SERIAL DIUBAH DAN MENGUBAH DIRI
Oleh St. Kartono
Pernyataan: Artikel ringkas berupa serial (bersambung-sambung) ini sebagai ungkapan syukur yang menghadirkan catatan pengalaman perubahan diri, karena penulis meyakini sejatinya tiap pribadi “dilahirkan baik adanya”. Oleh sebab itu, diri sendiri, pergaulan, sekolah, lingkungan, dan keluarga punya kontribusi menjaga setiap pribadi agar baik adanya bagi sesama.
#01 – Memilih Baju dan Celana
Sekali peristiwa, seorang kolega di sekolah menyapaku di lorong depan kelas, “Mesti istrimu pergi!” Padahal saya tidak bercerita telah beberapa hari istri menunggui ibu yang sakit di Solo. “Itu, baju dan celanamu warnanya nabrak, nggak serasi,” lanjutnya. Lembaga tempat saya mengajar memang tak mengharuskan seragam dinas atau pakaian tertentu, semuanya manasuka memantas diri di depan murid.
Kebiasaan setelah menikah, istri hampir selalu menyiapkan baju dan celana yang mesti saya pakai mengajar. Terkonfirmasi setelah “protes” kolega, istri menyebut, “Sebelum menikah, aku tahu pakaianmu tidak peduli warna dan tidak enak dipandang – setelah nikah, mesti aku pedulikan.” Yeach, lahir dalam keluarga bersaudara laki-laki rupanya soal keindahan pakaian tidak pernah diperhitungkan, bahkan warna tak pernah terlintas di imajinasi ini.
Sampailah di satu terminal yang membuka kesadaran saya, bahwa pakaian pun menjadi pintu masuk memahami pribadi lebih dalam. Ada perjumpaan dengan kolega atau murid, ada kehendak kuat istri untuk memantaskan pasangannya secara konkret. Kerapian dan keserasian menjadi values (keutamaan) yang mesti saya biasakan, hanya demi melayani sesama. Jika saya berbicara di sebuah forum, dengan pakaian yang rapi dan serasi warnanya itu karena istri sebagai “manajer” telah mengaturnya, saya pun mau diatur. Bukan sok ngartis atau nyelebritis, apa salahnya peduli sesama lewat peduli pakaian yang kita sandang? ***

