HANA BERBICARA TENTANG ANAK ITU KEPADA SEMUA ORANG YANG MENANTIKAN KELEPASAN UNTUK YERUSALEM
Penulis : Ansgarius Hari 45 Wijaya
Renungan harian Selasa, 30 Desember 2025
Injil Lukas 2: 36-40
Hana dalam Lukas 2 adalah seorang nabiah (nabi perempuan) tua dari suku Asyer yang saleh dan setia beribadah di Bait Allah, yang menubuatkan tentang Yesus ketika Maria dan Yusuf membawanya ke Bait Suci; ia adalah seorang janda yang hidup dalam doa dan puasa, dan segera mengenali Yesus sebagai Mesias serta berbicara tentang-Nya kepada semua orang yang menantikan pembebasan Yerusalem, menjadi salah satu saksi awal kedatangan Kristus, yang dibawa ibunya ke bait Allah.
Fanuel ayah Hana yang berasal dari suku Asyer, putra Yakub yang ke 8 dari 12 putra lainnya. Ibunya adalah Zilpa, hamba dari istri Yakub yang lebih tua Lea. Fanuel atau Phanuel berarti Wajah Tuhan.
Suku Asyer keturunan Yakub ini tinggal di daerah subur dataran Akre, dekat pantai dan lereng Barat Galilea dengan batas hingga Tirus dan Sidon, kekayaan mereka berasal dari minyak zaitun yang melimpah. Zaitun memberikan kemakmuran yang luar biasa bagi suku ini. ( Ulangan 33: 24-25). Wilayah mereka menjadi bagian dari Kerajaan Israel utara yang akhirnya hilang setelah ditakhlukan oleh Kerajaan Asyur. Dalam Perjanjian Baru mereka memiliki perwakilan melalui Hana. Nama Asyer sendiri berarti berbahagia. Mereka ikut serta dalam perjalanan di padang gurun dan membantu Gideon melawan orang Midian (Hakim-hakim 6:35). Memberikan 40.000 tentara untuk Raja Daud (1 Tawarikh 12:36). Bergabung dengan Kerajaan Israel Utara setelah Salomo dan termasuk di antara Sepuluh Suku yang Hilang setelah ditaklukkan Asyur (sekitar 721 SM). Namun suku Asyer termasuk suku yang diberkati selain karena mereka menetap di tanah yang subur, melalui keturunannya Hana, seorang Wanita saleh yang diberi usia lanjut sampai 84 tahun yang mengabdikan dirinya di Bait Allah dengan puasa dan doa siang malam dapat bersuka cita melihat bayi Yesus. Walaupun suku Asyer tidak menonjol dalam catatan Kitab Suci tetapi mereka menjadi bagian integral dari Sejarah Israel yang masih ada jejaknya dalam Perjanjian Baru melalui Hana, keturunanya. Kisahnya menunjukkan kesetiaan, pengharapan akan Kristus, dan pentingnya peran perempuan dalam pelayanan rohani di Perjanjian Baru.
Saat Yesus berusia 8 hari dan dipersembahkan ke bait Allah oleh Santo Yosep dan Bunda Maria. Hana ketika itu juga datang ke situ dan mengucap syukur kepada Allah. Hana berbicara tentang Anak itu kepada semua orang yang menantikan kelepasan untuk Yerusalem.
Apa yang dibicarakan Hana tentang Yesus? Ia memuji Allah dan berbicara tentang Anak (Yesus) kepada semua orang yang menantikan kelepasan bagi Yerusalem, menegaskan bahwa Yesus adalah Juruselamat yang dinanti. Hana menegaskan kembali kedatangan Mesias (Juruselamat) yang telah lama dinanti oleh orang-orang saleh di Israel. “Kelepasan untuk Yerusalem” berarti pembebasan spiritual Israel dari penjajahan, yang dijanjikan Allah. Singkatnya, Hana adalah saksi yang mengkonfirmasi identitas Yesus sebagai Mesias saat penyerahan-Nya di Bait Allah, berbicara kepada orang-orang yang berharap akan datangnya pembebasan ilahi.
Terbukti setelah peristiwa itu Maria dan Yosep kembali ke kota kediamannya, di Nazaret wilayah Galilea. Yesus bertambah besar dan menjadi kuat, penuh hikmat, dan kasih karunia Allah ada pada-Nya.
Kisah ini memberikan kesan dalam hati saya, betapa Hana adalah seorang wanita saleh, bahkan mungkin setiap orang saleh akan mendapatkan berkat dari Tuhan, untuk melihat dan merasakan (wajah) Tuhan dari dekat – sebagaimana arti nama ayahnya Fanuel, dan merasakan kedamaian hidupnya di usia lanjut. Bisa jadi juga berkat usia lanjut yang sehat dan bahagia penuh damai sejahtera. Dia sangat berbahagia karena dapat melihat pribadi Allah dalam Diri Yesus yang dinantikan banyak orang dalam bangsanya. Sama seperti Simeon yang kemudian menyanyikan kidung. “Sekarang, Tuhan, perkenankanlah hamba-Mu berpulang dalam damai sejahtera, menurut Sabda-Mu. Sebab aku telah melihat keselamatan-Mu yang telah Kausediakan di hadapan segala bangsa. Cahaya untuk menerangi para bangsa dan kemuliaan bagi umat-Mu, Israel.”
Bagaimana hal itu mungkin? Rata rata usia lanjut dibarengi dengan kemunduran berbagai hal. Fisik dan juga psikologis, kadang- kadang juga kemunduran ekonomis. Tetapi jika kita melihat kisah Hana yang tetap bertekun dalam doa dan puasa, ini memberikan tanda bagaimana ia merawat dan memperhatikan hidupnya di usia lanjut. Kemungkinan juga dengan hidup yang asketis seperti itu, ditujukan pertama-tama untuk penyerahan dirinya kepada Tuhan. Dia menjadi orang yang berdisiplin diri dalam hal makanan dan minuman yang memberikan berkat kesehatan baginya. Kesehatan fisik maupun rohani – psikologis. Akankah kita dapat mengikuti apa yang dilakukannya? Sehingga kita diberi berkat juga untuk dapat melihat Tuhan – tidak perlu menunggu nanti di saat akhir hidup. Mampu melihat Tuhan semasa kita masih dikaruniai kehidupan itu. Betapa bahagianya. Dalam filsafat dan teologi Tuhan disebut sebagai Bonum (Yang Baik), Verum (Yang Benar), dan Pulchrum (Yang Indah). Bonum, verum, pulchrum adalah triad filosofis-teologis yang mendefinisikan kesempurnaan Ilahi dan tujuan pencarian manusia akan makna tertinggi dalam hidup.
Doa: Tuhan mampukan kami untuk hidup disiplin seperti Hana yang menyerahkan hidupnya demi kemuliaan nama-Mu. Mampukan kami mendengarkan suara-suara orang yang kami kasihi yang dengan terus terang memperingatkan kami untuk menjaga hidup secara benar. Melalui mereka kami dapat melihat kehadiran dan pendapingan-Mu yang penuh kasih dan kebaikan, melihat kebenaran-Mu dan juga keindahan-Mu yang selalu menyertai perjalanan hidup kami. Amin.
Srengseng Sawah Jagakarsa- Jakarta Selatan

