TEMAN-TEMAN SEANGKATAN TOPER (1)
BRAMIN 11
Setelah menuliskan perkenalan saya dengan rm. Cokro di Kalimantan saya tergerak untuk membuat
catatan mengenai teman-teman seangkatan Toper saya. Karena 2 tahun mengalami Tahun Orientasi
Pastoral, maka ada dua Angkatan Tahun Orientasi Pastoral saya. Pertama teman seangkatan sejak Novis.
Dari 14 tinggal 4 yang lanjut TOP. Rm. Tjoek Prasetyo setelah selesai Novisiat langsung masuk ke Tingkat
II di Kentungan menjadi kakak kelas, menjadi seangkatan dengan Rm. Triyatmoko MSF dkk.
Kami berempat: Rm. Fajar Himawan, Rm. Timo, Mas Teguh Budiyanto, dan saya. Rm. Timo karena
anggota MSF Provinsi Kalimantan ditugaskan TOP di Balikpapan. Rm. Fajar Himawan di Paroki St. Yusup
Pati Bersama dengan Rm. PC. Yoedho Diharjo MSF dan Rm. Sunarko MSF, Mas Teguh di Paroki Keluarga
Kudus Atmodirono, dengan Rm. Pranoto Suryo MSF, Rm. Niko Anto Seputro MSF, Rm. Wignyo Sumarto
MSF, sedang saya di Paroki Temanggung – Parakan dengan Rm. Anton Gunardi Prayitno MSF dan Rm.
Tirto Dewantoro MSF, ditambah Frater Rubidi MSF yang sedang menjalani Pastoral sambil menunggu
tahbisan di tahun berikutnya.
Selama menjalani masa Tahun Oreintasi ini kami beberapa kali melakukan evaluasi, sekitar 3-4 bulan
sekali. Pembimbing TOP yang ditunjuk selain masing-masing pastor Kepala yang ada di Paroki tersebut
dari Skolastikat adalah Rm. Margo Murwanto MSF. Suatu kali kami mengadakan Evaluasi di satu Villa di
Bandungan, Villa milik keluarga Katolik yang tinggal di wilayah paroki Atmodirono Semarang. Dalam Villa
yang cukup besar itu hanya kami berempat yang tinggal selama week end. Saya lupa apa saja yang
dibahas dalam evaluasi yang dibimbing Rm. Margo Murwanto MSF itu. Saya hanya ingat dala
kesempatan ini saya baru perama kali makan buah delima yang dibeli di pasar Bandungan. Baru kali ini
saya pertama kali bermain bilyard yang meja bilyardnya ada di Villa itu.
Evaluasi ke dua. Di Paroki Atmodirono. Yang saya ingat kisah mas Teguh dalam mendampingi pemulung.
Dalam mendampingi umat menghitung kolekte yang banyak sekali uangnya dan kadang-kadang ada juga umat yang tidak jujur. Candaan Rm. Niko karena katanya ada anak Mudika – mahasiswi psikologi
Sugiyopranoto – yang sering menanyakan tentang saya. Rm. The Tjun An yang berkarya di Rawamangun
sedang berada di Atmodirono pada waktu itu. Masih sehat-segar bugar. Beliau bercerita kondisi Sekolah
yang ada di Rawamangun yang dikelola oleh Konggregasi – katanya, di Jakarta itu aneh, jika sekolah
bayarannya murah dianggap tidak bermutu. Pada saat uang sekolah dinaikkan jumlah siswanya malah
bertambah. Rm. Tjun An menawarkan banyak buku jika ada yang mau. Katanya suka membaca buku dan
setiap bulan selalu membeli buku-buku. Katanya dalam obrolan itu – kita para Romo yang berkarya
untuk gereja perlu memahami manajemen. Bukan hanya hal-hal yang rohani dan teologi saja. Paroki itu
juga perlu menejemen. Bahan evaluasinya TOP yang dibicarakan apa – malah tidak lagi saya ingat.
Yang berkesan bagi saya, di ruang pertemuan pastoran itu tersedia ber krat-krat minuman Sprite –
Temulawak – Bir. Jika butuh minuman seperti itu tinggal ambil sesuka hati dan sekuatnya minum –
bebas. Ada tanggul-tanggul dari semen untuk menghalangi air banjir masuk ke pastoran. Di depan pintu-
di depan garasi – dimana-mana dibuat penahan air dari semen itu karena paroki Atmodirono sering
kebanjiran.
Evaluasi terakhir dilaksanakan di Pati. Beberapa waktu sebelumnya baru ada musibah. Motor GL yang
ada di garasi kebakar karena api lilin, saat memeriksa mesin yang ngadat. Di sini juga tidak ingat bahan
evaluasinya. Yang ingat difasilitasi oleh Rm. Yoedho Diharjo setelah selesai evaluasi bersama Rm. Margo
Murwanto MSF kami diajak jalan-jalan ke Pantai di daerah Lasem. Melewati bukit petilasan Sunan Bonang di sebelah kanan jalan, ketika perjalanan menuju pantai berpasir di daerah itu. Kami orang
dewasa berempat berlari-lari di Pantai berpasir, dan mencoba mandi di air laut. Rm. Yoedho dan
drivernya tetap berada di mobil di tempat parkir mobil. Pantai bukan tempat wisata, sehingga sepi
pengunjungnya.
Lebih berkesan saat pulangnya. Saya tidak ingat mas Teguh pulang dari Pati naik apa. Saya dengan Rm.
Margo Murwanto, MSF dari Pati naik bus Umum dari tempat menunggu bus yang menuju Semarang dari
Pati, namanya Puri. Sampai di Semarang Kaligawe sebelum masuk terminal air banjir melimpah ke
jalanan. Saya dan Rm. Margo turun dari bis berjalan kami sandal/sepatu dilepas dan di jinjing di tangan –
celana panjang digulung. Kami mulai berjalan kaki dari daerah Sayung sebelum masuk terminal Terboyo.
Sampai hari ini daerah Sayung masih sering di landa banjir. Dari terminal Terboyo naik bus ke arah
Yogya. Tetapi kami berhenti lebih dahulu di dekat pasar Ambarawa untuk makan sore dengan nasi
goreng. Lanjut ke arah Yogya saya turun di Secang- karena saya harus pulang ke Temanggung. Ganti bis
dari terminal Secang ke Temanggung.
Tidak terlalu berkesan – hanya datar saja kisah Evaluasi Tahun Orientasi Pertama di Temanggung ini.
Yang berkesan bagi saya adalah pelaksanaan tugasnya. Temanggung – Parakan masih satu Paroki.
Parakan sedang dipersiapkan sebagai Paroki Mandiri. Statusnya masih sebagai Paroki Administratif.
Tugas saya rasanya lebih banyak di daerah Parakan. Parakan juga punya stasi-stasi yang jauh, seperti
Wates dan Cemoro yang berbatasan dengan wilayah Wonosobo. Ke arah Sukorejo ada satu stasi di
sebelah kanan jalan. Ada stasi Gunung Payung. Stasi Mangunsari. Rm. Tirto Dewantoro MSF yang lebih
banyak melayani di daerah yang jauh ini. Di Stasi Cemoro membangun satu kapel yang sangat bagus
karena ada di perbukitan dan persawahan yang bergunung-gunung udaranya sangat dingin. Daerah ini
adalah bagian dari wilayah pegunungan Sundoro. Hasil utama pertanian berupa sayur-sayuran dan
tembakau.
Yang berkesan di Stasi Wates yang sudah dekat dengan daerah Wonosobo ini, di stasi ini jika beribadah
lagu-lagunya diambil dari Kidung Adi. Buku berbahasa Jawa untuk ibadah. Ibadahnya diiringi dengan
gamelan. Anak-anak remaja pandai menyanyikan lagu berbahasa Jawa gending Jawa dengan nada yang
tepat dalam iringan gamelan itu. Halaman rumah umat Katolik di tempat saya menginap ditanami
jagung dan kentang. Di siang haripun kabut bisa datang sewaktu-waktu karena letak ketinggian di
daerah ini.
Daerah ini seperti daerah yang terisolir, maka jika ada guru pendatang dari daerah lain tidak akan kersan
tinggal di sini. Jalur jalan yang berkelok kelok di atas perbukitan meskipun bisa dilewati kendaraan roda
4 tetapi jarang sekali kendrin roda 4 yang lewat. Hanya satu dua kendraan pick up yang akan
mengangkut tembakau. Itupun bisa di hitung dengan satu jari dan jarang. Kadang ada motor yang lewat.
Jalan masih makadam – berbatu kali dan belum di aspal. Kadang di sisi kanan atau kiri ketemu jurang
yang cukup dalam. Meskipun di bawah bukan Semak belukar tetapi lahan pertanian yang ditanami
sayuran atau tembakau.
Suatu saat ada kesempatan pengangkatan guru SD dan orang yang diajukan adalah orang Katolik asli
dari daerah ini. Karena dari segi Kesehatan memiliki keterbatasan maka dalam pemeriksanaan
kesehatan diajukan orang lain yang sungguh berbadan sehat. Akhirnya strategi itu dapat berhasil. Yang
bersangkutan dapat terangkat menjadi PNS Guru SD dan krasan tinggal di sini karena dia memang orang
Katolik yang asli dari daerah ini. Peristiwa ini mengingatkan saya ayat Injil “Cerdik seperti ular- tulus seperti merpati”. Guru SD yang cerdik dan tulus ini terampil memainkan gendang dalam mengiringi
Ibadah berbahasa Jawa itu.
Stasi Cemoro mengesankan saya karena di tempat itu dibangun Gereja Kapel yang cukup megah di atas
bukit. Bangunan itu sudah terselesaikan pada zaman Rm. Tirto melayani sebagai pastor rekan dari Paroki
Temanggung – Parakan. Romo Tirto mencarikan donatur untuk Pembangunan Gereja dari Jakarta. Suatu
saat saya ditugaskan untuk melayani masa pekan suci dan harus menginap di daerah ini berhari-hari.
Pada hari Raya Kamis Putih, harus mencuci kaki 12 umat yang mewakili para rasul. Kaki petani tidak
selalu bersih memakai sandal. Ada juga kaki kotor karena tidak memakai alas kaki. Rata-rata petani
menanam tembakau dan sayuran. Di lahan mereka walaupun contour tanahnya berbukit-bukit tetapi air
jernih mengalir dari parit-parit yang menampung air turun dari pegunungan itu. Sejauh saya mengetahui
tidak ada musim kering di daerah ini. Sayuran yang paling berkesan untuk saya adalah sayur ceriwis –
tanaman sayur seperti kol tetapi bisa tumbuh tinggi ramping berdaun hijau tidak terlalu lebar. Umat
menjamu saya makan di rumahnya dengan sayur ceriwis yang direbus utuh batang dan rantingnya
disajikan dengan sambal cabe merah, dengan lauk ikan asin peda, yang disajikan di atas meja yang lebar
dengan nasi dari beras panen sendiri yang masih hangat berkepul asapnya. Saat makan dengan sayuran
daun ceriwis yang sudah direbus itu dipetik langsung dari batangnya yang disajikan di atas meja.
Rasanya nikmat luar biasa karena dapat langsung menghangatkan tubuh dari udara dingin yang
merambat menyusup pori-pori menembus kulit.
Saya masih berkesan dengan daerah ini dengan live in para siswi SMA St. Ursula Jl. Pos Jakarta. Ketika
saya mengunjungi mereka Pak Sosro Ketua Stasi menyampaikan bahwa Anak anak yang sedang Live-in
ini diisukan oleh yang non muslim bahwa kedatangan mereka merugikan masyarakat. Ketua Stasi
membela kedatangan mereka dengan memberikan penjelasan bahwa mereka tidak seperti yang
diisukan oleh orang-orang yang tidak menyukai kedatangan anak-anak dari kota Jakarta ini. Dia
menyatakan bahwa bahwa mereka tidak merugikan. Dari sisi materi mereka malah memberikan uang
ganti untuk akomodasi dan konsumsi selama mereka tinggal di rumah umat dengan nilai uang yang
lebih tinggi daripada yang keluarga-keluarga berikan untuk menyediakan makan dan akomodasi bagi
mereka. Siswi-siswi itu sesudah selesai live in di Cemoro ini kadang-kadang masih berkirim surat kepada
warga umat di stasi Cemoro melalui Alamat pastoran Temanggung. Mungkin petugas kantor pos tidak
sampai menjangkau daerah mereka yang terlalu jauh dari kota. DI saat kunjungan ke Stasi itu surat-surat
itu di bawa dari temanggung untuk diserahkan kepada mereka yang dikirimi.
Saat saya menengok stasi ke arah Sukorejo, anak-anak SMA St. Ursula ikut pergi ke sawah, memberihkan
rumput di ladang, menacari rumput untuk kambing, dan di rumah singgah mereka diajari membuat
emping melinjo. Daerah ini tanah liatnya sangat lengket seperti ketan- berwarna hitam, jika selesai
hujan, tanah yang menempel di roda sepeda motor dan agak sulit dilepaskan. Bisa lepas kalau dicungkil
dengan bilah bambu. Saya jatuh bangun karena motor CG-110 yang digunakan untuk melaksanakan
tugas rodanya tersumbat tanah liat yang lengket ini sampai penuh pada spakbornya. Di sini saya kenal
pertama kalin istilah “kepetel” dan nanti saat tugas di Kalimantan di daerah Transmigrasi seringkali juga
mengalami perjalanan yang terhambat tanah liat, “kepetel “ ini, hanya warna tanahnya bukan hitam
tetapi merah.
Dari stasi ini saya mengajar salah satu OMK nya yang sekolah di SMA Negeri IV Parakan. Siswi ini sudah
berada di kelas II dan setelah lulus melanjutkan studinya di Akademi Tarakanita di Bener- Pingit,
Yogyakarta. Kakak perempuannya yang pernah menjadi murid SMA yang sama pada saat Frater Suyono
menjalankan TOP sebelum saya, saat saya menjadi Toper di Temanggngung dia sudah menjadi postulat
Suster Konggregasi PBHK di Parakan. Dan kemudian mengambil studi di Sanata Darma. Saya di Jakarta saya pernah bertemu dengannya di Tahun 2010 dalam Evaluasi Pendidikan di Wisma Caringin – arah
Sukabumi yang dilaksanakan oleh KWI. Dia sudah menjadi Suster PBHK dan ditugaskan di daerah
Cibubur.
Selain mengajar di SMA Negeri IV Parakan, saya juga mengajar di SMP Remaja Parakan. Sekolah Swasa di
bawah Yayasan Remaja Parakan. Saat saya sudah bekerja di Bimas Katolik Jakarta, berkantor di Jl. MH.
Thamrin, salah satu siswanya yang dulu saya ajar di SMP Remaja Parakan, sudah menjadi salah satu
pegawai di Ditjen Bimas Budha. Dia mengenal saya lebih dahulu, sebagai seorang frater yang
mengajarnya waktu SMP. Ternyata kami guru – dan muridnya di SMP akhirnya menjadi rekan kerja di
Kementerian Agama.
Suatu saat saya pulang dari salah satu Stasi di Gunung Payung, daerah penghasil kopi dan cengkeh. Jika
pada musimnya, kopi atau cengkeh di jemur di tepi jalan raya. Bau cengkeh dan kopi semerbak
sepanjang jalan. Di daerah Gunung Payung tepatnya di sekitar jalan raya Muntung menuju Ngadirejo
pukul 10.00 malam kabut pekat menyelimuti jalan – bau harum semerbak sepanjang perjalanan itu.
Lampu mobil dan motor hanya dapat menembus pekatnya kabut dalam jarak 10 meter saja. Saya tidak
takut apapun karena kanan kiri jalan itu adalah kebun kopi yang sedang berbunga. Maka bau
semerbaknya di dalam udara dingin berkabut tetap memberikan semangat perjalanan saya selesai
melaksanakan tugas mewartakan Injil di Stasi. Saya membayangkan inilah baunya pewartaan Injil yang
selalu menimbulkan semangat bagi sang pewarta yang mendatangkan berkat keselamatan bagi umat-
Nya. Dari daerah Gunung Payung ini banyak teman-teman di Bimas Hindu yang asli kelahiran ini. Mereka
bercerita saat ini hasil kopi di daerahnya juga menjadi komoditas ekspor ke luar negeri. Puji Tuhan.
Dari Stasi Mangunsari, saya mengenal orangtuanya Mbak Titik istri mas Ismulyadi Pak Karno dan ibu
Karno. Saya pernah mengikuti pertemuan Kolasi (pertemuan karya para Romo Paroki Kevikepan Kedu)
dilaksanakan di rumah pak Keluarga pak Karno. Hadir pada waktu itu staf dari P3J di bawah Rm.
Bambang Murti Pr, yang namanya pak Amin yang memberikan penjelasan tentang APP. Suatu saat
kegiatan pendalaman iman dalam rangka Bulan Kitab Suci Nasional di stasi itu saya yang menjadi
pemandunya. Saat pukul 23.00 saya mau pulang ke Temanggung saya diminta ibu Karno agar tidak
pulang karena terlalu jauh, hari sudah malam – keselamatan saya dalam perjalanan dikuatirkan. Saya
jelaskan kepada beliau bahwa kami tidak boleh menginap di rumah warga. Saya harus pulang ke
Temanggung meskipun sudah malam. Pulangnya saya diberi bungkusan oleh-oleh yang isinya ikan belut
goreng.
Jika pulang larut malam begitu kadang sampai di pastoran sudah lelah dan ingin tidur lelap karena udara
dingin. Tetapi besok pagi harus bangun pagi untuk mengikuti Misa pagi pukul 05.30. Dalam udara dingin
kota Temanggung yang kadang dapat membuat bibir tergetar menggigil- bibir yang mestinya berwarna
agak merah atau coklat menjadi biru di pagi hari. Romo Anton Gunardi MSF membeli tabung pemanas
air yang dipasang dikamar mandi. Air dalam mesin pemanas tersebut dinyalanan dengan stop kontak
yang dihubungkan dengan saklar listrik. Saya mengagumi iman umat di Temanggung ini, cukup banyak
orang tua dan anak anak sekolah sebelum berangkat kerja dengan aneka macam profesi: PNS, guru,
pedagang di pasar: penjual cangkul atau sabit, penjual kain, penjahit, teknisi jam tangan, perbaikan
radio, yang menggelar lapak di pasar hadir mengikuti misa pagi. Ada cukup banyak yang sempat
mengikuti Misa pagi rata-rata hampir 100 – orang. Selesai Misa para cucu atau anak-anak meminta
berkat dari orangtuanya sebelum berpisah dan berngkat ke sekolahnya dan orangtuanya menandainya
dengan berkat tanda salib di kening mereka. Luar biasa religiusitas mereka. Seringkali saya merenungkan
keindahan dari keluarga-keluarga itu. Menyalurkan berkat dari perayaan ekaristi untuk membekali
perjalanan hidup pada hari itu. Membekali diri mereka sebelum bekerja dengan Sakramen Maha Kudus yang mereka terima dalam ekaristi harian sebelum mereka berjuang dalam karya. Menyerahkan suka
duka dan dinamika hidup mereka pada hari itu. Hidup penuh berkat.
Berkat Tuhan juga mengalir dalam hidup saya melalui kasih sayang umat yang penuh perhatian. Kadang
ada saja keluarga yang mengirimkan berkat berupa makanan. Saat mengunjungi mereka di rumah
mereka dan topik pembicaraan tetang makanan. Hanya dari komentar saja – dikira kita menyukai dan
merindukan makanan yang menjadi topik pembicaraan. Sauatu saat dikirim ke pastoran hanya karena
saya berkomentar tentang tahu rolade.
Di akhir TOP pertama ini, saya dinyatakan lulus dengan catatan, masih perlu melanjutkan lagi TOP di
Tahun ke dua di Kalimantan. Belum tahu saya akan ditugaskan dimana. Saya jawab ya. Saya siap.
Mas Teguh Lanjut ke TK. IV dan terhenti dari kaul kebiaraan. Rm. Fajar lanjut dan terus ada dalam biara
MSF sampai tertahbis. Juga Rm. Timo yang tugas di Balikpapan lanjut seperti rm. Fajar. Mereka semua
menjadi kakak kelas saya. Saya bergabung dengan adik kelas untuk menjalani TOP Tahun kedua.
Rm. Anton Gunardi MSF sebenarnya menyarankan agar saya tetap menjalankan TOP di Paroki
Temanggung. Rm. Suryohadi Atmoko MSF yang sedang bertugas di Paroki Banteng juga
mempertanyakan kenapa harus TOP tahun ke dua? ( Waktu itu di MSF baru saya yang mulai mengalami
TOP selama 2 Tahun – semua yang lain hanya setahun). Siapa yang akan menanggung proses
selanjutnya. Apakah yakin dapat terus?
Saya menjawab. Saya orang berkaul, saya akan taat pada perintah pimpinan yang disampaikan oleh
Spiritual Skolastikat yang mendampingi kami dalam TOP. Soal lamanya studi – untuk menjadi imam, bagi
saya meskipun lama tidak akan menjadi persoalan. Makin lama makin matang untuk menjadi imam.
Kaya dengan pengalaman lapangan sebelum ditahbiskan. Menjadi Misionaris di Kalimantan bagi saya
adalah suatu kesempatan yang menantang !
Jakarta, 1 November 2025
Ansgarius Hari 45 Wijaya

