Tahu Peran, Tahu Posisi

Belajar dari Yohanes Pembaptis

Oleh Susy Haryawan

Bacaan Injil: Yohanes 1:19-28

Saudara terkasih, hari ini bersama Bunda Gereja, kita merenungkan sosok Yohanes Pembaptis dalam karya keselamatan Allah. Ia adalah tokoh besar yang sangat populer pada zamannya, namun yang paling utama, ia adalah pribadi yang sangat rendah hati. Kerendahan hatinya terpancar nyata saat ia menjawab pertanyaan krusial: “Siapakah engkau?”

Kejujuran di Tengah “Drama” Dunia

Yohanes menjawab dengan  sangat lugas, tidak dibuat-buat, dan apa adanya. Ia mengakui jati dirinya tanpa tergiur oleh ekspektasi publik. Ia dengan tegas menyatakan bahwa dirinya bukan Mesias, bukan Elia, dan bukan nabi yang dinanti-nantikan itu.

Sikap ini menjadi teguran keras bagi realita sosial kita saat ini. Seringkali kita disuguhi “drama” kehidupan berbangsa yang memutarbalikkan fakta: mengklaim prestasi orang lain sebagai milik pribadi, atau memoles citra diri seolah telah berbuat banyak meski masyarakat tidak merasakan dampaknya. Yohanes Pembaptis mengajarkan kita untuk berhenti bersandiwara.

Fokus dan Tahu Diri

Selain kerendahan hati, Yohanes memiliki keteguhan luar biasa dalam hal fokus. Ia sangat memahami tugas dan fungsinya sebagai “pembuka jalan”. Ia tidak merasa jemawa atau mencuri panggung Tuhan, meski publik sangat mengaguminya.

Dalam hidup bermasyarakat, kita sering terjebak dalam rasa “paling berjasa”. Kita merasa keberhasilan hanya karena tangan kita dan menafikan peran orang lain. Ini adalah godaan halus dari si jahat yang membuat kita “lupa daratan”. Yohanes Pembaptis mengingatkan kita kembali untuk tahu diri dan tahu posisi.

Kristus sebagai Pusat, Bukan Diri Sendiri

Sikap batin Yohanes Pembaptis adalah model yang ideal bagi kita. Jika Yohanes hidup di zaman sekarang, ia pasti tidak akan bisa disuap dengan uang, jabatan, atau popularitas semu. Fokus utamanya adalah Yesus, bukan egonya sendiri.

Di era digital di mana orang haus akan eksistensi, ingin viral, dan menempuh segala cara demi popularitas, Yohanes memberi teladan sebaliknya: “Tidak terlihat bukan berarti tidak bermakna.”

Saudara terkasih, keteladanan tidak selamanya harus tampil di depan panggung atau menjadi populer. Menjadi sosok di balik layar yang setia, rendah hati, dan fokus pada tugas adalah berkat yang luar biasa bagi sesama. Mari kita belajar untuk tidak cemas jika tidak dikenal dunia, asalkan hidup kita menjadi jalan bagi kemuliaan Tuhan.

“Ia harus makin besar, tetapi aku harus makin kecil.”

Doa: Allah Bapa Penuh Kasih, Syukur atas karunia-Mu yang tiada henti. Engkau menghadirkan Kristus Yesus dan pendahulu-Nya, Yohanes Pembaptis, untuk mengajar kami mampu rendah hati, mawas diri, dan fokus atas perutusan kami.

Kadang dalam hidup sehari-hari, godaan untuk tenar, populer, membuat monument agar menjadi pusat perhatian membuat kami abai akan Kristus yang harus dilayani. Kelemahan ini kami sadari dan mohon pengampunan-Mu agar kami setia dan fokus pada bagian kami.

Ajarilah kami terus mampu menjalani peran kami dengan rendah hati di dalam kasih karuniamu semata. Kami tetap tekun dalam jalan dan kehendak-Mu semata. Amin

Salam JMJ

Susy Haryawan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *