Resah Boleh, Rusuh Jangan
Ujaran Bijak Sederhana, Dalam Makna
Momen tragis 98 terulang kembali. Skala yang berbeda tentunya. Ada sebuah tayangan sederhana, nasihat bijak yang mendalam, Resah Boleh, Rusuh Jangan. Kerusuhan ada di mana-mana. Awalnya demo untuk mengingatkan anggota DPR-RI yang ugal-ugalan dalam memperoleh tunjangan. Tentu Bersama pemerintah, namun sasaran itu dewan.
Miris, malah terjadinya bentrok dengan aparat kepolisian, ada pengemugi ojek yang meninggal di sana. Kemarahan public meningkat. Ironisnya, kini bergeser, polisi versus Masyarakat. Pihak legislator yang mendapatkan banyak kejengkelan malah seolah tersisihkan, focus kemarahan massa pada polisi.
Sebab Kejengkelan dan Keresahan
Ada sebuah analisis, konon kenaikan tunjangan rumah Rp. 50 juta itu sudah sejak Oktober tahun lalu. Lha mengapa kini, ketika 17 Agustusan kemarin diumumkan menjadi pemicu kemarahan dan kerusuhan yang membahayakan.
Respon yang diberikan anggota dewan, kebanyakan artis, yang memang tidak piawai dalam menanggapi isu politik. Meremehkan, merasa itu belum apa-apa, padahal kondisi masyarakat sedang sekarat. Malah ada yang mengatakan tolol pada pemilihnya yang kini menyuarakan kegelisahannya.
Mereka tidak tahu kondisi masyarakat itu seperti apa. Barang-barang melambung tinggi, padahal pendapatan tidak bertambah. Penjualan lesu, mau bergerak seperti apa, jika demikian. Eh disuguhi tontonan nirempati dari para pejabat.
Narasi baik-baik saja, ekonomi bagus, jor-joran jabatan bagi timses dan yang berjasa, pemberian tanda jasa pada pihak-pihak yang kompetensinya jauh dari harapan. Program unggulan yang membuat jebol APBN, namun dikatakan keren, bagus, dan luar biasa. Keadaan di lapangan, akar rumput itu jauh dari itu semua.
Resah Jangan Rusuh
Rusuh itu mahal tanggungannya. Kantor dibakar, demonstran dipukuli, bahkan ada yang meninggal, aparat juga dilempari batu, mobil polisi dibakar. Lha itu tidak hanya uang, namun juga nyawa lho. Kemanusiaan itu sudah hilang. Beringas, brutal, dan sama sekali tidak tampak jiwa religious dan Pancasilais.
Resah itu wajar, jengkel itu masih bisa diterima, namun jangan menjadi rusuh. Biadab jadinya. Mau memperbaiki kog jadinya malah merusak.
Berbudaya luhur, tepa selira, lembah manah, ramah, sopan, itu sudah berganti dengan tabiat rusuh, dikit-dikit amuk, berbeda sama dengan musuh. Seolah ajaran nenek moyang itu sudah musnah. Bagaimana bisa kata-kata, ndhasmu, tolol, keluar dari mulut-mulut elit negeri ini.
Cerminan terpelajar itu sama sekali tidak ada. Beda itu musuh, padahal dasar negara saja Bhineka Tunggal Ika, yang berarti memang begitu ragam perbedaan yang ada. Jembatan memperoleh persamaan itu makin tipis, bahkan memang seolah ada yang mengikis habis dan tidak bersisa.
Amuk sebagai balasan ujaran kasar anggota dewan yang sama saja. Rakyat dan wakilnya identik, ketamakan dan kerakusan itu dibalas dengan anarkhi. Miris.
Salam JMJ
Susy Haryawan

