SERIAL DIUBAH DAN MENGUBAH DIRI
Oleh St. Kartono
Pernyataan: Artikel ringkas berupa serial (bersambung-sambung) ini sebagai ungkapan syukur yang menghadirkan catatan pengalaman perubahan diri, karena penulis meyakini sejatinya tiap pribadi “dilahirkan baik adanya”. Oleh sebab itu, diri sendiri, pergaulan, sekolah, lingkungan, dan keluarga punya kontribusi menjaga setiap pribadi agar baik adanya bagi sesama.
#02 – Menata Kata-kata dan Alinea
Tulisan saya pertama kali terkorankan di harian BERNAS, berarti naskah ke-8 yang terkirim ke media. Mengirimkan ditolak, memasukkan tak ada kabar atau dikembalikan, seolah menjadi ujian tersendiri. Ujian penulis sejati adalah tahan ditolak. Ketika tulisan pertama kali tayang di halaman opini, saya pun mencocokkan dengan arsip naskah yang saya kirim.
Ternyata redaktur opini masih sempat mengacak-acak naskah asli yang saya kirim sebelum diterbitkan. Alinea awal diganti alinea asli yang semula di tengah, beberapa alinea berpindah tempat saling-bertukar, dan redaktur memilah-milah menjadi beberapa sub-judul. Saya menemukan pesan tersembunyi “inilah cara redaktur mengajari saya menyajikan ide”.
Ide tulisan pertama saya memang melawan arus pemikiran umum, bahkan berbeda dari narasi-narasi yang bersamaan muncul. Namun, sebagai “guru mengarang” saya mesti belajar mengurutkan alinea yang berarti mengalirkan ide secara sistemis. Redaktur sebagai pembaca pertama naskah telah mewakili pembaca umumnya. Dari situlah saya menemukan pondasi kepenulisan bahwa “sejatinya menulis itu melayani pembaca”.
Mengubah diri terus-menerus, sambil mengimajinasikan pembaca yang akan menikmatinya adalah perjuangan tiada henti. Mengubah diri membutuhkan kelenturan cara pikir. Menulis untuk koran KOMPAS yang menasional tentu beda untuk Kedaulatan Rakyat yang mempunyai pembaca tradisional kuat. Nyata betul pepatah Latin “fortiter in re, suaviter in modo”, dalam hal yang prinsip silakan bersikukuh, tetapi penulisan mesti memperhatikan konteks pembaca.
Jika saya bersikukuh, ya beginilah tulisan saya, maka saya akan terbentur “tembok ratapan” yang melemparkan saya keluar dari kalangan penulis yang ramah pembaca. Menulis itu sejatinya cara kerja guru, membawa materi yang sulit menjadi mudah dan materi yang rumit menjadi sederhana. Redaktur koran mengubah dan mengajari saya. ***
***


guru mengarang, istilah yang ngeri, jadinya semua hal dikarang, seperti bernegara ini, semua karangan semata,
salam JMJ
…hahaha, maka ditulis dalam tanda kutip, …menyebut guru menulis bisa diartikan guru yang ajari pertama pegang pensil lalu mulai nulis.
Saya suka kesimpulannya OmGuru: menuslis itu sesungguhnya cara kerja guru, membawa materi yang sulit menjadi mudah…ditunggu seri ketiga yang lebih seru nih
Mencerahkan.