Menag Ucapkan Selamat Bulan Kitab Suci dan Bulan Rosario, Wajar

Menag Ucapkan Selamat Bulan Kitab Suci dan Bulan Rosario, Wajar


Hal-hal Normatif Dianggap Luar Biasa di Indonesia


Menag ini memang agak lain, dalam konteks kali ini adalah positif. Sejak bulan lalu, bagi umat dan Gereja Katolik ada yang special, Bulan Kitab Suci Nasional. Bulan ini ada Bulan Rosario yang didedikasikan untuk Bunda Maria melalui doa tersebut. Ucapan selamat dari Menag memang sebuah sejarah, kata teman. Menurut saya, itu sebuah hal yang normal sebenarnya.


Terbiasa Rendah, Sesuatu yang Wajar Terlihat Wooow
Bertahun lalu, KPK memiliki tagline JUJUR itu HEBAT. Mengapa begitu? Ya karena memang aparat, elit, birokrasi, dan pejabat kit aitu tidak jujur. Padahal jujur itu sesuatu yang normal, wajar, dan biasa. Kualifikasinya itu tidak ada yang unggul. Sematan hebat itu kan mau memperlihatkan prestasi, capaian, dan perjuangan besar.


Contoh, capaian Susy Susanti di cabang bulu tangkis itu bisa dikatakan hebat. Emas olimpiade, juara di berbagai ajang yang diikuti. Jelas perjuangannya, capaian atau hasilnya, dan mengalahkan banyak pesaing yang sama baiknya.
Jujur itu melekat erat dalam pribadi anak bangsa yang normal. Tidak bisa dikatakan sebagai warga negara yang baik, itu harusnya adalah biasa. Bandingkat di Eropa Barat, Jepang, di mana dompet jatuh ya akan aman, tidak diambil. Normal bagi mereka, tapi bagi kita seolah langka.


Ucapan Menag
Tentu sebuah sejarah katanya, bukan untuk merendahkan, namun ini upaya dan penghargaan sebagai bangsa Pancasila. Tanpa mengurangi rasa hormat dan syukur, jangan sampai hanya berhenti pada ucapan ini. Lakukan juga untuk agama lain, penganut kepercayaan, misalnya Galungan, Kuningan, Waisak, yang harusnya Menag tahu. Jabatan itu untuk semua agama dan kepercayaan, bukan sekadar satu saja, mayoritas.
Langkah dan awal yang baik, menyadari tugasnya bagi banyak agama di Indonesia, tidak hanya satu. Proses panjang untuk bisa menjadi biasa. Kerinduan sebagai sebuah bangsa, anak negeri yang setara, bukan anak tiri di bangsa yang memiliki landasan Pancasila.
Perlu disadari bahwa apa yang disampaikan Menag ini biasa, wajar, dan sudah seharusnya, bukan hal besar, prestisius, kek jujur itu hebat. Tidak demikian adanya.


Terima kasih sudah menjadi inspirasi untuk kedamaian negeri, apalagi berani juga bersikap lantang atas perilaku dan sikap intoleran yang selama ini masih merajalela. Pancasila yang konon sakti pada hari ini, masih terlalu jauh dari harapan.


Salam JMJ

Susy Haryawan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *