan saling memahami dan saling menghargai.”
Kalimat sederhana itu adalah manifesto kecil tentang apa artinya keluarga rohani yang sesungguhnya: bukan ikatan yang memaksa, tapi ikatan yang membebaskan.
Para Penabur yang Tak Pernah Tahu di Tanah Mana Benihnya Tumbuh
Yohanes tidak mengklaim dirinya “orang MSF”. Tapi dengan rendah hati, ia menyebut nama-nama yang, baginya, adalah tangan-tangan tak kasatmata yang membentuk jiwanya: Rm Wim yang sabar, Rm Wignya yang humoris tapi tajam, Rm Adi yang penuh kasih, Rm Veuger yang disiplin tanpa keras, Rm Purnama yang lembut seperti angin senja dan Rm Sing.
Ia tidak mengatakan, “Mereka mengajarkanku menjadi imam.”
Ia berkata: “Mereka andil membentuk kecenderungan saya menjadi orang baik.”
Inilah keindahan pendidikan rohani yang autentik: bukan mencetak klon, tapi membangkitkan kemampuan memilih kebaikan, di mana pun, dalam peran apa pun.
Dan di situlah kejujuran Yohanes yang menyudahi pelayanannya sebagai pembentuk katekis muda di Program Studi Pendidikan Keagamaan Katolik (Pendikkat), FKIP, USD Yogyakarta itu bersinar lagi: “Tanpa mengurangi hormat saya kepada MSF, di luar MSF saya juga bertemu dengan banyak orang baik.”
Ia tidak menjadikan MSF sebagai satu-satunya sumber kebaikan dan justru karena itu, penghormatannya pada MSF jadi murni, bukan fanatik. Ia tahu: kasih tidak eksklusif. Ia mengalir dari biara ke desa, dari gereja ke pasar, dari kenangan ke keseharian.
Tujuh puluh satu tahun hidupnya adalah bukti: kebaikan yang ditanam di biara, tidak harus berbuah di biara. Ia bisa berbuah di ruang guru, di meja makan keluarga, di antara tetangga yang butuh bantuan di mana pun ada manusia yang ingin hidup dengan hati yang utuh.
Romo Sing dan Keluarganya: Ketika “Menjiwai MSF” Berarti Menjadi Rumah bagi Sesama
Di antara semua nama yang disebut Yohanes, Romo Albertus Magnus Tan Tian Sing atau yang akrab dipanggil Romo Sing mendapat tempat khusus dalam ingatan kolektif para mantan frater. Bukan karena kehebatannya sebagai pemimpin (meski ia pernah jadi Provinsial dan Asisten IV Jenderal di Roma), tapi karena caranya menjadi manusia.
Sementara itu Adi Hendro, seorang yang mengenal Romo Sing sejak masa frater di tahun 1970-an, bercerita dengan hangat: “Semangat dan jiwanya sangat menghayati MSF banget.”
Tapi yang paling menyentuh bukan pada khotbah atau disiplinnya, melainkan pada keramahan keluarganya.
Ketika Romo Sing masih frater (bahkan setelah ditahbiskan) keluarganya di Semarang adalah pos pemberhentian wajib bagi para frater yang rindu suasana rumah. Mereka diajak main. Diajak makan. Diajak duduk di teras, minum kopi, berbincang tentang hal-hal kecil: cuaca, sepak bola, kenangan masa kecil.
“Ini menunjukkan bahwa Romo Sing dan keluarganya sangat menjiwai semangat Keluarga Kudus Nazaret,” kata Adi.
Dan inilah inti spiritualitas MSF yang sering terlupa: bukan tentang kesucian yang mengambang di awan, tapi tentang kekudusan yang menanak nasi, menyapu halaman, dan tertawa bersama tamu tak terduga.
Keluarga Romo Sing bukan sekadar latar belakang, mereka adalah bagian dari misi. Mereka membuktikan bahwa biara tidak harus berdinding tinggi, ia bisa berupa dapur yang hangat, meja makan yang penuh, dan pelukan yang tak pernah menanyakan: “Sudah sejauh mana kau di jalan ini?”
“Bukan Seorang MSF”, Tapi Seorang yang Menjadi MSF dalam Cara Sendiri
Yohanes menutup refleksinya dengan kalimat yang sederhana, tapi menggema lama: “Saya bukan seorang MSF, bersyukur pernah 4 tahun dididik MSF, dan merasakan panggilan menjadi orang baik bersama dan demi makin banyak orang.”
Ini bukan penyangkalan. Ini pengakuan yang matang. Ia tidak mengklaim identitas MSF, tapi ia menghidupi rohnya: Kesediaan mendengar seperti Rm Wim yang tak pernah memotong perkataan frater. Keberanian jujur pada diri sendiri seperti keputusannya mundur dengan damai. Kerelaan menjadi rumah bagi sesama seperti keluarga Romo Sing yang membuka pintu tanpa syarat.
Dan di usia 71 tahun, ketika banyak orang sibuk membangun warisan, Yohanes masih bertanya:
“Bagaimana caraku hari ini menjadi sedikit lebih baik bukan untuk diriku, tapi demi makin banyak orang?”
Itulah misi sejati. Bukan diukur dari jubah yang dikenakan, tapi dari berapa banyak tangan yang kau ulurkan tanpa memedulikan apakah mereka datang dari biara, kampung, atau bahkan dari jalan yang pernah kau tinggalkan.
Empat Tahun yang Tak Pernah Berakhir
Empat tahun di MSF bukanlah bab yang ditutup dengan titik. Ia adalah koma, jeda sejenak, sebelum kisah yang lebih luas dimulai.
Seperti benih yang ditanam di tanah subur lalu dibawa angin ke ladang lain, kebaikan yang disemai di biara tidak pernah mati, ia hanya berpindah bentuk.
Yohanes tidak menjadi imam. Tapi hari ini, di antara cucu-cucunya yang sedang belajar membaca, di antara tetangga yang ia antar ke puskesmas, di antara kenangan yang ia bagi tanpa kepahitan,
ia adalah bukti hidup: bahwa MSF tidak hanya mencetak misionaris, tapi menumbuhkan manusia, yang, di mana pun berada, tetap membawa semangat Keluarga Kudus: kasih yang tak bersyarat, kerja yang rendah hati, dan doa yang diam-diam mengalir dalam setiap tindakan baik.
Dan mungkin, di suatu sore di Semarang, Romo Sing sedang duduk di teras rumahnya lalu tiba-tiba tersenyum, mengingat seorang frater muda yang pergi dengan tenang, dan kini (tanpa jubah, tanpa gelar) masih setia menanam kebaikan, satu hari pada satu waktu.
Karena pada akhirnya, bukan seberapa lama kau tinggal di biara, tapi seberapa dalam kasih itu tinggal di dalammu. (diramu oleh Alfred dari WAG)

