Rahasia di Balik Telapak Tangan Sang Pelayan Altar: Saat Dendam 37 Tahun Luruh dalam Pelukan Sunyi
Dulu, telapak tangan itu adalah medan perang. Di sana, gatal-gatal hebat meletus menjadi koreng yang perih, seolah kulitnya tak lagi sanggup membendung amarah yang mendidih di dalam jiwa. Namun hari ini, tangan yang sama (yang kini telah halus dan tenang) terangkat tinggi di panti imam, membagikan Tubuh Kristus kepada umat.
Siapa sangka, perjalanan dari luka yang bernanah menuju altar suci ini membutuhkan waktu hampir empat dekade dan sebuah keberanian luar biasa untuk memaafkan.
Kiamat Kecil di Gerbang Biara
Bagi seorang calon imam, dikeluarkan dari biara bukan sekadar urusan administrasi; itu adalah “kiamat kecil”. Saat Mas Witaw harus melangkah keluar dari gerbang Kongregasi Misionaris Keluarga Kudus (MSF) puluhan tahun silam, ia merasa dunianya runtuh. Ia kehilangan identitas, kehilangan keluarga rohani, dan yang paling fatal: ia merasa “dibuang” oleh Tuhan melalui tangan manusia.
Selama 16 tahun berikutnya, Mas Witaw memikul beban yang lebih berat dari apa pun, sebuah dendam yang membatu kepada Romo MW, sosok otoritas yang ia anggap bertanggung jawab atas kegagalannya.
Dendam itu ternyata punya caranya sendiri untuk bicara. Dalam kacamata medis, ini disebut psikosomatis. Luka batin Mas Witaw yang tak kunjung sembuh memanifestasikan diri menjadi penyakit kulit kronis di sekujur tubuhnya. Ia sedang meminum racun kebencian setiap hari, dan tubuhnyalah yang menanggung kerusakannya.

Tameng di Balik Seragam Keamanan
Tuhan punya selera humor yang indah dalam menyembuhkan hamba-Nya. Kesembuhan Mas Witaw dimulai ketika ia bergabung dengan karya Budi Mulia. Ajaibnya, seiring ia mengabdi sebagai pendidik, “koreng” di tubuhnya perlahan memudar. Namun, meski kulitnya membaik, hatinya masih menyisakan sekat tebal terhadap institusi Gereja.
Ketika ia merasa terpanggil untuk kembali aktif di paroki, Mas Witaw memilih jalan yang unik: ia mendaftar menjadi Petugas Keamanan Gereja.
Itu adalah strategi “pertahanan diri”. Dengan menjadi satpam, ia punya alasan sah untuk tetap berdiri di area parkir atau di luar pintu gerbang. Ia belum sanggup masuk ke dalam gedung gereja, apalagi menatap altar. Baginya, berdiri di luar pagar adalah posisi paling aman bagi jiwa yang masih merasa terasing dari rumah Bapanya sendiri.
Keajaiban di Ambang Satu Abad
Namun, kasih Tuhan tak bisa dibendung oleh pagar parkir. Perlahan tapi pasti, Mas Witaw “ditarik” masuk lebih dalam. Dari pria yang bersembunyi di balik seragam keamanan, ia bertransformasi menjadi seorang Prodiakon. Sebuah lompatan spiritual yang mustahil tanpa adanya proses berdamai dengan masa lalu.
Puncak dari drama kehidupan ini terjadi secara puitis di tahun 2026, tepat saat perayaan 100 Tahun Bruder Budi Mulia berkarya di Indonesia. Di momen bersejarah inilah, semesta mengatur pertemuan yang telah tertunda selama 37 tahun. Mas Witaw kembali berhadapan dengan Romo MW.
Tidak ada ledakan amarah. Yang ada hanyalah kejujuran yang membebaskan. Di hadapan sang Romo, Mas Witaw menumpahkan segala “uneg-uneg” yang telah mengerak selama puluhan tahun. Ia meruntuhkan egonya, meminta maaf atas kebenciannya, dan (yang paling mengharukan) ia menundukkan kepala untuk memohon berkat dari tangan yang dulu begitu ia benci.
Seketika itu juga, dunia terasa lapang. Beban seberat gunung yang dipanggulnya sejak 1989 luruh seketika dalam sebuah pelukan rekonsiliasi.
Pesan untuk Hati yang Patah
Kisah Mas Witaw adalah pengingat bagi siapa saja, para eks-seminaris, mantan biarawan, atau jiwa-jiwa yang merasa “dibuang” oleh institusi, bahwa pemulihan itu nyata. Rekonsiliasi terbesar bukanlah tentang kembali mengenakan jubah, melainkan tentang keberanian untuk menanggalkan jubah luka dan melangkah masuk ke dalam pelukan pengampunan.
Hari itu, di perayaan seabad Budi Mulia, kita belajar satu hal: tidak ada “koreng batin” yang terlalu parah untuk disembuhkan, asalkan kita berani melepaskan genggaman pada dendam. Matur nuwun, Gusti.
[terima kasih Mas Witaw sudah perkenankan pengalaman ini dituliskan kembali dan dibaca oleh lebih banyak orang, terutama rekan sepaguyuban yang mungkin pernah dan masih mengalami dan membawa luka yang sama]

