RAWAMANGUN SEBAGAI POST AWAL PERTEMUAN BRAMIN
BRAMIN 7
Saya akan buka Kembali memori saya tentang awal-awal pertemuan Bramin Wilayah Jabodetabek. Yang
saya ingat waktu itu paroki Rawamangun sangat terbuka untuk kedatangan kami Warga Bramin yang
senyatanya memang tidak dapat lepas begitu saja dengan semangat Kekeluargaan yang dihidupi pada
saat kita tinggal bersama – makan bersama – beropera bersama – menjalani sejarah bersama dalam
lintas generasi waktu dari Noviat MSF awal di Ungaran, kemudian di Salatiga dan Skolastikat Jl. Supadi
Kotabaru Yogyakarta dan Jl. Kaliurang Km. 7.5 Banteng Yogyakarta.
Di awal pertemuan kembali para Braminers di Jakarta, dimana kita tidak lagi berada dalam panggilan
menjadi tertahbis – menjadi seorang imam. Kita masih disatukan dalam semangat keluarga Kudus. Untuk
bertemu lagi. Ngobrol. Makan Bersama dengan masakan B1 dan B2 yang dimasak di ruang makan lantai
2 Pastoran Gereja Paroki Rawamangun Jl. Balai Pustaka Baru No.6, RT.6/RW.7, Kec. Pulo Gadung, Jakarta
Timur, Jakarta 13220. Saya lupa siapa yang jadi pastor Paroki di sana pada waktu itu sehingga sangat
terbuka menerima kedatangan para mantan MSF yang berkumpul untuk sekedar mengenang masa lalu
dalam persaudaraan sehingga ruang makan pastoranpun menjadi kehilangan privacy nya karena
menerima saudaranya yang tersebar di sekitaran Jakarta untuk mengadu nasib – menempuh hidup baru
di luar panggilan Imamat yang dulu mereka cita-citakan. Apakah Rm. Windiyatmoko MSF yang
generasinya tidak jauh dari teman-teman yang sedang berkumpul? Atau Rm. Suryo Sunaryo MSF yang
selalu merengkuh kita sebagai adik-adik dan saudaranya yang perlu istirahat sebentar menikmati
kebersamaan sebagai bagian tidak dilupakan dari Konggregasi MSF.
Saya masih ingat alm. Purnomo yang terampil memotong-motong daging B-1 dan B-2 yang dibeli dari
Pasar Pramuka dan kemudian memasaknya di atas wajan besar di atas kompor gas ruang makan
pastoran. Dia masukkan juga perasan potongan jeruk besar berawarna kuning ranum yang diambilnya
dari meja makan Romo-romo. Setelah matang rasanya.. woow leuker… heerlijk eten zonder te betalen.
Alm. Purnomo adik kelas saya ini memang terampil dalam banyak hal. Saat dulu kami menjadi Pembina
Pramuka di Gudep Paroki Banteng dialah yang melanjutkan tugas kami seniornya untuk mendampingi
anak-anak penggalang dari SD Kanisius Sengkan dan SMP Kanisius Kentungan. Dia sangat produktif dan
banyak inistifnya. Anak-anak pramuka yang jaga parkir atas seijin Rm. Suryahadi Atmoko pastor Paroki
Banteng. Hasil uang parkir ditabung dan dikembangkan untuk bidang usaha. Membuat rosario dan
dijual. Membuka usaha jualan sembako telur, gula, dll yang dijual di depan gereja Banteng. Bu Sisil
sebagai donatur dan pengarah dalam bidang usaha. Hasil tabungan di akhir tahun digunakan untuk
rekreasi bersama atau modal pertemuan kegiatan kepramukaan. Kami seniornya diundang untuk
memberikan rekoleksi kepada anak-anak pramuka sambil sekalian rekreasi yang menyenangkan mereka.
Setelah mengundurkan diri dari MSF di tingkat II dia masuk menjadi bagian dari Dioses Keuskupan
Lampung. Mungkin memang karena panggilan hidupnya bukan menjadi imam, tahu-tahu kami bertemu
kembali di Jakarta. Dia membina anak anak jalanan dalam bidang UMKM di Jakarta. Bekerja di Radio
Sonora di Jakarta. Tentu saja soal masak memasak yang menjadi ketrampilannya sudah terbina baik di
rumah maupun saat dia menjadi pembina pramuka.
Dalam pertemuan kumpul kumpul ini seingat saya hanya kaum muda (kami yang masih muda-muda)
yang belum lama berkelana di Jakarta. Para senior tidak hadir pada kesempatan ini. Para senior hadir
dalam lanjutan pertemuan nanti pada kesempatan lainnya. Yang hadir menjadi lebih banyak jumlahnya
dari pada pertemuan pertama ini yang berkesan hanya karena makanan nya yang begitu itu. Saya tidak ingat lagi apa topik yang dibahas dalam pertemuan itu selain suasana yang menggembirakan dalam
persaudaraan yang kami temukan.
Pada tahapan berikutnya dan beberapa kali. Biasanya untuk berkumpul dalam tema Natal atau Paskah
bersama dengan keluarga. Bukan lagi ruang pastoran yang digunakan. Tetapi ruang Aula yang ada di
sebelah timur pastoran. Ada kelompok koor yang khusus dibawa oleh seorang Senior dari parokinya.
Beliau terlibat aktif dalam paduan suaranya dan piawai menjadi dirigennya. Senior ini sudah agak lanjut
usianya. Saya lupa namanya dan dari mana tempat tinggalnya – meskipun dalam pertemuan yang lebih
banyak itu juga ada sesi perkenalan satu sama lain dan sejarah singkat masa bergabungnya dengan
Konggregasi MSF.
Para senior itu mengalami masa Novisiatnya bukan di Salatiga. Tetapi di Ungaran. Mereka berkisah
mengenai indahnya pemandangan Gunung Telomoyo di daerah itu. Sementara generasi berikutnya yang
ber Novisiat di Wisma Kana (sekarang namanya dulunya namanya Wisma Betlekem) Jl. Rumah Sakit/ Jl.
Muwardi 13 Gendongan Salatiga dapat mengenangkan kembali pemandangan Rawa Pening dari Teras
Ruang Rekreasi. Kenangan indah masa lalu itu menyatukan. Meskipun para Yunior tidak mengalami
langsung – para Yunior juga dapat merasakan betapa para senior itu juga dapat mengenang dan
merindukan masa lalunya. Generasi baru Bramin yang lahir dari Novisiat Jl. Cemara di Roncalli Salatiga
belum ada yang tinggal di Jakarta pada waktu itu.
Para senior suka bercerita tentang pengalaman masa lalunya. Baik yang dipandang sebagai sesuatu yang
indah, maupun pengalaman yang menyakitkan. Yang nyeniman, indah dikenang. Misalnya dari pengalaman pak Eddy Suhendro yang menceritakan kesempatan ambulasinya saat pendidikan di Novisiat Ungaran. Beliau kalau jalan-jalan di daerah pegunungan Telomoyo atau sekitaran Novisiat itu, kadang juga ingin melihat keindahan pemandangan orang yang sedang mandi di kali di bawah sana. Pemandangan romantis seperti itu bisa jadi menjadi cerita romantis saat beliau menjadi penulis roman juga dituangkan dalam ceritanya. Ada orang segenerasi dengan beliau juga yang setelah keluar dari Biara menjadi Penulis Novel yang terkenal pada masanya: Di Cintamu Kutermangu – yaitu Bapak L. Murbandono HS, yang diterbitkan oleh Hidup Katolik tahun 1978. Saat hadir dalam pertemuan beliau jika berbicara selalu mencoba mengungkapkan bahan candaan untuk ditertawakan bersama…
Beberapa kisah sedih yang masih saya ingat, misalnya pengalaman dari seorang Bapak yang membawa
rombongan koor yang mengiringi perayaan ekaristi dan menjadi dirigen itu adalah pengalaman
perjalanan panggilannya. Beliau generasi yang skolastikatnya bukan di Skolastikat MSF Jl. Kaliruang KM.
7.5. Tetapi dari Skolastikat MSF yang dahulu ada di daerah Kotabaru di Jl. Supadi. Saya embayangkannya mungkin di sekitar SMA Negeri III dekat lapangan Kridosono – atau dekat Gereja Kotabaru. Beliau sudah hampir tertahbis dan sebenarnya ingin terus menjadi imam. Bahkan pernah berkarya pastoral di daerah Girisonta. Tetapi entah kenapa akhirnya tidak bisa terus menjadi imam. Beliau harus diberhentikan di tengah jalan dan harus meninggalkan biara atas keputusan pimpinan. Jadilah kemudian berjuang mencari pekerjaan untuk masa depannya di Jakarta. Seingat saya beliau mendapat pekerjaan di satu perusahaan asing. Tetapi sebenarnya semangatnya untuk bermisi tidak pernah padam. Maka di parokinya beliau juga tetap aktif terlibat dalam kehidupan menggereja. Senior yang mungkin sebaya adalah Bapak Hendro Warsito (alm),
Bapak Hendro Warsito yang sering dipanggil PakDhe, sudah ditahbiskan menjadi seorang Imam, bahkan
menjadi Magister Novisiat di Ungaran. Beberapa anggota Bramin yang hadir juga pernah menjadi frater
Novis di bawah bimbingannya. Beliau menceritakan masa lalu yang tidak mengenakkan sesudah
meninggalkan biara. Karena setelah berada di luar biara sikap beberapa Romo yang masih ada dalam
biara kurang bersahabat dan menganggapnya sebagai orang yang tidak pantas lagi datang menginjakkan
kaki di biara. Maka ketika datang di Skolastikat MSF di Banteng – diusir bahkan di lempar sandal agar
segera pergi. Suatu keadaan yang sungguh membuat prihatin.
Kisah kisah suram seperti itu yang saya ingat keluar di permukaan dalam sharing pendek waktu
pertemuan. Perasaan duka seperti itu tentu juga menjadi perasaan bersama. Mencekat. Tetapi seburuk
apapun pengalaman yang dikisahkan dapat menjadi kenangan dan pembelajaran bersama. Tidak untuk
disimpan sebagai luka yang terus akan menyakitkan tetapi dibuka untuk mendapatkan kesembuhan.
Karena kita hadir untuk saling menghibur dan menguatkan. Termasuk pengalaman yang sangat tidak
menyenangkan, karena dari sisi pekerjaan karena ada yang sampai bekerja sebagai tukang cukur untuk
menopang kehidupannya. Jauh berbeda dengan ketika masih menjadi seorang imam, segala sesuatu
untuk masalah ekonomi sudah tersedia dan dimana-mana dihormati oleh umatnya. Luar biasanya –
kendatipun kehidupan di luar biara, diluar jalan panggilan tertahbis menjadi imam – meskipun dalam
kesulitan ekonomi tetap menyerahkan sebagian waktunya untuk melayani Gereja.
Bapak Dirgono Mastu (alm), yang mengalami hal di atas, saat itu sudah bekerja penuh waktu melayani di
Gereja Katolik di Jakarta Barat. Saya lupa yang mana apakah di Trinitas Cengkareng, atau di Maria
Imaculata Kalideres, atau di St. Kristoforus Grogol. Beliau menciptakan penataan – manajemen
kesekrariatan Gereja secara komputerais. Belum menggunakan istilah digitalisasi. Mungkin yang
kemudian menjadi program Biduk (Basis Integrasi Data Umat Keuskupan) Agung Jakarta saat ini . Saya
dan keluarga ikut kendaraan Kijang nya pada waktu pulang dari Rawamangun ke tempat tinggal di
daerah Rawabambu- Pasar Minggu dan kami turun di perempatan lampu merah Tanjung Barat yang
waktu itu belum dibuat Flyover seperti saat ini. Kami juga ngobrol akrab sepanjang perjalanan dengan
ibu Dirgono yang mendapingi suami dalam perjalanan dan pertemuan di Rawamangun waktu itu.
Tidak semua harus mengalami hidup yang sulit. Ada sejumlah Senior yang mapan hidupnya. Menurut
apa yang saya saksikan. Cerita ini tidak bermaksud untuk menampilkan ukuran materi yang duniawi
sifatnya. Karena ukuran ini bisa juga berubah-ubah, sesuai dengan kehendak Tuhan yang Maha kaya.
Dalam pertemuan-pertemuan selanjutnya yang masih bertempat di Paroki Rawamangun makin lama
makin tambah mengenal dari sharing atau obrolan yang umum tetapi personal.
Pak Hadi Subroto yang pernah saya ceritakan membantu saya mendapatkan pekerjaan sebagai Editor,
menurut saya sudah cukup mapan hidupnya. Dari kisah yang saya dengar sebelum meninggalkan biara
beliau pernah menjadi Spiritual di Skolastikat MSF dan saat itu tinggal di wilayah Paroki Pulo Mas tidak
jauh dari paroki Rawamangun. Kantor tempat kerjanya di Menteng Jl. Surabaya. Banyak buku kecil
tulisannya yang saya golongkan sebagai buku-buku Psikologi Praktis. Seperti buku-buku di Novisiat
terbitan CLC. I am OK You Are OK. Dll. Beberapa bukunya saya pernah baca. Diterbitkan oleh Gramedia.
Tulisan itu bisa jadi terispirasi dari studinya di Roma dalam bidang Spiritual. Saya pernah ceritakan beliau
bekerja sama dalam hal perbukuan – dengan Universitas Terbuka. Tentu saja bahasa asing dan
terjemahan juga beliau kuasai. Satu hal yang menarik beliau sampaikan dalam satu pertemuan dengan
keluarga Bramin saat istrinya melahirkan anak kembar. Beliau katakan : “Tuhan aneh, saya sudah
berusia 52 tahun diberi berkat saja anak kembar”.
Saya menyesal sekali, karena beberapa waktu kemudian dalam jarak waktu yang cukup lama – saya baru
mendengar bahwa beliau sudah dipanggil Tuhan dan dimakamkan di Kalimulya Depok. Mungkin putera
kembarnya itu belum berusia 5 tahun saat beliau kembali kepada Tuhan. Pada waktu itu komunikasi
belum seintensif sekarang dengan kemajuan teknologi dan HP Androit. HP yang ada HP Klasik. HP Jadul
yang hanya bisa untuk telpon dan sms – tidak ada pemutar musik dan kameranya. Model Nokia, Ericson,
Motorola, Siemens, yang batery-nya harus di cash beberapa jam. Bentuknya seperti telpon rumahan
atau Walki Talky yang dapat dipakai untuk melempar anjing bisa klenger. Sayapun belum punya HP
seperti itu. Terlalu mahal harganya pada waktu itu untuk ukuran saya tidak terbeli. WA Grup seperti
sekarang belum lahir. Fasilitas komunikasi masyarakat umum masih dengan pager (juga hanya orang
tertentu yang memilikinya), atau telpon koin di telpon box umum yang ditujukan ke alamat telpon
rumah – yang harus antri berderet, atau telpon dengan kartu yang agak mahal – jika pulsa habis kartu
akan dilubangi secara otomatis, atau wartel, atau komunikasi digital dengan milist. Jadi informasi
penting bisa datang terlambat.
Bapak Padmo Widodo (alm), saya pernah dengar kisahnya sepintas yang cukup gentle, karena beliau
sebagai imam pernah menjadi pastor paroki di Temanggung tempat saya menjalani TOP Tahun Pertama.
Tampaknya beliau cukup mapan dan menangani bidang SDM. Dari beliau yang saya ingat dalam suatu
pertemuan Bramin entah yang ke berapa kali, menyatakan – kondisi dan situasi sekarang ini sudah jauh
berubah. Dahulu mantan romo masih dapat memperoleh pekerjaan di Jakarta ini dengan relatif lebih
mudah dan biasanya di bidang SDM. Sekarang bidang itu – jika ada – rata-rata sudah dihaier dari orang
orang Profesional di bidang Psikologi SDM. Kita lulusan Filsafat Teologi sudah sulit bersaing untuk
menangani bidang manajem SDM. Beliau sendiri mengakui dapat berkat dari zamannya. Orang yang
seperti itu tidak banyak. Beliau sebut antara lain Bapak Broto Santoso, Bapak Minarto yang berkarya di
Kompas. Beliau sangat prihatin dengan saudara-saudara Bramin generasi yang baru datang ke Jakarta
karena keadaan menjadi semakin kompleks untuk mencari pekerjaan. Pesannya – kalau ada frater atau
romo yang ragu-ragu dalam panggilannya – sebaiknya jangan mudah mengundurkan diri, karena
kehidupan di luar itu tidak mudah. Jangan hanya dilihat indahnya saja hidup di luar. Perjuangan di awal
bisa cukup melelahkan dan dapat membuat putus asa.
Bapak Broto Santoso, termasuk tokoh Bramin yang mapan yang disebut oleh Bapak Padmo Widodo di
atas. Untuk hal ini saya akan menceritakan dalam seri terpisah, karena cerita saya agak cukup panjang.
Bapak Broto, mohon izin sebelumnya. Tentu yang saya ceritakan tentang Bapak – yang saya kenali
menurut pandangan dan kisah hidup perjumpaan saya yang tersimpan dalam relung hati saya tentang
Bapak Broto Santoso.
Catatan seri ini. Saya cukupkan sekian dulu.
Teriring doa untuk para Senior yang saya sebutkan namanya di atas. Bapak Hadi Subroto, Bapak Hendro
Warsito, Bapak Dirgono Mastu, Bapak Padmo Widodo. Semoga Bapak-Bapak para senior yang sudah
dipanggil Tuhan yang namanya menjadi bagian dari cerita saya maupun yang namanya tidak dapat saya
ingat kembali: Damai abadi di sisi Tuhan. Keluarga (anak-cucu) yang ditinggalkan selalu dalam
perlindungan Tuhan dan tetap merawat harta berharga dalam rupa iman yang terus tumbuh dan
berbuah dalam keutamaan.
Jakarta, 25 Oktober 2025
Ansgarius Hari 45 Wijaya

