TEMAN SEANGKATAN TOP TAHUN KE DUA (2)

TEMAN SEANGKATAN TOP TAHUN KE DUA (2)

BRAMIN 12

Teman-teman Angkatan TOP Tahun ke-2 saya ada 4 orang. Siapa saja mereka. Sudah saya ceritakan
dalam Bramin-10. Cerita saya lanjutkan di sini.
Dalam perjalanan kami dari bandara Syamsudin Noor ke Keuskupan yang terletak di Jalan Lambung
Mangkurat 40 di tengah kota, saya dapat melihat sepanjang parit di kanan dan kiri jalan tumbuh bunga
Teratai warna-warni: Ungu-kuning-putih- merah jambu yang tampak indah. Mengingatkan saya pada
konferensi yang diberikan oleh Rm. Sing di Novisiat Salatiga saat berbicara tentang bunga Teratai yang
indah meskipun akarnya tenggelam dalam air comberan yang kotor keindahannya tidak hilang.
Itulah kenyataan yang saya lihat dalam perjalanan dari bandara menuju Keuskupan Banjarmasin. Sejauh
ini hanya melihat bunga Teratai yang dirawat dalam jambangan besar di taman yang airnya jernih. Di
candi Borobudur atau candi Prambanan relief di dindingnya memperlihatkan gambar bunga Teratai yang
biasanya dipakai sebagai sandaran duduk dalam meditasi. Teratai menyerap dan memancarkan energi
keheningan – ketenangan dan keseimbangan. Dalam ajaran Buddha dan Hinduisme, Teratai menjadi
lambang kesucian dan pencerahan. Meskipun dia tumbuh di air berlumpur tetapi tetap mancarkan
kebersihan dan keindahannya. Semoga kita manusia dapat mencapai kebijaksanaan hidup di dunia yang
penuh dengan derita dan banyak persoalan ini seperti bunga Teratai yang saya lihat indah bertebaran
dalam perjalanan di hari pertama saya menginjakkan kaki di Banjarmasin Kalimantan Selatan.
Jika filosofi bunga Teratai itu terjadi dalam kehidupan kita dapat menepis pepatah budaya Jawa yang
menyarankan jangan bergaul dengan kerbau yang sedang mandi lumpur karena bisa terkena
kekotorannya. Sebaliknya Teratai dalam lingkungan yang kotorpun tetap bisa memancarkan jati dirinya
yang tetap suci dan bersih. Dalam bahasa yang berbeda kadang dikatakan mutiara biarpun di benamkan
di dalam lumpur dia tetaplah Mutiara – tidak akan berubah. Sesuatu yang berkualitas biarpun di buang
di tempat yang kotor dia tidak akan berubah kualitasnya.


Selama 10 hari masa transit, sempat mengikuti Rm. Rinoto ke Paroki Kuala Kapuas. Ini pertama kalinya
juga naik klotok – perahu panjang bermesin yang dapat menampung sekitar 20-25 penumpang. Waktu
itu kami menempuh jalur Anjir Sarapat yang menghubungkan kota Banjarmasin dengan Kuala Kapuas.
Lalu lintas melalui kanal buatan yang sudah dibangun sejak zaman Belanda ini masih cukup ramai pada
saat itu. Kanal ini lebarnya hampir 30 meter dan dalamnya 3 meter. Tampaknya sekarang sangat
berkurang keramaian lalu lintas airnya karena jalan darat yang menghubungkan kedua kota itu lebih
nyaman untuk dilalui.


Selama di Kuala Kapuas, Rm. Rinoto MSF sempat mengajak kami ke pasar. Membeli ikan untuk dimasak
dipastoran. Ikan yang kami beli namanya ikan haruan. Jika di Jawa nama ikan ini disebut ikan kutuk.
Seperti ikan gabus (kotes) tetapi bentuknya lebih panjang dan lebih besar. Hanya rasanya dengan jenis
ikan kutuk di Jawa berbeda. Di Kalimantan ini tekstur daging ikan haruan lebih kesat dan kenyal, rasanya
lebih gurih. Sedang ikan kutuk di Jawa lebih lembek. Ikan yang dijual itu masih hidup dan diletakkan di
ember besar yang berisi air. Pada mulutnya masih terdapat kail dan tali senarnya yang sudah dipotong
pendek sejengkal. Kemungkinan ikan-ikan yang dijual itu hasil dari memancing di Sungai satu Joran
pancing dengan banyak mata kail. Atau tanpa Joran kail dipasang cukup banyak pada suatu tempat dan
Ketika umpan yang ditelan ikan menyangkut pada mulut ikan. Kail dipotong berserta senarnya dan ikan
di letakkan di ember sehingga ikan tetap hidup. Baru dimatikan Ketika akan digoreng. Luar biasa kekayaan alam pemberian Tuhan di tanah Kalimantan ini. Ikan sumber gisi bagi penduduknya tersedia
berlimpah dan harganya murah.


Dalam perjalanan kembali dari pasar ke pastoran, kami singgah untuk makan siang di warung makan. Di
sana disajikan daun singkong yang direbus berserta batang dan tangkainya di atas meja. Ini
mengingatkan pengalaman saya di Stasi Cemoro saat di hidangkan makan oleh keluarga tempat
menginap saat bertugas – daun Ceriwis yang sudah direbus dihidangkan beserta batang dan tangkainya
di atas meja makan dengan nasi hangat, sambal dan ikan asin peda. Budaya nelayan penangkap ikan
yang berbeda dengan budaya petani di atas gunung saya temukan dalam masa orientasi yang kedua ini.
Saya merasa sungguh diperkaya dengan pengalaman ini. Indonesia negeriku yang luas wilayahnya dan
kaya kebudayaannya. Lain ladang lain belalang – lain lubuk lain ikannya.


Suatu siang menjelang sore kami diajak melakukan visitasi ke suatu Stasi daerah Transmigran. Berangkat
dari pastoran menyusuri jalur Sungai Barito menggunakan klotok milik Paroki yang berbahan bakar
minyak tanah. Perahu bermesin yang cukup panjang itu ditumpangi sekitar 8 orang. Salah satu
diantaranya seorang Suster Biarawati SPC yang ikut. Sampai di stasi kapal Klotok di tambat dipinggir
Sungai Barito. Kami jalan kaki menuju bangunan kapel di daerah Transmigrasi ini. Kami melewati rumah
dinas seorang dokter di daerah itu. Rumah dari papan yang berdiri sendiri. Dengan halaman berumput
rawa. Sepi. Sampai di Kapel sudah berkumpul banyak umat stasi. Anak-anak kecil kami ajak berkumpul
tersendiri – membuat permainan seperti pramuka. Tetapi diisi bina iman anak. Sekitar 1 jam.
Selanjutnya semua mengikuti perayaan Ekaristi. Sesudah selesai kami kembali ke tempat perahu di
tambat di pinggir Sungai Barito untuk selanjutnya pulang kembali ke Paroki di Kuala Kapuas.


Tadi siang batas tepi Sungai di kanan kiri yang dilalui masih kelihatan meskipun sungai Barito sangat
lebar. Mungkin sekitar 600 – 850 m lebarnya. Semak belukar dan pohon-pohon ingas di pinggir sungai
atau pohon nipah yang bergerombol lebat tercampur dengan berbagai jenis tanaman air hutan bakau,
pakis, pandan berduri, rotan berduri, tumbuhan merambat di delta sungai masih tampak. Malam ini
semua sudah kelihatan hitam bergerumbul seperti raksasa-raksasa yang menghadang perjalanan. Suara
monyet dan burung seperti tadi sore kadang masih terdengar sekarang yang terdengar hanya suara deru
mesin kapal motor yang membawa kami ke hilir.


Yang luar biasa saya saya melihat di pucuk-pucuk pohon yang menjulang di tengah hutan sungai dan
pinggir sungai – sinar bercahaya seperti kunang-kunang yang besar bertebaran di mana-mana. Saya jadi
ingat lagu Natal anak-anak yang judulnya Pohon Terang:
Pohon terang
Pohon terang, pohon terang,
Sungguh indah rupamu.
Pohon terang, pohon terang,
Sungguh terang sinarmu.
Lilinnya menyala terang.
Melihatnya hati senang.
Pohon terang, pohon terang,
Terangilah hatiku.
Pohon terang, pohon terang,

Jadi saksi bagiku. 
Jurus’lamat telah datang,
Tanda bukti Tuhan sayang
Pohon terang, pohon terang,
Terangilah hatiku.
Terangilah hatiku


Luar biasa pengalaman ini. Natal tidak saja bisa dirayakan di dalam gedung gereja yang dihiasi dengan
lilin, kadang natal, patung-binatang, bayi Yesus, Maria dan Yosep, bintang, lampu-lampu yang indah
berkerlip. Tetapi ini di tengah alam bebas di Sungai Barito. Bukan sedang dalam masa Natal. Hati saya
terbawa dalam nostalgia lagu anak-anak yang lembut bergema. Merayakan Natal di dalam relung hati
bukan pada masanya namun tetap berkesan. Tuhan menyayangi aku dan rombongan yang baru dalam
perjalanan pulang memberikan penghiburan kepada umat Stasi di daerah transmigrasi yang tidak setiap
hari Minggu dapat merayakan Misa seperti kami yang tinggal di kota dengan berbagai pilihan waktu
merayakan misa untuk masih dapat membagi waktu dengan kesibukan duniawi.


Bukan hanya yang indah itu saja. Tetapi juga bayangan yang mengerikan. Di permukaan air yang gelap.
Tampak sejumlah Cahaya warna putih biru berpasangan di sudut-sudut gelap hutan bakau dan
gerumbulan pohon nipah atau di pinggir Sungai dengan gerumbulan pohon ingas dan Semak belukarnya. Konon Cahaya berpasangan itu adalah mata dari buaya muara yang terkena sinar lampu kapal yang sedang lalu. Ombak dari pintasan mesin kapal bergelombang bergerak menempuh permukaan air yang semula tenang sampai di tengah atau di tepi sungai. Membuat sinar putih biru yang berpasangan itu seperti terayun naik turun di atas permukaan air. Dengan fakta seperti ini saya membayangkan – apakah masih berguna belajar berenang di Muncul berbulan-bulan dan sudah bisa berenang. Jika sekiranya terjadi sesuatu kemudian kapal terdampar di tengah gosong aliran Sungai Barito ini atau dipinggir situ yang banyak pohon ingas yang daun dan getahnya jika mengenai kulit bisa menjadi gatal seperti terkena daun jelatang yang kita kenal di Jawa. Bahkan lebih ngeri karena konon daun ingas dapat membuat melepuh atau teriritasi pada permukaan kulit. Belum nyamuk hutan dan rawa-rawa yang dikenal dengan nama Agas itu. Betapa manusia dengan segala kemampuannya tetap tidak berdaya berhadapan dengan alam yang seperti ini. Di Jawa kita tidak mengenal hal-hal seperti ini. Di sini kita yang hanya manusia lemah tidak akan berdaya berhadapan dengan alam tanpa pertolongan orang lain dan perlindungan Tuhan. Perjalanan sepintas tetapi membekas dalam hati saya hingga saat ini.


Di sore hari yang cerah, di Kuala Kapuas ini kita dapat duduk di dermaga yang ada di depan sebelah kiri
tidak jauh dari halaman Gereja. Karena di situ aliran Sungai Barito yang menjadi lalu lintas air yang
tampak di tepian sana seperti cakrawala menjadi indah di sore hari. Sambil melihat hilir mudiknya kapal
dari hulu ke hilir atau sebaliknya. Sekali-sekali juga melihat orang yang naik sampan atau jukung yang
digerakkan dengan dayung. Sangat terampil bergerak membelah arus. Karena di situlah habitat hidup
mereka. Juga di dermaga yang tenang itu ada beberapa orang sedang memancing ikan. Ini menjadi
pemandangan indah yang menyenangkan. Berbeda dengan orang yang bekerja di kota semuanya harus
serba cepat. Di sini kita bisa menikmati Slow Living yang benar-benar menyenangkan dan membuat
silensium magnum di dalam hati sambil menikmati pemandangan sungai Barito. Ada istilah bahasa
Inggris yang tepat yang sedang saya pelajari: tranquility that means “a state of peace and quiet,” like the
tranquility you feel at the shore or a beautiful sunrice at the top of the mountain.

Srengseng Sawah, Jakarta Selatan, 6 November 2025
Ansgarius Hari 45 Wijaya

admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *