#04 – Akhirnya Mau Nonton Bioskop
SERIAL DIUBAH DAN MENGUBAH DIRI
Oleh St. Kartono
Pernyataan: Artikel ringkas berupa serial (bersambung) ini sebagai ungkapan syukur yang menghadirkan catatan pengalaman perubahan diri, karena penulis meyakini sejatinya tiap pribadi “dilahirkan baik adanya”. Oleh sebab itu, diri sendiri, pergaulan, sekolah, lingkungan, dan keluarga punya kontribusi menjaga setiap pribadi agar baik adanya bagi sesama.
Dua anak gadisku semasa kecil diceritai ibunya, “Meskipun sudah menikah, saat di Solo bapakmu hanya mengantar ibu nonton film. Ya, ibu nonton, bapakmu menghabiskan bacaannya di lobi luar gedung bioskop. Usai bubaran film lalu pulang bareng.” Dalam banyak waktu itulah yang terjadi tanpa perlu mengusik kesukaan masing-masing. Pasanganku penyuka film action, bahkan film seru yang diputar tengah malam alias “midnight-show”, aku suka tenggelam dengan bacaan.
Sampailah di satu masa ketika anak-anak sudah bisa menikmati film di gedung bioskop lantas mereka mengajak bapaknya, bahkan mau-maunya mencocokkan waktu bapak supaya bisa nonton bareng. Mereka menyebut efek audio dan video yang jelas lebih sensasional di telinga dan mata, daripada menonton film berbayar di rumah.
Demi kebersamaan dan demi anak-anak, saya tak bisa bersikukuh “pokoknya gak suka bioskop”. Saya menemukan nilai kebersamaan menjadi lebih penting daripada berhenti pada soal suka atau tidak suka. Ketika dua gadisku terpencar hidupnya, mereka masih saja provokatif membelikan tiket bioskop agar bapak dan ibunya nonton bareng, baik film laga, percintaan, hingga yang lucu-lucu absurd.
“Harusnya ibu yang jadi juri …hahahaha!” Itulah seloroh anak-anak ketika di kemudian hari panitia festival film dokumenter empat tahun berturut-turut mendapukku menjadi salah satu juri. Bagaimana mungkin orang yang tidak suka nonton bioskop kok diminta menjuri? Untunglah, secara diam-diam (bukan menolak) saya menyerap kesukaan menonton dari sekadar mengantar, mendengarkan cerita istri usai menonton, hingga meyakinkan diri paham film.
Akhirnya, ketika didaulat menyerahkan pemenang favorit di satu episode festival film dokumenter, aku pun menyampaikan selamat kepada pemenang yang berkarya dengan kesungguhan hati. Pun, sambil membantin, bahwa aku tiada henti mencoba menyukai film bertahun-tahun sejak duduk menghabiskan bacaan di lobi luar bioskop sebelum istri usai nonton sendiri. ***
***


Setuju. Kebersamaan dengan keluarga tetap prioritas.