Ecce Homo (Lihatlah Manusia Itu)
Oleh: Andre Sumariyatmo
Berita wafatnya Romo Albertus Magnus Tan Thian Sing, MSF pada hari Kamis, 4 Desember 2025, disambut dan ditanggapi oleh para sedulur Paguyuban Brayat Minulya Nusantara (PBMN) dengan banyak doa dan kesaksian spontan. Mereka mengenang kehidupan, pelayanan, dan bimbingan Romo Sing kepada para calon anggota Kongregasi MSF. Narasi yang mengalir dari kejujuran mereka mengungkap betapa dalamnya kesan yang ditinggalkan almarhum.
Bagi saya pribadi, respons ini terasa unik dan spesial. Tidak semua romo atau bruder MSF yang telah berpulang mendapat pengakuan serupa, meski mereka juga setia mengakhiri pertandingan iman sebagai religius. Kesaksian spontan ini menunjukkan keistimewaan Romo Sing yang masih menancap di lubuk hati para bramin, mereka yang pernah dididik, digembleng, diasuh, atau hidup bersamanya di “kawah candradimuka” Biara Novisiat Betlehem dan Biara Nazareth Banteng.
Saya memilih judul Ecce Homo (“Lihatlah Manusia Ini”) untuk menggambarkan bagaimana saya, sebagai awam, dapat melihat, merasakan, dan belajar dari sosok seorang romo. Pengalaman mendampingi katekumen seringkali dimudahkan ketika saya menunjukkan wajah Yesus yang penuh kasih melalui teladan hidup para imam. Kesaksian hidup romo yang sederhana dan rendah hati menjadi daya tarik kuat bagi para calon Katolik untuk terus bertumbuh dalam iman.
Dalam pribadi Romo Sing, saya menemukan gambaran nyata seorang romo MSF: setia, ramah, bersahabat, ringan tangan, sabar, penuh persaudaraan, dan tekun dalam doa serta meditasi. Kesetiaannya pada panggilan imamat dan hati yang suci, karena relasi dekatnya dengan Kristus, menjadikan Injil hidup dan konkret dalam kesehariannya. Ecce Homo: lihatlah Romo Sing, sosok yang memancarkan Kristus dalam setiap tindakannya!
Empat puluh lima tahun lalu, ketika saya tinggal di Biara Nazareth, saya menyaksikan sendiri bagaimana Romo Sing mempersembahkan Misa “in nomine Christi” dengan khusyuk, tanpa terburu-buru. Kehadiran Yesus terasa nyata, membawa damai dan sukacita bagi umat. Penampilannya yang lembut, asketis (tidak suka berlebihan dalam berpakaian dan kuliner), murah senyum, serta wajah bening sering menjadi bahan perbincangan para frater: “Beliau layak disebut santo.” Ya, Santo Tan Thian Sing.
Kini, harapan itu masih menggelora dalam hati saya. Semoga Tuhan mengabulkan doa umat melalui perantaraan Romo Sing, dan mukjizat yang terjadi kelak menjadi tanda kekudusannya. Jika memang demikian, mungkin suatu hari makamnya akan dibuka untuk membuktikan keutuhan jasadnya, seperti tradisi pengakuan santo-santa. Selamat jalan, Romo Sing. Nikmatilah kebahagiaan abadi di Rumah Bapa, dan doakan kami, warga PBMN, agar diberi keteguhan iman, kesehatan, serta kedamaian hati. Amin. Tuhan memberkati.
Pejompongan, 9 Desember 2025

