Menemukan Kristus di Tengah Keramaian dan Keheningan

Menemukan Kristus di Tengah Keramaian dan Keheningan

Oleh Susy Haryawan

Renungan hari Kamis, 22 Januari 2026

Injil Markus 3:7-12

Saudara Terkasih, hari ini kita diajak merenungkan Injil yang  menggambarkan sebuah pemandangan yang sangat kontras. Di satu sisi, kita melihat Yesus yang berusaha menarik diri ke tepi danau bersama murid-murid-Nya. Di sisi lain, kita melihat gelombang manusia yang luar biasa besar datang dari segala penjuru—Galilea, Yudea, Yerusalem, Idumea, seberang Yordan, hingga Tirus dan Sidon. Mereka datang bukan sekadar untuk mendengar khotbah, tetapi karena mereka mendengar tentang “hal-hal besar yang dilakukan-Nya.”

Ada tiga poin penting yang bisa kita renungkan dari perikop ini untuk kehidupan kita saat ini:

1. Motivasi Mencari Tuhan

Kerumunan orang itu mendesak Yesus sampai-sampai Ia harus menyiapkan sebuah perahu agar tidak terhimpit. Motivasi mereka jelas: mereka sakit dan ingin sembuh. Mereka ingin menjamah Yesus agar penderitaan mereka hilang.

Dalam hidup kita, seringkali kita datang kepada Tuhan dengan motivasi yang sama. Kita mencari Tuhan saat ada masalah, saat sakit, atau saat bisnis kita terancam bangkrut. Apakah itu salah? Tentu tidak. Tuhan sangat senang membantu anak-anak-Nya. Namun, Injil hari ini mengajak kita naik ke level yang lebih tinggi. Apakah kita mencintai Yesus karena siapa Dia, atau hanya karena apa yang bisa Dia berikan bagi kita? Jangan sampai kita hanya mencari  Tuhan dengan daftar permintaan kita, tanpa pernah benar-benar duduk diam untuk mendengarkan suara-Nya.

2. Kebisingan Dunia vs. Keheningan Tuhan

Menarik untuk diperhatikan bahwa Yesus meminta murid-murid-Nya menyediakan perahu agar Ia bisa menjaga jarak sedikit dari kerumunan. Yesus tahu kapan harus melayani dan kapan harus menjaga ruang agar misi-Nya tidak terdistorsi oleh sekadar fenomena mukjizat.

Dunia kita saat ini sangat bising. Kita sering kali merasa harus selalu “ada” dan “terlihat” di media sosial atau lingkaran sosial kita—seperti kerumunan di tepi danau Galilea yang gaduh. Namun, Yesus mengajarkan pentingnya “jarak”. Kadang, kita butuh naik ke atas “perahu” keheningan agar kita bisa melihat hidup dengan lebih jernih. Tanpa saat teduh dan doa pribadi yang mendalam, iman kita akan menjadi iman yang “ikut-ikutan” kerumunan saja, tanpa akar yang kuat.

3. Jati Diri yang Sejati

Bagian yang paling misterius dari Injil hari ini adalah ketika roh-roh jahat tersungkur di depan Yesus dan berteriak: “Engkaulah Anak Allah!” Namun, Yesus dengan keras melarang mereka memberitahukan siapa Dia. Mengapa?

Tuhan menginginkan kita mengenal-Nya melalui kasih dan pertobatan, bukan melalui pengumuman paksa dari kuasa kegelapan. Roh-roh jahat itu tahu secara intelektual bahwa Yesus adalah Anak Allah, tetapi mereka tidak memiliki kasih. Ini adalah peringatan keras bagi kita: menjadi Katolik bukan sekadar tahu dogma atau hafal doa-doa. Iblis pun tahu siapa Yesus. Menjadi pengikut Kristus yang sejati berarti menghidupi kasih-Nya. Pengenalan akan Tuhan harus membuahkan transformasi hidup, bukan sekadar pengetahuan di kepala.

Saudara yang Terkasih,

Marilah  kita bertanya pada diri sendiri:

  • Apakah aku mencari Yesus hanya saat aku membutuhkan “mukjizat” atau pemecahan masalah?
  • Di tengah jadwal yang padat hari ini, bersediakah aku menyediakan “perahu” kecil dalam hatiku untuk duduk diam bersama-Nya?
  • Apakah aku sudah mengakui Yesus sebagai Tuhan melalui perbuatan kasihku, atau hanya melalui kata-kata di bibir saja?

Yesus tetap pribadi yang sama. Ia yang dulu menyembuhkan di tepi danau Galilea, adalah Yesus yang sama yang hadir dalam Ekaristi dan dalam diri sesama kita yang menderita. Mari kita mendekat pada-Nya bukan untuk merepotkan-Nya dengan keegoisan kita, tetapi untuk bersujud dengan kerendahan hati.

Doa: Allah Bapa kami, ajarlah kami untuk mampu hadir, bukan sekadar memohon, namun bertaut di dalam Samudera kasih karunia-Mu yang tak terbatas. Ingatkan kami untuk selalu dalam rengkuhan-Mu untuk berpasrah dan mengenal Engkau dengan hati kami, bukan sekadar budi semata.

Mampukan kami mengenalkan Engkau Yang Mahakasih dengan hidup kami, jangan sampai keriuhan kami membuat Engkau malah tersembunyi dari dunia. Kami hanya alat-alat-Mu semata. Amin

Salam JMJ

Susy Haryawan

6 thoughts on “Menemukan Kristus di Tengah Keramaian dan Keheningan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *