Korban Iklan
Aku ingin bergegas pulang. Acara penutupan kedinasan harus segera
kutinggalkan. Kegiatan rekreatif yang sebetulnya sangat menarik pun
tak perlu kuikuti. Aku hanya ingin segera pergi dari kota yang berudara
sejuk dan berpanorama indah. Berharap sampai ke kota tujuan dan
berkumpul bersama istri untuk merayakan ulang tahun kelahiran.
Agen travel yang akan menjemputku mengabarkan. Kendaraan yang
akan kutumpangi sudah menuju hotel yang kutempati. Aku segera
berkemas, menata pakaian dan memasukkannya dalam koper, menuju
ke lobby menyerahkan kunci kamar kepada petugas resepsionis. Aku
menunggu kendaraan penjemput di ruang tamu hotel. Bayangan naik
kendaraan seperti yang termuat di iklan membuncah. Aku akan duduk di
seat yang nyaman dan dihembus air conditioner menyejukkan. Harapan
bisa tidur selama perjalanan pun kian terpampang.
Kendaraan travel datang. Tiap kaca jendela yang ada di mobil itu
terbuka. Aku melihat seorang bapak tua berada di belakang kemudi.
“Ups. Sopirnya kok sudah lanjut usia,” batinku. Setelah dengan agak
paksa membuka pintu, ia mengusap cucuran keringat dengan kain
handuk yang terkalung di lehernya. Bapak tua itu menuju ke arahku. Ia
menyebutkan nama seseorang yang akan dijemputnya. Aku tertegun
sembari membayangkan perjalanan menujuk kota idaman. Gambaran
bakal naik mobil tua berikut pengemudinya muncul seketika. Semoga
Tuhan menyertai perjalananku, sampai tujuan dengan selamat.***

