Ambyar
Harja duduk di teras rumah. Alunan musik keroncong mengiringi
kesendiriannya sore itu. Ia menatap sendu, melihat pematang sawah
yang terhampar di depannya. Tepekur. “Tak lagi memiliki, asal bisa
menikmati. Jika sudah tak bekerja, aku sebenarnya ingin bercocok
tanam lagi,” gumam Harja menghibur diri. Sayang, lahan pertanian itu
telah dijual untuk membiayai pengobatan penyakit yang menyerang
dirinya beberapa tahun lalu.
Handphone bergetar. Suara berdering pertanda masuknya berita.
Beberapa kali, Harja sengaja tak mengangkat dan membaca isi pesan.
Kali ini, seolah ada energi khusus yang memikat untuk mengambilnya
dari atas meja. Ia membuka dan membaca. “Pak Guru, saya sebagai
orangtua murid mulai berat mendampingi anak belajar. Beragam tugas
melalui daring diberikan. Ada tugas matematika yang mengharuskan
kami berpikir tentang penambahan, pembagian, pengurangan,
pengalian, dan penjumlahan bilangan prima atau pecahan. Ada tugas
pelajaran lain yang membuat kami membongkar ingatan mencairkan
hapalan. Kami capek, Pak Guru!.”
Harja meletakkan telepon genggam ke atas meja. “Bukan hanya Anda
yang stres. Gurupun mengalami. Lebih-lebih guru uzur sepertiku.
Rasanya memang lebih asyik bisa bertatap muka dan bergurau dengan
para siswa.” Harja memejamkan mata, membiarkan emosinya hilang
bersama senja.***

