Bawang Merah Kehidupan

Bawang Merah Kehidupan

Sang guru mengunjungi para murid yang sedang memasak di dapur. Seorang  murid terlihat sedang mengupas bawang merah. Murid itu mencoba mengusap-usap matanya yang perih dengan lengan bahunya. 

Guru mendekati dan mengamatinya. “Hidup ini ibarat mengupas sebuah bawang merah. Anda mengupasnya lapusan demi lapisan dan kadang kala Anda mengeluarkan air mata. Demikianlah hidup kita. Jika kita menjalani hidup secara sungguh-sungguh, maka kita harus siap menghadapi penderitaan. Cinta kita mungkin ditolak, janji-janji tidak ditepati, impian-impian kita akan berantakan, dan kesehatan kita terganggu. Namun ketika kita menuliskan kenangan itu, kebahagiaan berkat adanya hidup yang utuh dengan sejumlah luka perihnya akan menorehkan pengalaman yang penuh makna. ” 

Seorang murid menanggapi, “Guru,  bukankah penderitaan memang menjadi peristiwa yang kerapkali dihindari manusia?” “Penderitaan bukanlah pengalaman terburuk dalam hidup kita. Yang lebih parah adalah hidup tanpa perasaan puas,” kata guru kepada para murid yang mengelilingnya.***

Saat menghadapi kesulitan, beberapa orang tumbuh sayap, sedang yang lain mencari tongkat penyangga.

– Harold W. Ruoff –

C. IsmulCokro

C. IsmulCokro (CB. Ismulyadi), tinggal Sleman. Pernah studi di Fak Teologi di Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta (Fakultas Teologi Wedha Bhakti) dan Ilmu Religi Budaya USD. Sampai saat ini masih berkarya sebagai ASN. Giat dalam dunia penulisan sebagai writerpreneur, editor freelance, redaksi salah satu tabloid dan memotivasi berbagai kalangan yang akan berproses menulis dan menerbitkannya. Email: cokroismul@gmail.com. FB. Carolus ismulcokro

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *