BRAMIN HADIR SAAT PERESMIAN PERNIKAHAN SAYA DI RANDUBLATUNG
BRAMIN 6
Hampir 2 tahun saya tinggal di rumah singgah Jl. Bangau 250 Depok. Dari awal mulai bekerja di Melawai,
di Penerbit Galaxy Puspa Mega dan kemudian masuk di Bimas Katolik Kementerian Agama Jl. Lapangan
Banteng Barat 3-4 Jakarta. Saya menjalani hari-hari kehidupan dengan penuh syukur. Buku Brevir yang
saya gunakan sejak masuk Novisiat di Salatiga – TK I s/d III di Seminari Tinggi Kentungan, menjadi Toper
di Temanggung – Parakan dan kemudian di Kotabaru Pulau Laut Kalimantan Selatan dengan setia terus
menemani perjalanan hidup saya.
Sesuai dengan prosedur kepegawaian, saya menjalani masa CPNS selama satu tahun lebih. Dari bulan
Juli 1995 sampai berakhir bulan November 1996. Saya diangkat penuh menjadi pegawai tetap. Dan
mulai berani untuk bersiap meresmikan pernikahan saya dengan tunangan yang sudah dilamar oleh
Bapak Ibu saya kepada ibundanya sejak Maret 1993. Sebenarnya kedua orang tua sudah mendorong dan
mendesak agar saya meresmikan pernikahan sejak saya bekerja menjadi guru. Tetapi saya belum berani
meresmikan hubungan itu dalam status pernikahan. Hati belum mantap memasuki masa depan dalam
kehidupan berumah tangga. Sampai suatu waktu ibu saya sendiri mengatakan kamu masih mau
menunggu apa lagi? Sekarang sudah menjadi PNS – kamu terus dikejar umur. Jadinya kapan? Aku dan
bapakmu dulu tidak berpikir sejlimet itu. Bapakmu bahkan belum punya pekerjaan tetap pada waktu itu.
Kami berani menikah – membangun keluarga sendiri. Pendidikanmu tinggi – pekerjaanmu jelas. Jadinya
kapan?
Setelah SK pegawai tetap saya terima, saya bersiap untuk membangun keluarga dengan calon yang
sudah berjuang mencari hidup dan masa depan di Jakarta dengan percaya diri. Saya mulai mengurus
segala keperluan administratif di Kecaman Pancoran Mas Depok di mana saya berdomisili. Mengikuti KPP
di Paroki St. Stefanus Cilandak. Saat mendaftarkan berkas diterima oleh Rm. Mujiyono SCY teman
seangkatan di Kentungan yang setelah pulang dari Amerika menjadi pastor rekan di Paroki Cilandak ini.
Saat Kursus Persiapan Perkawinan dimulai Ketua Dekanat Selatan dijabat oleh Alm. Rm. Heru Susanto
MSF dari Paroki Jagkarsa yang juga mengajar KPP dalam topik Sakramen Perkawinan. Rm. Heru Susanto
adalah senior saya waktu di Skolastikat dulu. Bertemuan dengannya ingat saat Bersama-sama
memberikan rekoleksi sehari di salahsatu stasi yang menjadi bagian dari Paroki Medari – Paroki saya.
Rm. Heru di tingkat V saya di tingkat II Skolastikat MSF.
Kanonisasi dijalankan di Paroki Pasar Minggu domisili calon istri, Pastor Kepala Rm. Budi Pr,
menedelegasikan tugas penyelidikan status liber saat itu kepada pastor rekan alm. Rm. Hendrik Beribe
CSSR yang dulu juga mengajar di Kentungan. Berkas Kanonisasi dikirim ke Paroki Cepu – tempat akan
dilangsungkan pernikahan kami.
Bulan April 1997 tanggal 11 dilangsungkan peresmian pernikahan itu di Gereja Stasi St. Yohanes Gabriel
di Randublatung, bagian dari Paroki Cepu. Upacara Penerimaan Sakramen Pernikahan dipimpin Rm. IJ.
Gensi Sucahyo Pr dari Paroki St. Willibrordus Cepu – Keuskupan Surabaya. Mas Singgih hadir penuh
sepanjang acara berlangsung. Tidak memberi tahu kepada saya sebelumnya bahwa akan hadir saat itu.
Mas Singgih tampaknya meninggalkan Depok dan singgah ke Yogya lebih dahulu. Membawa mobil
Honda Civic dari Yogya. Dan rupanya menginap di salah satu hotel kecil yang ada di Cepu. 26 KM jauhnya
dari tempat tinggal istri di Randublatung. Di Randublatung kota kecamatan dari Kabupaten Blora –
memang belum ada tempat penginapan/ wisma. Mas Singgih yang dulu mengatakan Randublatung itu
tidak tergambar dalam peta Indonesia saat itu menjadi tahu dan hadir melihat dan mengalami langsung
seperti apa Randublatung itu. Mas Singgih hadir tepat pada waktunya. Menjadi penyelamat harga diri saya sebagai pengantin pria. Akan menjadi lucu jika saya berdua mempelai pria dan Wanita berangkat ke
gereja ikut naik dalam bus besar rombongan keluarga saya yang datang dari Yogya.
Mobil Honda Civic yang kecil itu diparkir di jalan kampung sebelah utara rumah pengantin wanita.
Sementara mobil pengantin yang disanggupi dipesan oleh kerabat pengantin wanita tidak jadi datang
dan tidak memberi kabar apapun. Syukurlah mas Singgih sudah berada di tempat dan juga membawa
Kamera besar kesangannya untuk mengabadikan moment penting dari salah satu titik awal perjalanan
hidup saya dalam membangun keluarga. Dengan Honda Civic itulah akhirnya pengantin pria dan
pengantin wanita dihantarkan ke gereja yang jaraknya kurang lebih 1 km dari rumah di tengah hujan
gerimis rintik rintik menjelang pukul 5 sore. Hujan berkat. Karena sebelumnya sudah hujan beberapa
hari sehingga pelataran tempat perjamuan di rumah digenangi dengan air. Mas Singgih menyayangkan
kenapa tidak memberi tahu sebelumnya sehingga mobil bisa dihias dengan bunga lebih dahulu.
Jadilah mobil pengantin tanpa hiasan bunga. Rupanya kerabat panitia yang menyanggupi menghubungi
pemilik mobil tidak konsekuen dengan pembagian tugas dan tanggung jawabnya. Pemilik mobil sedan
yang cukup mewah untuk ukuran di kota kecamatan itu datang sehari sesudah acara pernikahan selesai
dan memberitahu dan memohon maaf bahwa tidak pernah ada orang yang datang menghubunginya
untuk permohonan pemakaian mobilnya. Tetapi semua sudah selesai dengan lancar karena kedatangan
anggota Bramin yang menyelamatkan harga diri pengantin laki-laki yang juga anggota Bramin. Foto-foto
yang diabadikan mas Singgih juga masih terdokumentasi hingga sekarang ini. Pesan mas Singgih agar
didokumentasikan secara digital sekian tahun sesudahnya – saat kami sudah tinggal di Srengseng Sawah
ini – belum saya laksanakan.
Tidak lama kami menikmati hari-hari pasca pernikahan. Kami harus segera kembali ke Jakarta. Bekerja
seperti biasa. Saya juga mendapat panggilan untuk tes wawancara lamaran saya untuk menjadi guru
pada suatu sekolah Swasta terkenal di BSD, tempat wawancara di rumah seorang psikolog di daerah
Duren 3 Jakarta Barat. Saat ditanya – dengan jujur saya katakan bawa saya berstatus PNS. Saya belum
bisa membayangkan bahwa dari tempat tinggal di Depok ke BSD itu sangat jauh untuk ukuran waktu itu.
Apalagi kalau mengandalkan transportasi dengan kendaraan umum. Psikolog yang mewawancarai saya
menegaskan di dalam wawancara, kamu mau pilih yang mana? Menjadi Guru di BSD atau tetap menjadi
PNS. Dan pilihan saya tidak berubah – saya ingin tetap menjadi PNS.
Menjadi PNS itu menjadi orang yang merdeka seperti saya pernah katakan. Mau rajin bisa. Mau menjadi
pemalas juga bisa. Ketika saya menjalani masa orientasi di Sub Direktorat Pendidikan, beberapa teman
Senior punya pekerjaan sambilan mengajar – entah jadi guru atau jadi dosen. Pada saat itu seorang
dosen tidak harus memiliki kualifikasi S-2. Yang penting dapat mengajar di bidangnya dan memiliki ijazah
sarjana. Saya pernah mencoba menikmati cara mencari penghasilan tambahan seperti itu. Tetapi ketika
sedang orientasi di Direktorat lainnya, dan saya diminta menjadi asisten dosen dari Senior yang ada di
Bimas Katolik untuk mengajar di Universitas Taruma Negara Jakarta Barat saya kena free kick. Kepala
Sub Direktorat yang jujur dan lurus dalam bekerja yang menjadi atasan saya saat itu marah besar atas
perilaku saya yang mau mencari keuntungan di dalam jam kerja kantor dengan cara mengajar.
Sehari sebelumnya saya memang memohon izinnya bahwa besok saya akan keluar kantor kurang lebih
selama 3 jam. Pagi tetap bekerja di kantor lebih dahulu. Setelah mengajar kembali lagi ke kantor. Beliau
tidak memberikan izin. Beliau meyarankan jika mau mengajar agar tidak menggunakan waktu pada jam
kerja. Beliau tidak hanya bicara memberi nasehat saja – tetapi itu juga dipraktekkan dalam hidupnya.
Beliau mengajar pada waktu sudah pulang kerja, waktu itu jam kerja di kantor hanya sampai pukul
14.00. Sekarang karena hari Sabtu libur. Agar memanfaatkan hari Sabtu jika ingin mengajar.
Saya terlanjur menerima uang saku untuk transport dan makan siang dari Senior itu, sehingga tidak enak
jika harus membatalkan kesediaan itu. Order permintaan tolong untuk mengajar tetap saya lakukan.
Hari berikutnya diam-diam saya tetap berangkat. Seorang ibu rekan satu ruangan ketika ditanya
keberadaan saya, mencoba memberikan perlindungan kepada saya dengan mengatakan bahwa saya
sedang keluar kantor mengantar surat terkait dengan Kepanitiaan Natal Nasional. Dengan begitu
berharap agar kepergian saya dapat dimaklumi dan tidak menimbulkan kemarahannya. Karena jika
menjalankan tugas Panitia Natal Nasional – tugas itu menjadi bagian pekerjaan tugas tambahan dari
pegawai Bimas Katolik yang ditunjuk pimpinan untuk menjadi bagian dari kepanitiaan. Saya sejak awal
masuk pegawai sudah dimintai bantuan untuk menjalankan tugas kesekretariatan di Kepanitiaan itu.
Berhubung saya sudah memberitahukan sebelumnya. Sebenarnya beliau sudah tahu kemana saya pergi.
Saat saya kembali ke kantor beliau dengan muka merah dan tangan bergetar menahan marah, bertanya
kepada saya. Kemana saya pergi. Dengan jujur saya menjawabnya. Dan beliau teruskan dengan
pernyataan penilaian bahwa yang dibuat oleh para senior di unit lain itu bagian dari korupsi. Korubsi
waktu. Beliau katakan kalau menjadi PNS itu gajinya memang kecil. Itu harus kamu sadari sejak awal.
Jika kamu tidak mau menerima keadaan itu. Jangan pernah menjadi PNS. Sekarang saja kamu berhenti
dari masa oreintasi sebagai CPNS ini- tidak usah berlanjut menjadi PNS. Saya diminta menghadap Kepala
Bagian Umum dan Kepegawaian untuk meminta pendapatnya. Tidak boleh berada di ruangan tempat
saya menjalankan orientasi di Subditnya sebelum menghadap kepala Bagian Kepegawaian dan
menyampaikan apa pendapatnya.
Saya seperti seekor ayam jago yang menyembunyikan ekornya di antara kedua kakinya, segera
menghadap Kepala Bagian Kepegawaian yang sudah kenal saya sebelumnya. Karena sebelum orentasi
di Subdit itu saya sudah sebulan melakukan orientasi di Bagian nya. Beliau mengatakan dengan
bijaksana. Saya paham Hari – saya paham kedisiplinan Bapak itu – dan juga paham bagaimana unit-unit
lainnya melaksanakan tugasnya. Paham juga untuk orang tertentu tidak dapat tahan duduk di belakang
meja saja. Jika memiliki potensi untuk berkembang dia akan bergerak ke arah yang lebih jauh. Tetapi
kamu harus paham – apa yang berlaku di ruangan lain ( Subdit/Bagian) jangan di bawa di ruangan yang
sekarang ini. Kamu taati apa yang diarahkan oleh pimpinan di ruanganmu saat ini. Sampaikan pada
beliau, kamu sudah menghadap saya dan katakan bahwa kamu sudah saya marahi. Kamu mohon maaf
dan janjikan akan menjalankan tugasmu sebaik-baiknya. Nasehat yang bijak itu saya laporkan. Saya
didiamkan. Dan untuk laporan pekerjaan bulanan saya di tempat itu di coretnya sampai 12 kali baru
kemudian diterima setelah saya melakukan revisi sebanyak 12 kali itu. Ampun ….
Meskipun demikian saya bersyukur mendapatkan orang yang lurus dalam menjalankan tugasnya. Saya
mendapatkan teladan yang baik dalam menjalankan tugas sebagai PNS. Tawaran kesempatan lainnya
dari Senior untuk memberikan retret kepada anak-anak sekolah di jam kerja selalu saya tolak. Saya tidak
ingin membuat konflik batin dalam melaksanakan pekerjaan saya.
Pada saat kebijakan pemerintah berubah. Bekerja di kantor akan dilaksanakan pada hari Senin sampai
Jumat mulai pukul 07.30 sampai pukul 16.00/ 16.30 dengan fasilitas uang makan. Hari Sabtu libur saya
mendapatkan tawaran untuk mengajar Pendidikan Agama Katolik di Sekolah Keperawatan Pemda DKI
yang bertempat di belakang RSUD Pasar Rebo. Dari rumah kontrakan saya di Pasar Minggu tidak terlalu
jauh dan saya menyediakan diri untuk itu. Saya dapat menjalankan tugas itu selama 3 bulan. Setelah –
Silabus – Rencana Pembelajaran Semester – Buku Pegangan yang akan digunakan tertata. Jadwal
mengajar hari Sabtu diganti ke hari Kamis yang akan menabrak waktu jam kerja. Saya perlu mempertimbangkan hal ini – ingat kembali pimpinan pada saat dulu sebagai pegawai baru saya sedang
menjankan orentasi.
Saya meminta pertimbangan kepada atasan langsung Kasubbag Kepegawaian. Beliau memberikan saran
yang bijaksana. Jangan dijalankan tanpa seizin pimpinan. Mohonlah secara tertulis kepada pimpinan,
dalam hal ini Sekretaris Ditjen Bimas Katolik. Jika pimpinan memberikan izin – jalanilah dengan gembira
kesempatan itu. Tidak setiap pegawai mendapatkan kesempatan itu. Tetapi jika pimpinan tidak
memberikan izinnya. Taatilah. Saya sudah melihat masa depanmu saat ini. Sejak kamu menjadi pegawai
baru kamu terus “digunakan” oleh pimpinan. Maka potong jari telunjukku jika di tahun 2011 nanti kamu
belum masuk di golongan IV/a (saat itu masih di tahun 1999). Jangan kamu rusak masa depanmu hanya
dengan penghasilan tambahan yang remeh temeh itu. Saya tahu itu dibutuhkan tetapi menjaga masa
depanmu yang lebih baik itu lebih berguna. Kami-kami yang sudah rusak biarlah jangan kamu tiru.
Singkat kata permohonan izin untuk mengajar di hari Kamis dalam jam kerja itu tidak saya dapatkan.
Saya taat seperti ketaatan saya pada saat mengucapkan kaul kebiaraan. Taat kepada pimpinan yang
menjadi wakil Tuhan untuk mengarahkan masa depan hidup saya.
Apa yang diramalkan atasan saya Kasubbag Kepegawaian itu memang menjadi kenyataan. Sejak tahun
2000 saya sudah diangkat sebagai Kasubbag Kepagawaian menggantikan jabatan atasan saya. Tahun
2006 masuk dalam jajaran Eselon 3 Kasubdit Penyuluhan menggantikan pak FX. Nurwiyono, Tahun 2008
Menjadi Kasubdit Pendidikan Tinggi menggantikan Drs. Sihar Petrus Simbolon. Tahun 2011 yang tadi
diramalkan masuk dalam pangkat jabatan golongan IV/a, senyatanya sudah saya lampaui karena di
bulan April tahun 2011 saya sudah mendapatkan SK Kepangkatan Pembina Tingkat I – golongan IV/b
satu tingkat lebih tinggi dari yang diramalkannya.
Hujan berkat beberapa hari menjelang pernikahan saya dan gerimis saat saya diantar Mas Singgih untuk
mengucapkan janji pernikahan di Gereja Stasi St. Yohanes Gabriel Randublatung itu rasanya
menggenangi kehidupan saya melalui berbagai perjuangan dengan mempertahankan dan menghidupi
nilai-nilai yang baik. Yang menurut saya sesuai dengan yang menjadi kehendak Tuhan. Dengan
mendengarkan orang-orang yang telah berpengalaman sebelum saya, dengan meneladan kejujuran dan
kelurusannya menjalankan tugas yang dipercayakan Tuhan dalam setiap penggal kehidupan saya.
Mas Singgih, sampeyan sahabat sejati yang dikirim Tuhan dalam perjalanan hidup kami. Amin ya? Amin.
Jakarta, 24 Oktober 2025
Ansgarius Hari 45 Wijaya

