Kasih Lebih Utama Daripada Aturan
Oleh M. Unggul Prabowo
Renungan Harian, Rabu 21 Januari 2026
Bacaan Injil: Markus 3:1–6
“Manakah yang diperbolehkan pada hari Sabat: berbuat baik atau berbuat jahat, menyelamatkan nyawa orang atau membunuh orang?” (Mrk 3:4)
Sahabat-sahabat Yesus yang terkasih,
Injil hari ini menghadirkan Yesus yang masuk ke rumah ibadat dan berjumpa dengan seorang yang mati sebelah tangannya. Di sana hadir pula orang-orang Farisi yang mengamati Yesus dengan sikap curiga. Mereka bukan datang untuk mencari kebenaran atau belas kasih, melainkan untuk mencari kesalahan. Mereka ingin melihat apakah Yesus akan menyembuhkan pada hari Sabat, agar mereka dapat mempersalahkan-Nya.
Yesus mengetahui isi hati mereka. Ia lalu mengajukan pertanyaan yang tajam dan menggugah: “Manakah yang diperbolehkan pada hari Sabat, berbuat baik atau berbuat jahat, menyelamatkan nyawa orang atau membunuh orang?” Namun mereka diam. Diam yang dingin, diam yang menutup hati. Diam yang menolak kebaikan demi mempertahankan aturan.
Yesus pun marah dan berdukacita karena kekerasan hati mereka. Ia memandang orang yang sakit itu dan menyembuhkannya. Tangan yang mati dipulihkan. Hidup ditegakkan kembali. Tetapi ironi pun terjadi: orang-orang Farisi justru keluar dan merencanakan pembunuhan terhadap Yesus. Mereka begitu taat pada hukum, namun kehilangan kasih. Mereka membela Sabat, tetapi meniadakan nilai kemanusiaan.
Kisah ini terasa sangat dekat dengan realitas kita di Indonesia hari ini. Kita sering menyaksikan orang kecil yang terpinggirkan oleh aturan, prosedur, dan birokrasi. Ada rakyat yang kesulitan mendapatkan pelayanan kesehatan karena dokumen belum lengkap. Ada korban bencana yang terlambat ditolong karena alasan administratif. Ada orang miskin yang dipersalahkan karena melanggar aturan kecil, sementara ketidakadilan besar dibiarkan. Aturan menjadi lebih penting daripada manusia.
Yesus mengingatkan kita bahwa hukum dibuat untuk melayani kehidupan, bukan mematikan harapan. Kesalehan sejati bukan diukur dari ketaatan lahiriah, tetapi dari keberanian untuk mengasihi. Gereja dan orang beriman dipanggil untuk berani berdiri di pihak yang lemah, meskipun itu berarti disalahpahami atau dikritik.
Injil ini juga mengajak kita bercermin: apakah hati kita seperti orang Farisi yang kaku dan menghakimi, atau seperti Yesus yang penuh belas kasih? Apakah kita lebih sibuk menjaga citra dan aturan, atau sungguh peduli pada penderitaan sesama? Terkadang kita memilih diam agar aman, padahal diam itu ikut melanggengkan ketidakadilan.
Doa : Tuhan Yesus yang Maharahim, lembutkanlah hati kami yang sering mengeras oleh ego, kepentingan, dan ketakutan. Ajarlah kami menempatkan kasih di atas aturan, dan manusia di atas kepentingan pribadi. Berilah kami keberanian untuk berbuat baik, membela yang lemah, dan menghadirkan belas kasih-Mu di tengah masyarakat kami. Semoga hidup kami menjadi tanda kasih Allah yang menyembuhkan dan membebaskan. Amin.

