Lahirnya Multi- Q

Lahirnya Multi- Q

Serial 11
MENJADI GURU BIASA SAJA

Setelah mundur dari sekolah di mana kami ikut membidani, kami punya keyakinan kuat bahwa ” takdir” kami di dunia pendidikan. Selain itu, kami bukan disatukan sebagai pasutri tetapi juga tim kerja yang kompak. Aku lebih banyak melempar ide- ide, dan istriku yang mengekskusi agar ide itu terealisasi. Dengan keterbatasan dana, mustahil bisa mendirikan sekolah. Tuhan selalu hadir pada waktunya, seorang wali murid menawarkan rukonya yang tidak terpakai. Ide pun mengerucut, aku masih ingin mengaktualisasi teori multiple intelligence, maka kami akan membuka pusat kursus segala bakat: musik, vokal, modeling, melukis, bahasa inggris, baca tulis dan bimbingan belajar. Brand yang kupilih MULTI- Q , Q dari quotient, kecerdasan. Kerja pun dimulai dari bikin brosur sampai pasang dan mengedarkan dilakukan sendiri.


Pelajaran dari sekolah sebelumnya, promosi dan marketing itu memiliki peran penting dalam bisnis maka perlu branding. Supaya efektif, aku dirikan event organizer ( EO) dengan nama New Life yang bertujuan untuk mementaskan para peserta kursus. Dalam perkembangannya EO ini justru berkembang sebagai bisnis yang menguntungkan, banyak perusahaan siap menjadi sponsor. Setiap Minggu selalu ada event di mall atau hotel, lomba- lomba, pameran, festival. Pernah dikontrak promosi produk di 40 sekolah dasar, puncaknya mendatangkan Kak. Seto. Pernah juga mendatangkan top model saat itu, Arjeti, dalam event Wedding Fair beberapa hari di hotel. Boleh dikatakan, Multi- Q dan New Life ini sukses, kami pun bisa merekrut 3 karyawan untuk menunjang operasional. Istri memutuskan kuliah S1 Pendidikan di Universitas Dwijendra, lalu lanjut S2 di Universitas Pendidikan Ganesha ( nantinya ambil S1 Paud di Universitas Terbuka. Aku juga lanjut ke S3.


Kursus itu ada masa banyak peserta ada masa surut, maka mulai terpikir membuka pendidikan yang lebih formal agar stabil. Mulailah Multi- Q membuka Play Group ( Kelompok Bermain), awalnya teman- teman yang punya anak usia 3- 5 tahun aku undang gratis untuk hadir di Multi- Q tujuannya agar kelihatan ada kegiatan sehingga menarik minat. Taktik ini jitu, ada 10 anak ikut program ini, dan terus bertambah menjadi 2 kelompok. Pada akhir tahun orangtua siswa meminta kami membuka Taman Kanak- Kanak. Mulai terpikir mengapa tidak membuka kursus Pendidikan Guru TK ( PGTK)? Ternyata program ini banyak diminati ibu- ibu muda atau mereka yang ingin alih profesi. Mungkin ratusan tamatan PGTK Multi- Q sudah menjadi guru TK seluruh Bali, bahkan sampai NTT. Setelah berjalan beberapa tahun, program ini terbentur Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen. Undang-undang ini mensyaratkan Guru TK harus sarjana ( S1atau D4) , diberi waktu 10 tahun untuk menyesuaikan undang- undang ini. Akhirnya 2010 kami menutup program ini. Sampai di sini, di mana posisiku sebagai guru? Secara legal formal aku tetap dosen PNS, biasa saja, tidak istimewa. Mengajar Bahasa Inggris di Jurusan Akuntansi,Politeknik Negeri Bali. Sebagaimana layaknya menjalankan Tri Dharma: mengajar, meneliti, dan melakukan pengabdian kepada masyarakat. Enerji lebih tertuju untuk mengelola Multi- Q dan New Life. Atas desakan orangtua TK, aku memberanikan diri membuka Sekolah Dasar pada tahun 2013, yang ternyata urusannya lebih complicated.

Paul Subiyanto

Dr.Paulus Subiyanto,M.Hum --Dosen Bahasa Inggris di Politeknik Negeri Bali ; Penulis buku dan artikel; Owner of Multi-Q School Bal

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *