Duc in Altum: Melayani Tanpa Batas

Duc in Altum: Melayani Tanpa Batas

Pengantar
Dalam Injil, perintah untuk melayani merupakan inti ajaran Yesus Kristus. Pelayanan bukan sekadar pekerjaan sosial, tetapi ungkapan kasih, kerendahan hati, dan pengabdian kepada Allah serta sesama. Yesus sendiri tidak hanya mengajarkan tentang pelayanan, tetapi juga memberi teladan hidup sebagai pelayan.
Berikut beberapa perintah dan ajaran penting tentang melayani dalam Injil:
Yesus Datang untuk Melayani
“Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang.”
(Markus 10:45)
Ayat ini menunjukkan bahwa pelayanan adalah jantung kehidupan Kristiani. Yesus membalik cara pandang dunia: kebesaran bukan diukur dari kuasa, tetapi dari kesediaan melayani.
Melayani dengan Rendah Hati
Pada peristiwa pembasuhan kaki murid-murid-Nya, Yesus memberikan teladan konkret.
“Aku telah memberikan suatu teladan kepada kamu, supaya kamu juga berbuat sama seperti yang telah Kuperbuat kepadamu.”
(Yohanes 13:15)
Membasuh kaki pada zaman itu adalah tugas seorang hamba. Dengan melakukannya, Yesus mengajar bahwa pemimpin sejati adalah pelayan.
Melayani Sesama Sama dengan Melayani Tuhan
Dalam pengajaran tentang penghakiman terakhir:
“Segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku.”
(Matius 25:40)
Pelayanan kepada orang miskin, sakit, lapar, tersingkir, dan menderita dipandang Yesus sebagai pelayanan langsung kepada-Nya.
Perintah Kasih sebagai Dasar Pelayanan
“Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.”
(Matius 22:39)
Pelayanan Kristen lahir dari kasih, bukan keterpaksaan. Orang yang mengasihi akan rela membantu, mendengarkan, mengampuni, dan berkorban.
Melayani dengan Totalitas
“Barangsiapa ingin menjadi yang terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hambamu.”
(Matius 20:27)
Yesus mengajarkan bahwa murid-Nya dipanggil untuk melayani secara total, bukan mencari pujian atau kedudukan.
Pelayanan versi Dunia
Sekarang ini pelayanan menjadi bagian SOP penting di perusahaan- perusahan. Kalau kita masuk kantor akan disambut dengan ramah oleh sesepsionis. Itu tetap pelayanan yang baik tetapi yang membedakan motifnya. Pelayanan dilakukan karena tuntutan kerja. Ada juga para selibritas dan sosialitas yang aktif berkegiatan karikatif agar status sosialnya dihormati. Banyak politisi melakukan pelayanan dan bantuan untuk pencitraan dalam rangka meraup suara. Sama- sama tindakan melayani tetapi dengan motif yang berlainan.
Apa itu pelayanan?
Garry Chapman dalam buku Five Language of Loves menyatakan salah satu bahasa cinta adalah act of service ( pelayanan) . Cinta yang abstrak menjadi nyata dalam bentuk perbuatan. Selaras dengan ajaran Yesus, pelayanan sejati itu tanpa pamrih tanpa minta imbalan apapun. Orang yang mau melayani secara kristiani berarti siap menyusuri jalan sunyi tanpa pujian dan tepuk tangan.
Ketika seorang prodiakon mengirim komuni untuk lansia atau orang sakit, siapa sebenarnya yang dilayani? Prodiakon sedang melayani Yesus dalam rupa orang yang menderita. Jadi seandainya tidak diterima dengan baik, misalnya yang dilayani menolak karena belum siap atau alasan lain, tidak masalah karena yang dilayani sesungguhnya Kristus. Urusan menolak Kristus itu urusan yang bersangkutan dengan Tuhan !
Sering aktivis ketika merasa sudah melayani dan orang lain tidak seperti dirinya menjadi marah dan kecewa. Ketika ada kekecewaan dalampelayanan lalu “mutung”.Itulah perlunya duc in altum, merefleksi kembali lebih dalam motif pelayanannya.
Makna Rohani Pelayanan dalam Injil
Pelayanan menurut Injil berarti:
menghadirkan kasih Allah,
merendahkan hati,
rela berkorban,
membantu tanpa pamrih,
dan melihat martabat Kristus dalam diri setiap orang.
Pelayanan sejati bukan pertama-tama soal jabatan di Gereja, tetapi sikap hidup sehari-hari: dalam keluarga, pekerjaan, masyarakat, dan komunitas.
Orang Kristen tidak dipanggil untuk menjadi “tuan” atas sesama, tetapi menjadi saluran kasih Tuhan. Dunia sering mengejar kehormatan dan kekuasaan, tetapi Injil mengajarkan bahwa kemuliaan justru lahir dari ketulusan melayani.
“Tangan yang melayani lebih mulia daripada bibir yang hanya berbicara.”

Paul Subiyanto

Dr.Paulus Subiyanto,M.Hum --Dosen Bahasa Inggris di Politeknik Negeri Bali ; Penulis buku dan artikel; Owner of Multi-Q School Bal

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *