Prabowo Bilang Kita Sejahtera?

Prabowo Bilang Kita Sejahtera?

Coba Tanya Dapur Emak-Emak!

Belakangan ini, telinga kita sering dipenuhi narasi-narasi optimistis tentang betapa hebatnya Indonesia di mata dunia. Dari podium ke podium, kita disuguhi data pertumbuhan ekonomi yang katanya stabil, investasi yang melimpah, hingga klaim bahwa kita adalah salah satu bangsa paling bahagia dan sejahtera. Seolah-olah, Indonesia sedang berada di puncak keemasannya, di mana semua orang hidup makmur tanpa beban.

Namun, mari kita sejenak menanggalkan kacamata protokol dan laporan formal yang kaku itu. Di balik angka-angka statistik yang mentereng, ada jutaan rakyat yang setiap hari harus bergelut dengan kenyataan pahit yang sering kali luput dari pantauan kamera pejabat. Pernyataan  Prabowo soal kesejahteraan ini menarik untuk dibedah, bukan dari sudut pandang menteri, tapi dari sudut pandang rakyat yang masih harus menghitung receh di dompet setiap akhir bulan.

Sejahtera Versi Siapa?

Oke, data makro mungkin menunjukkan pertumbuhan ekonomi sekian persen. Investasi masuk, pembangunan jalan terus. Itu bagus, nggak ada yang bilang itu jelek. Tapi, sejahtera itu kan bukan cuma angka-angka gede di laporan keuangan negara, Bos. Sejahtera itu soal:

  • Harga Bahan Pokok: Coba tanya emak-emak di pasar, harga beras, telur, minyak goreng, cabai. Bulan lalu sama bulan ini bedanya jauh apa nggak? Jangan cuma lihat inflasi secara umum, tapi rasakan langsung di dompet ibu rumah tangga.
  • Lapangan Kerja: Banyak lulusan kuliah, tapi nyari kerja setengah mati. Ojol di mana-mana, tapi pendapatannya segitu-gitu aja. UMKM teriak karena modal seret, kalah saing sama korporasi gede. Sejahtera kalau pengangguran masih jadi momok?
  • Kesehatan dan Pendidikan: Berobat masih mahal di banyak tempat. Antrean BPJS panjang. Sekolah gratis? Iya, tapi buku, seragam, transportasi, les tambahan? Tetap aja keluar duit. Pendidikan kita masih banyak bolongnya, kualitas guru, fasilitas, jangan cuma di kota-kota besar aja yang bagus.

Jangan Cuma Dengar Bisikan Manis

Politisi itu wajar punya pandangan optimis. Tapi optimisme itu harus didasari kenyataan. Jangan sampai cuma dengar bisikan-bisikan manis dari pembisik atau laporan bagus dari bawahan yang takut kasih kabar jelek. Sejahtera itu bukan cuma soal punya uang, tapi juga soal punya kesempatan, punya akses, dan punya harapan bahwa hidup besok akan lebih baik.

Realita di Lapangan Beda Jauh

Mungkin  Prabowo melihat dari kacamata orang yang hidupnya sudah lebih dari cukup. Lingkungan beliau mungkin nggak merasakan langsung susahnya nyari uang receh buat beli lauk. Tapi, jutaan rakyat Indonesia, mulai dari buruh pabrik, petani di desa, pedagang kecil, sampai tukang becak, mereka menghadapi realita yang jauh berbeda. Masyarakat kita itu hebat. Mereka nggak gampang ngeluh, cenderung nerima apa adanya, dan sering ngakak aja meski hidup lagi susah. Itu bukan berarti bahagia atau Sejahtera.  Itu adaptasi, itu cara bertahan hidup.

Yuk, Lebih Jujur!

Jadi, kalau bicara sejahtera, mari kita bicara dengan data dan fakta yang dirasakan langsung oleh rakyat kecil. Jangan cuma data makro yang indah di atas kertas. Realitasnya, masih banyak yang pontang-panting, jungkir balik, cuma buat bisa makan tiga kali sehari. Klaim bahwa Indonesia paling sejahtera itu mungkin akan bikin kita tepuk tangan dan bangga sesaat. Tapi di dapur-dapur, di sawah-sawah, di jalanan, di pabrik-pabrik, pertanyaan itu mungkin dijawab dengan senyum kecut dan desahan napas panjang.

Pada akhirnya, kepemimpinan yang kuat bukan diukur dari seberapa sering sang pemimpin dipuji oleh bawahannya, melainkan seberapa jujur ia melihat luka dan kekurangan di tengah masyarakatnya sendiri. Membangun narasi “sejahtera” di atas pondasi rakyat yang masih kesulitan membeli beras adalah sebuah ironi yang berbahaya. Jika kita terus-menerus membius diri dengan klaim keberhasilan tanpa mau memperbaiki daya beli dan kualitas hidup rakyat secara nyata, maka kesejahteraan itu hanya akan menjadi milik segelintir elite, sementara rakyat banyak hanya menjadi penonton di pinggir jalan.

Sudah saatnya kita berhenti jualan jargon dan mulai bekerja dengan kenyataan yang ada di depan mata. Jangan biarkan rakyat “bahagia” hanya karena mereka terlalu lelah untuk menangis melihat kondisi yang ada. Indonesia butuh solusi nyata untuk urusan perut dan pendidikan, bukan sekadar pidato manis yang membuat kita merasa besar padahal kenyataannya masih tertinggal jauh. Karena sejatinya, negara yang benar-benar sejahtera adalah negara yang rakyatnya tidak perlu lagi diyakinkan oleh pidato pejabat bahwa hidup mereka sudah baik-baik saja.

Salam JMJ

Susy Haryawan

Susy Haryawan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *