#12 – Mencari daripada Menunggu
SERIAL DIUBAH DAN MENGUBAH DIRI
#12 – Mencari daripada Menunggu
Pernyataan: Artikel ringkas berupa serial (bersambung) ini hanyalah sebagai ungkapan syukur yang menghadirkan catatan pengalaman perubahan diri, karena penulis meyakini sejatinya tiap pribadi “dilahirkan baik adanya”. Oleh sebab itu, diri sendiri, pergaulan, sekolah, lingkungan, dan keluarga punya kontribusi menjaga setiap pribadi agar berguna bagi sesama.
-0-
Hari yang sumringah beranjak ke tengah, saya akan memulai sesi kedua di Surabaya. Pesan singkat masuk menggetarkan gawai saya, “mas kartono, apa kabar?” (jika bersemuka dilisankan pasti bernada datar sembari Beliau tersenyum seperti biasanya). Itulah pesan dari pembimbing untuk mahasiswanya yang hingga tengah hari tak kunjung berkabar dan ditunggu kemajuan tesisnya. Saya tak hendak berkisah tentang perasaan campur-aduk saat itu, karena lebih suka menunaikan alias “menjadikan tunai” tugas lain – bicara di beda kota. Saya pun tak ingin bercerita tentang kebuntuan mengerjakan satu komitmen.
Pertanyaan pendek itu justru menghadirkan teladan mendasar. Betapa seorang guru besar yang menghadapi mahasiswa – murid yang dianggap mandiri dan dewasa – tetap saja mau mencari dengan mendahului bertanya. Dia tidak menunggu, membiarkan proses pembimbingan tanpa interaksi, atau hanya berdiam di satu sudut terminal perjalanan muridnya. Ibu guru besar ini pun semampu saya memahaminya, dia tidak banyak menggelontorkan kata-kata melayani mahasiswa, peduli murid, atau enteng bicara cura personalis. Namun, saya mengalami dan merasakan yang dia hidupi sebagai pendidik, merasakan dihargai, bahkan merasakan berbesar-hati disapa.
Pertanyaan lugas itu justru meneguhkan semangat keguruan yang saya pilih, yakni “menjadi guru untuk murid”. Menjadi guru di zaman kini, saya tak menyisakan imajinasi sebagai guru yang ditakuti, satu-satunya sumber kebenaran, bahkan menunggu murid datang menghadap dalam posisi inferior. Saya sebagai murid yang sudah berumur yang diandaikan mandiri saja masih harus dicari, disapa, di-“karuhke”, apalagi anak-anak yang baru belajar mandiri. Murid-murid bimbingan karya ilmiah tidak perlu ditunggu hingga macet berkepanjangan, cari di kelasnya, temui, jangan sampai di dalam rapat guru muncul alasan, “Lha, murid ini tidak pernah menghadap …” – Untuk urusan didik-mendidik, saya mesti membiasakan mencari daripada menunggu, menyapa lebih dahulu daripada menunggu di sudut ketidakpastian. ***

