MENGAMPUNI SAMPAI TUJUH PULUH KALI TUJUH KALI
Y. Haryanto
Renungan Harian
10 Maret 2026
Selasa Pekan Prapaskah III
Injil: Matius 18, 21 – 35
Kemudian datanglah Petrus dan berkata kepada Yesus: “Tuhan, sampai berapa kali aku harus mengampuni saudaraku jika ia berbuat dosa terhadap aku ? Sampai tujuh kali ? ” Yesus berkata kepadanya:”Bukan ! Aku berkata kepadamu: Bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali ! “(Mat.18:21-22)
RENUNGAN:
Bapak, Ibu, Saudara/i terkasih dalam Kristus, Berkah Dalem, Tuhan memberkati kita semua !
Lama sekali saya terdiam seusai membaca kutipan Injil hari ini, Mat. 18: 21 – 35. Mengampuni : hal yang sangat saya butuhkan , namun sebaliknya sulit sekali saya berikan. Begitu besar kerinduan saya untuk diampuni (= dikasihi) Tuhan dan sesama, namun begitu pelit saya mengampuni sesama, begitu sulit saya rela menaati kehendak Tuhan bagi saya untuk mengasihi sesama.Berbanding terbalik: Tuhan Maharahim, saya cenderung lalim, melipatgandakan dan membesarkan dendam.
Tuhan menghendaki kita sedia dan mampu mengampuni tanpa batas (“sampai tujuh puluh kali tujuh kali” – ayat 22 ). Kepada orang lain yang bersalah kepada kita, kita “tergerak hati oleh bekas kasihan” sehingga kita sedia mengampuni (ayat 27 ) dengan segenap hati ( ssayat 35 ) sebagaimana Tuhan telah mengasihani kita ( ayat 33 ).
Praksis mengampuni dengan segenap hati mengikis kecenderungan balas dendam tanpa batas. Budaya kasih menggantikan budaya dendam. Budaya kasih juga menyisihkan arogansi atau kesombongan pendendam.
Mengandalkan diri sendiri untuk sedia dan mampu mengampuni tentu kita tidak kuasa. Kemampuan kita untuk mengampuni berakar dalam kesadaran kita akan besarnya pengampunan yang telah lebih dahulu kita terima dari Tuhan.
Setiap kali ingat lagu “Gusti Ulun”, saya merasa disemangati untuk hidup dalam kasih. Baris kunci dari liriknya berbunyi demikian: ” Gusti ulun, ulun caos pisungsung, ang imbangi tresna Dalem Tyas Agung” (Tuhanku, saya haturkan persembahan, sebagai jawaban atas kasihMu yang terpancar dari HatiMu yang Agung) . Kiranya ke depan kita kian mampu mengampuni, sekaligus mengikis budaya dendam , lantaran kita sadar akan kasihNya yg mahabesar yang sudah tercurah bagi kita.
Dalam kesadaran kita itu termuat kerendahan hati mengakui bahwa kita pun pernah berulangkali berbuat salah, dan tanpa batas Tuhan pun mengampuni kita. “The constancy of His Love depends on WHAT HE IS, not on what you are or on how you behave”. Dengan rendah hati kita akui bahwa kasihNya yg tiada henti bukan bergantung pada siapa kita dan betapa hebatnya perilaku kita, melainkan pada karakter Allah sendiri: KASIH.
DOA
Syukur dan Pujian bagiMu ya Tuhan atas limpahan kasihMu kepada kami semua. Bantulah kami senantiasa menyadari akan kasihMu sehingga kami kian mampu mengampuni dan menyisihkan dendam di hati.
Amin.

