#07 – Belajar Memuji
SERIAL DIUBAH DAN MENGUBAH DIRI
Pernyataan: Artikel ringkas berupa serial (bersambung) ini sebagai ungkapan syukur yang menghadirkan catatan pengalaman perubahan diri, karena penulis meyakini sejatinya tiap pribadi “dilahirkan baik adanya”. Oleh sebab itu, diri sendiri, pergaulan, sekolah, lingkungan, dan keluarga punya kontribusi menjaga setiap pribadi agar baik adanya bagi sesama.
Saya masih menyimpan catatan seorang mahasiswa berisi ungkapan yang dikumpulkan pada akhir semester.
… saat itu saya hanya memakai kaos, celana jeans, dan sandal eiger kebanggaanku,
Pak Kartono menyindir “Mau ngarit, Mas?”. Simpel tapi ngantem, terus minggu depannya saya bersekongkol dengan teman saya untuk sepakat saat kuliah sederet memakai baju batik. Namun, tanggapan Pak Kartono “Belinya kodinan, ya?”
…ah semakin nggondok, tapi gak apa, itu sebagai kesan.
Hanya bermaksud membiasakan “empan-papan”, tentunya menunjuk “ngarit” atau menyabit rumput, bekerja berpeluh keringat di lapangan, mesti memilih pakaian yang mendukung pekerjaan, demikian halnya saat di ruang kuliah. Seloroh saya sembari berkeliling melihat mahasiswa bekerja, ternyata berbuah perubahan tanpa harus menghardik dengan nada tinggi. Terbukti dalam perjumpaan minggu berikutnya – orang-orang muda ini bersama berbatik rapi semotif, memantas diri, menangkap teguran berbalut ledekan.
Nah, ketika di kelas mereka saya ingatkan, lewat tulisan itu sayalah yang dikritiknya. Mereka segera berubah dan berbenah, ternyata diri sayalah yang belum berubah. Setelah membaca catatan tersebut – betapa dengan enteng saya menunjuk ketidakdisiplinan mahasiswa, tetapi “pelit memuji” kebaikannya. Betapa kaya kosa kata untuk mengkritik dan mengadili murid, tetapi begitu berat meluncurkan pujian akan kebaikan. Orang-orang muda acapkali putus harapan, hanya karena tidak pernah mendapatkan pujian meskipun sudah bertindak sebaik yang mereka mampu.
Kedua anak gadisku acap berkisah bahwa mereka hampir tidak pernah kena marah bapaknya. Sejatinya itu pembagian tugas secara sadar bapak dan ibunya. Jika ibu yang mendisiplinkan dengan tertib hidup, bapaknya yang “harus” sabar memberikan ruang untuk menenangkan. Bapak tidak meruntuhkan wibawa ibu, juga bukan pelarian jiwa yang lembek. Bisa dibayangkan, anak akan lari ke mana, ketika di rumah ayah dan ibu semuanya menjadi pengadil dan hakim? Rumah tetaplah menjadi tempat berteduh seluruh isinya. Di sana menjadi tempat kesalahan ditegasi, kebaikan dipuji dan diapresiasi, serta setiap jiwa boleh bertumbuh. Saya pun belajar tiada henti belajar memuji (secepatnya). ***

