Panggilan dalam Kerendahan: Belajar dari Saul, Lewi, dan Santo Antonius

Panggilan dalam Kerendahan: Belajar dari Saul, Lewi, dan Santo Antonius

[Bacaan Pertama: 1 Samuel 9:1-4, 17-19; 10:1a; Mazmur Tanggapan: Mazmur 21:2-3, 4-5, 6-7 dan Injil Markus 2:13-17]

Bacaan Pertama: 1 Samuel 9:1-4, 17-19; 10:1a
Ada seorang dari daerah Benyamin, namanya Kisy bin Abiel, bin Zeror, bin Bekhorat, bin Afiah. Ia seorang suku Benyamin, seorang yang berada. Orang ini punya anak laki-laki, namanya Saul, seorang muda yang elok rupanya; tidak seorang pun dari antara orang Israel lebih elok daripadanya: ia lebih tinggi daripada setiap orang sebangsanya dari bahu ke atas. Kisy, ayah Saul itu, kehilangan keledai-keledai betinanya. Sebab itu berkatalah Kisy kepada Saul, anaknya, “Ambillah salah seorang bujang, bersiaplah dan pergilah mencari keledai-keledai itu.” Lalu mereka menjelajah pegunungan Efraim; juga mereka menjelajah tanah Sahalim, tetapi keledai-keledai itu tidak ada; kemudian mereka menjelajah tanah Benyamin, tetapi tidak menemuinya. Ketika Samuel melihat Saul, yang datang minta petunjuk, bersabdalah Tuhan kepada Samuel, “Samuel, inilah orang yang Kusebutkan kepadamu itu; Inilah orang yang akan memegang tampuk pemerintahan atas umat-Ku.” Sementara itu Saul datang mendekati Samuel di tengah pintu gerbang dan berkata, “Maaf, di mana rumah pelihat itu?” Jawab Samuel kepada Saul, katanya, “Akulah pelihat itu. Naiklah mendahului aku ke bukit. Hari ini kamu akan makan bersama-sama dengan daku; besok pagi aku membiarkan engkau pergi dan kemudian aku akan memberitahukan kepadamu segala sesuatu yang ada dalam hatimu.” Maka keesokan harinya Samuel mengambil buli-buli berisi minyak, dituangnyalah ke atas kepala Saul, diciumnyalah dia sambil berkata, “Sungguh, Tuhan telah mengurapi engkau menjadi raja atas umat-Nya Israel. Engkau akan memegang tampuk pemerintahan atas umat Tuhan, dan engkau akan menyelamatkannya dari tangan musuh-musuh di sekitarnya.”

Mazmur Tanggapan: Mazmur 21:2-3, 4-5, 6-7
Ref: Tuhan, karena kuasa-Mu, raja bersukacita.
Ya TUHAN, karena kuat-Mu raja bersukacita, karena keselamatan-Mu hatinya gembira. Engkau telah memberikan keinginan hatinya, dan tidak menolak permintaan bibirnya.
Sebab Engkau datang menemui dia dengan berkat-berkat yang baik, telah Kauletakkan mahkota emas di atas kepalanya. Hidup dimintanya dari pada-Mu, dan Engkau memberikannya kepadanya, umur panjang untuk seterusnya.
Karena sebab itu raja mulia oleh kuasa-Mu, dan melalui kemuliaan-Mu kami bernyanyi bagi kekuatan-Mu.

Bacaan Injil: Markus 2:13-17
Sekali peristiwa Yesus pergi ke pantai Danau Galilea, dan semua orang datang kepada-Nya. Yesus lalu mengajar mereka. Kemudian ketika meninggalkan tempat itu, Ia melihat Lewi anak Alfeus duduk di rumah cukai. Yesus berkata kepadanya, “Ikutlah Aku!” Maka berdirilah Lewi, lalu mengikuti Yesus. Kemudian, ketika Yesus makan di rumah Lewi, banyak pemungut cukai dan orang berdosa makan bersama dengan Dia dan murid-murid-Nya, sebab banyak orang yang mengikuti Dia. Waktu ahli-ahli Taurat dari golongan Farisi melihat, bahwa Yesus makan bersama dengan pemungut cukai dan orang berdosa, berkatalah mereka kepada murid-murid-Nya, “Mengapa Gurumu makan bersama dengan pemungut cukai dan orang berdosa?” Yesus mendengar pertanyaan itu dan berkata kepada mereka, “Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit! Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa!”

Renungan “Panggilan dalam Kerendahan: Belajar dari Saul, Lewi, dan Santo Antonius”

Bacaan-bacaan hari ini menyingkap cara Allah memanggil yang tak terduga: Saul, pemuda dari suku terkecil Israel dipilih jadi raja; Lewi, pemungut cukai yang dikucilkan; dan Santo Antonius, pemuda kaya yang meninggalkan segalanya untuk hidup di padang gurun. Allah tidak memilih yang “sempurna” di mata dunia, tetapi yang rela dibentuk-Nya.

Saul dipilih bukan karena kekuatan, tetapi kerendahannya. Lewi dipanggil justru di tengah dosanya. Demikian pula Santo Antonius (251-356), yang pada usia 20 tahun mendengar seruan Injil: “Jika engkau hendak menjadi sempurna, pergilah, juallah segala milikmu… lalu datanglah ke sini dan ikutlah Aku” (Mat 19:21). Ia menyerahkan warisannya, tinggal di gua, dan bertarung melawan godaan, namun di sanalah ia menemukan kekuatan ilahi. Allah mengubah ketakutan Saul, dosa Lewi, dan pergumulan Antonius menjadi kesaksian kasih-Nya.

Bagi keluarga Kristiani, bacaan-bacaan suci hari ini berisi tentang panggilan yang relevan karena, Pertama, Allah memanggil kita dalam kelemahan, bahkan tidak diperhitungkan seperti Saul. Saat konflik menggerogoti rumah tangga, ingatlah bahwa Allah justru hadir dalam kerendahan hati kita untuk saling mengampuni dan saling melayani.

Kedua, Kasih Allah mendekap dan merangkul yang tersisih. Seperti Yesus mendekati Lewi, seorang pemungut cukai dan dianggap berdosa, mari buka pintu bagi anggota keluarga yang “tersesat” dengan doa, bukan penghakiman apalagi pengucilan yang menyakitkan hati mereka.

Ketiga, Hidup kudus dimulai dari keputusan kecil. Santo Antonius tidak langsung menjadi pertapa; ia mulai dengan memberi roti kepada fakir miskin. Demikian pula, keluarga dibangun lewat kebaikan sederhana: mendengarkan anak yang letih, berbagi waktu dengan pasangan, atau berdoa bersama minimal sekali tiga kali melalui doa-doa angelus (pagi, siang dan sore).

Santo Antonius mengajarkan kita bahwa di gurun pergumulan keluarga, Allah menantikan kita untuk percaya dan berserah total kepada-Nya. Ia tidak meminta kesempurnaan, tetapi keterbukaan hati. Seperti Saul yang diurapi, Lewi yang dipanggil, dan Antonius yang bertahan, keluarga kita pun bisa menjadi “bait kudus” bila rela dibimbing-Nya.

Doa hari ini

Tuhan, ajar kami mendengar panggilan-Mu dalam hal-hal kecil setiap hari. Jadikan keluarga kami tempat kasih-Mu mengubah ketakutan menjadi harapan, kerapuhan menjadi kekuatan untuk menjawab ya atas setiap panggilan-Mu. Amin.

Alfred Jogo Ena

Alfred Jogo Ena

Seorang editor yang suka menulis dan guru agama di beberapa sekolah menengah di Yogyakarta. Ia juga melayani pelatihan dan konsultasi penulisan buku

One thought on “Panggilan dalam Kerendahan: Belajar dari Saul, Lewi, dan Santo Antonius

  1. Nabi juga bisa kliru, milih Saul yg nantinya digantikan Daud. Atau, manusia itu bisa berubah, jgn terpesona pada pemimpin saat ini, bisa berubah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *