#11 – Duluan Bertelepon

#11 – Duluan Bertelepon

SERIAL DIUBAH DAN MENGUBAH DIRI

Pernyataan: Artikel ringkas berupa serial (bersambung) ini hanyalah sebagai ungkapan syukur yang menghadirkan catatan pengalaman perubahan diri, karena penulis meyakini sejatinya tiap pribadi “dilahirkan baik adanya”. Oleh sebab itu, diri sendiri, pergaulan, sekolah, lingkungan, dan keluarga punya kontribusi menjaga setiap pribadi agar berguna bagi sesama.

-0-

Jelang dini hari saya tiba di Stasiun Cirebon, lalu bergegas menuju satu penginapan dan segera istirahat. Masih pagi sekali usai bersarapan saya pun bertelepon ke kantor yayasan tempat seharian akan berbicara di forum para guru,”Suster, selamat pagi, saya pak Este Kartono, bagaimana saya bisa menuju sekolah?” Berlanjut hingga saya tiba di kantor Yayasan. Suster yang bercakap via telepon tadi, dengan penuh kegembiraan (saya merasakan itu) berkisah bahwa dia kaget sungguh dan minta maaf keduluan telepon. Katanya, oleh Suster yang mengenal saya lebih dulu semasa kuliah, diceritakan bahwa Pak Kartono itu orangnya serius, juga “jaim”, senyum pun sinis (ahaa, beda tipis dengan manis).

Ternyata, menurut Suster kini gambaran tentang Kartono itu beda dengan info awal – orang “jaim” (jaga image, jual mahal) tidak mungkin mau duluan berkabar, kalau terlalu serius orang itu akan kehilangan kehangatan. Ah, awal pagi di Cirebon kala itu telah dimulai dengan kehangatan dan tentu saja saya merasakan tuan rumah pun menerima saya berbeda dari yang dibayangkan semula. Suster yang memberikan deskripsi awal tentang Kartono pun ikut menyambut dan berseloroh, “Dulu memang begitu, sekarang ternyata berubah.

Di banyak kesempatan, keluar dari pintu bandara atau stasiun tak jarang saya menangkap maksud baik dan keramahtamahan tuan rumah dalam menyambut tetamu, sembari berterima kasih saya memilih menarik sendiri koper atau bawaan saya. Bahkan saya pun dengan enteng menyampaikan kepada pengundang jika repot biarkan saya memakai cara sendiri menuju lokasi atau penginapan. Dengan sadar membiasakan pula, saya mendisposisi diri sebagai sesama guru yang bekerja, bukan berlagak ahli yang menghargai diri tinggi sekali.

Saya tahu rasanya dihargai, pun paham rasanya dibutuhkan. Merasa dihargai dan dibutuhkan itu akan menjadi “tabungan” positif. Nemo dat quod non habet, tak seorang pun bisa memberi jika dirinya tak punya. Bagaimana bisa ringan menyapa lebih dulu, jika hidupnya defisit perhatian? Bagaimana akan menggembirakan orang lain, jika hidupnya penuh kemurungan? Bagaimana akan menghadirkan optimisme dan kegembiraan, jika segalanya dalam hidup ini dianggap negatif? Bertelepon lebih dulu itupun tak direkayasa – ringan terjadi begitu saja. ***

St. Kartono

St. Kartono

St. Kartono – Kolumnis pendidikan mengkorankan lebih dari 650 artikel, pembicara di lebih dari 750 forum, dosen, penulis 15 buku diantaranya Sekolah Bukan Pasar (Buku KOMPAS, 2009), Menjadi Guru untuk Muridku (Kanisius, 2011), Menjadi Guru Berjiwa Merdeka (Aseni, 2024).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *