MENJADI MURID YESUS SEPENUH HATI
Renungan Harian : Rabu, 5 November 2025
Oleh Paul Subiyanto
Bacaan :Lukas 14:25–33
Renungan:
Sering orang menyebut dengan enteng sebagai “Murid Yesus” “Anak Tuhan” atau ” Hamba Allah”, padahal betapa beratnya syarat menjadi Murid Yesus. “Demikian pulalah tiap-tiap orang di antara kamu, yang tidak melepaskan dirinya dari segala miliknya, tidak dapat menjadi murid-Ku.” (Lukas 14:33)
Yesus tidak sedang mencari pengikut yang hanya ingin mukjizat atau kenyamanan. Ia ingin murid sejati — yang siap membayar harga untuk mengikut Dia.
Yesus memakai kata-kata yang keras: “Jikalau seorang datang kepada-Ku dan ia tidak membenci bapanya, ibunya, isterinya, anak-anaknya, saudaranya laki-laki atau perempuan, bahkan nyawanya sendiri, ia tidak dapat menjadi murid-Ku.” Bukan berarti Yesus menyuruh kita benar-benar membenci keluarga, tetapi Ia ingin menegaskan prioritas kasih. Kasih kepada-Nya harus menjadi yang utama, lebih besar daripada kasih kepada siapa pun atau apa pun.
Mengikut Yesus berarti siap memikul salib — bukan hanya simbol penderitaan, tetapi kesediaan untuk taat dan berkorban. Seperti orang yang hendak membangun menara harus menghitung biayanya terlebih dahulu, demikian juga kita diajak untuk sadar bahwa menjadi murid Yesus bukan jalan mudah, tetapi jalan yang penuh komitmen.
Refleksi pribadi:
Apakah aku mengikuti Yesus hanya karena ingin berkat dan kenyamanan, atau karena cinta yang sungguh? Apakah aku rela melepaskan hal-hal yang menghalangi hubunganku dengan-Nya? Apakah Yesus sungguh menjadi prioritas utama dalam hidupku?
Doa: † Tuhan Yesus, ajar aku untuk menjadi murid-Mu yang sejati. Tolong aku agar tidak setengah hati dalam mengikut Engkau. Beri aku kekuatan untuk melepaskan hal-hal yang menghalangi kasihku kepada-Mu, dan jadikan Engkau satu-satunya pusat hidupku. Amin. †

