Bangsa Ramah Jadi Marah

Bangsa Ramah Jadi Marah

Negeri yang Tidak Baik-baik Saja

Pagi-pagi membaca tulisan mengenai kekerasan yang menimpa seorang muda yang mengaso di sebuah masjid. Maunya menyegarkan badan, malah kepalanya ditimpuk kelapa dan meninggal. Miris, agak siangan membaca kisah guru SMP di Trenggalek dipukuli kakak dari muridnya yang disita HP-nya karena menggunakannya saat pelajaran.

Mudah Marah

Konon bangsa ini sangat ramah, lemah lembut, dan penyabar. Itu dulu, kini berbeda. Sering dalam demo berakhir ricuh, amuk, dan penjarahan. Ke mana budaya adiluhung, pemaaf itu? Semua seolah lenyap. Beberapa suku memang terkena dengan kerasnya, namun bukan kasar, apalagi suka ngamuk. Jauh dari itu semua.

Namun, kini jelas lebih banyak yang senggol bacok, alias tidak ada kontrol langsung ngamuk. Marah itu wajar, namun kalau pemarah, apalagi berujung amuk itu sudah ada yang tidak beres. Aksi dan reaksi itu ada sebuah filter. Tidak langsung reaktif, aksi dan berbalas dengan tanggapan. Tidak harus demikian.

Reaktif sebagai Sebuah Budaya

Pendidikan kita yang berorientasi pada angka nilai, ujungnya ijazah, dan gelar, membuat sekolah sekadar mengajar, pengajaran, bukan pendidikan.  Kognitif semata, sehingga karakternya menjadi lemah, seolah tidak ada. Jika ada kebaikan, itu karena memang bawaan, bukan proses pendidikannya.

Tanpa pikir panjang,  langsung bereaksi, yang sering tidak tepat. Konon, salah satu ketidakcerdasan adalah, cepat-cepat menjawab. Proses mencerdas, menganalisis, mengevaluasi tidak ada. Langsung apa yang ditangkap direspons.

Manusia itu dalam filsafat adalah hewan yang berakal budi, artinya rasio, pikiran lah yang membedakannya dengan binatang. Adanya jeda untuk berfikir, menganalisis, dan mengevaluasi adalah ranah pikiran, itu khas manusia. Jika itu sudah hilang, ada bedanya manusia dan binatang?

Apa yang bisa dilakukan? Mengubah kebiasaan hantam krama. Hajar dulu, urusan belakangan. Malah sering salah tempat. Yang harusnya cepat malah lambat, contoh dalam masuk kelas, masuk kantor, mulai acara, dan seterusnya. Sering berlambat-lambat. Padahal kedisiplinan itu juga lambing kecerdasan.

Frustasi akan apa yang terlihat dan faktanya. Tayangan baik konvensional sebagaimana film atau sinetron, ataupun media sosial seperti tiktok, youtube, reels, cenderung memperlihatkan hal-hal yang mudah, mewah, gaya hidup yang menyenangkan. Padahal dalam hidup tidak sesederhana itu. Akhirnya frustasi, wujudnya dalam bentuk amuk, sumbu pendek, dan senggol bacok.

Manusia yang tidak tahan banting. Kemudahan yang salah kelola dan pemahaman menjadikan anak bangsa ini menjadi anak yang tidak kuat menghadapi tekanan, mudah stres, yang berujung pada amuk, marah, kekerasan, dan frustasi.

Membangun kesadaran. Adanya kesadaran, manusia akan memberikan waktu rasio, dan hati, itu menimbang mana yang akan dipilih. Reaksinya ada pertimbangan, sehingga tidak berwujud dalam hal-hal yang negatif. Lebih dari sekadar logis, karena melibatkan keseluruhan diri untuk mengambil sikap. Adanya kesadaran akan membawa pada hal-hal yang lebih baik dan lebih positif.

Membangun sikap empati, jika mau bermain peran ada pada posisi pihak lain, tentu responsnya tidak akan dalam bentuk kemarahan, amuk, atau kekerasan. Mengapa? Karena tahu seperti apa rasanya jika memperoleh tanggapan seperti itu.

Memberikan waktu sebentar saja untuk sadar, dan lama-lama akan menjadi sebuah kebiasaan, habit, dan lebih spontan. Tidak spontan amuk, marah, atau senggol bacok tentu saja, namun kelembutan, pengampunan, tahu batas, dan lebih sabar

Susah memang, namun bukan berarti tidak mungkin. Semua adalah mungkin, jika memang mau. Ada dalam kehendak, pilihan itu.

Salam JMJ

Susy Haryawan

Susy Haryawan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *