KELUH KESAH MARIA DI BULAN OKTOBER

KELUH KESAH MARIA DI BULAN OKTOBER

Saat ini ada 100 lebih gua maria di Pulau Jawa yang pada bulan Oktober ( bulan Rosario) ini tentu banyak dikunjungi para paziarah untuk boleh “ngalap berkah”. Dalam rangka itulah para ” Maria” penunggu gua- gua Maria di Jawa berkumpul untuk saling berbagi pengalaman. 

Giliran pertama untuk yang tertua , Maria Sendang Sono. 

” Umur kami sudah 96 tahun, terhitung sejak 8 Desember 1929. Sebelum tahun 90 an, tiap Mei dan Oktober peziarah dari seluruh Indonesia tumpek blek di sini. Sepanjang jalan besar Kalibawang berderet bis peziarah diparkir, sepanjang pinggir jalan setapak menuju gua , banyak wong ndeso berjualan buah, makanan tadisional, bahkan topi pandan dan tongkat bambu. Kami benar- benar jadi berkat bagi wong cilik. Tapi sejak setiap keuskupan bahkan paroki bangun gua sendiri, kami benar- benar sepi. Tak ada lagi peziarah yang jalan kaki, mereka dengan mobil bisa langsung sampai gua. Kafe, warungmakan, penginapan, artshop sudah tersedia di sana. Mereka datang, berdoa, makan minum, lalu pulang. Mereka menyebut ” ZiaRek”, ziarah sambil rekreasi, tidak ada unsur tirakat. Mampir ke Sendang sono hanya bagian dari paket tur seputar Yogya.” Bunda Sendang Sono tetap tersenyum sambil berucap, ” Sekarang kami lebih kontemplatif dalam keheningan”.

Berikut Maria Kerep Betsyering, ” Sebenarnya kami dibangun sejak 1953,dan diresmikan oleh Mgr. Sugiyo Pranoto 15 Agustus 1954. Tapi kami lagi ” ngeboom” dan viral ketika dibangun patung besar tahun 2014 dan diresmikan 15 Agustus 2015. Kami mirip monumen atau landmark, yang tinggi besar dan megah. Pengunjung berjubel, mereka mampir dalam perjalanan lintas Jawa, aspek rekreasi lebih kuat, akomodasi juga dibangun sebagai destinasi wisata. Kami ramai dikunjungi, terutama weekend tidak harus bulan Maria atau Rosario. Yah… Siapa pun dan kapan pun mereka datang harus kami terima”

Sekarang giliran Gua Maria Poh Sarang di Jawa Timur: ” Kami dirancang sebagai ” tiruan” Maria Lourdes dan dibangun 11 Oktober 1998, diresmikan 2 Mei 1999 walaupun pembangunan baru 40℅. Sekarang banyak peziarah datang pada hari- hari biasa, khususnya Kamis Legi untuk ikut Misa tengah malam. Nuansa Jawa tradisional sangat kental, Misa dengan musik gamelan Jawa. Pengunjung bisa ribuan dengan kidmat mengikuti Misa hingga subuh. Yang menarik ada ribuan doa ujud yang harus dibacakan beberapa Romo sebelum Misa. Pengunjung luar kota pun bisa menginap di hotel- hotel sekitar gua. Yang menarik, aktivitas ziarah tidak menimbulkan konflik dengan masyarakat sekitar padahal banyak bis yang parkir. Umat Jatim ( Keuskupan Surabaya) lebih berlatar belakang kultur Jawa, ziarah menjadi hal yang penting dalam hidup. Yah… Sampe sekarang kami masih banyak dikunjungi… “

Paul Subiyanto

Dr.Paulus Subiyanto,M.Hum --Dosen Bahasa Inggris di Politeknik Negeri Bali ; Penulis buku dan artikel; Owner of Multi-Q School Bal

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *