Martabat Manusia Lebih Mulia Daripada Jabatan, Pangkat, Kekuasaan Dan Kekayaan
Renungan Harian Tgl 06 Juni 2026
Injil Markus 12 : 38 – 44
“Hati-hatilah terhadap ahli-ahli Taurat yang suka diberi hormat di pasar, suka duduk di tempat terdepan di rumah ibadat dan tempat perjamuan, menelan rumah janda-janda dan mengelabui mata orang dengan doa yang panjang-panjang. Mereka akan menerima hukuman yang lebih berat” (ayat 38 -40). “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu : Janda miskin ini memberi lebih banyak daripada semua orang yang memasukkan uang ke dalam peti persembahan. Sebab, mereka semua memberi dari kelimpahannya, tetapi janda ini memberi dari kekurangannya semua yang dimilikinya yaitu seluruh nafkahnya” (ayat 43 – 44).
Ibu bapak dan saudara-saudari yang terkasih dalam Kristus.
Paus Leo XIV telah menerbitkan Ensiklik pertama dengan judul “Magnifica Humanitas.” Respons umat katolik maupun masyarakat dunia sangat positip dan mendukung pendapat paus bahwa martabat manusia harus dihormati dan tidak bisa diremehkan oleh kemajuan teknologi AI (Kecerdasan Buatan).
Pesan Injil hari ini memang tidak menyinggung teknologi. Tetapi jelas Tuhan Yesus mau menyinggung perilaku para pemuka agama dan orang kaya yang minta dihormati dan diberikan kedudukan yang tinggi. Tuhan mengkritik keras bahwa jabatan dan kekuasaan bukan untuk menghina atau menindas orang lemah, miskin dan janda. Mereka lebih suka memerintah dan minta dilayani dan dihormati. Mereka sangat sombong dan mengambil jarak dengan kalangan rakyat, “wong cilik”. Tuhan mengajak kita untuk tetap belajar menghargai, menghormati dan menerima sesama yang levelnya lebih rendah. Merekapun tetap manusia yang punya martabat yang mulia sebagai “imago dei”.
Ada satu lagi pesan Injil berkaitan dengan harta kekayaan. Sejak pecahnya perang Israel & Amerika melawan Iran, muncul kekacauan dan masalah krisis energi, BBM, beras dll di dunia. Harga-harga kebutuhan hidup menjadi mahal. Juga banyak karyawan dan buruh di-PHK. Kondisi ekonomi saat ini menjadi sulit. Dampaknya akan muncul kecemburuan sosial. Apa yang masih bisa dipersembahkan kepada Tuhan dalam kondisi sulit ini? Rupanya Tuhan memberikan bimbingan kepada para rasul dan kita semua bagaimana kebanyakan orang memberikan sumbangkan dalam peti persembahan? Orang-orang kaya tidak bermasalah karena mereka bisa menyumbangkan dari kelebihan kekayaan mereka. Mereka tetap kaya, tidak akan bangkrut. Mereka masih punya tabungan dan aset-aset berharga yang lain. Dengan kontras Tuhan memberikan pujian atas persembahan janda miskin karena dia mempersembahkan uang dari seluruh jerih payahnya. Janda miskin ini tidak egois, tidak mementingkan kebutuhannya sendiri. Persembahannya total untuk Tuhan. Dia sudah tidak punya uang. Dia tidak kuatir. Dalam hal ini dia sungguh percaya Tuhan akan menolong dan mencukupkan kebutuhannya. Semoga kita tetap tergerak memberikan persembahan kepada Tuhan dengan apa yang terbaik dari milik kita seperti janda miskin ini. Kita tidak pelit dalam persembahan kepada Tuhan. Amin. Tuhan memberkati.
Marilah berdoa : Tuhan Yesus Kristus, ajarilah kami untuk bersikap rendah hati, tidak pamer kekuasaan, pangkat, jabatan atau harta kekayaan. Semoga kami bisa bergaul dengan ramah, menyesuaikan diri dan menghargai sesama manusia sebagai pribadi yang bermartabat dan tidak menilai orang dari jabatan, pangkat, status atau kekayaannya. Semoga kami juga tulus mempersembahkan hidup kami untuk menjadi saksi kasih dan kebaikan Tuhan pada siapapun yang kami layani. Demi Kristus, Tuhan dan pengantara kami. Amin.
Andre Sumariyatmo
Aktivis Paroki Pejompongan – Jakarta.

