Allah Terus Mencari

Allah Terus Mencari

Bacaan dan Renungan Kamis, 6 November 2025 Pekan Biasa XXXI.

Bacaan Pertama: Rm. 14:7-12: Baik hidup, atau mati, kita adalah milik Tuhan.

Bacaan Injil: Lukas 15:1-10: 1. Sukacita di Surga karena satu jiwa · 2. Allah yang mencari, bukan Allah yang Menunggu

Oleh: D. Nursih Martadi

Kalender Liturgi hari Kamis 6 November 2025 merupakan Hari Kamis Biasa XXXI, Santo Nuno Pereira, Pengaku Iman, Santo Leonardus dari Noblac, Pengaku Iman dengan Warna Liturgi Hijau.

Membaca dan merenungkan Injil (Kitab Suci) berperanan penting bagi umat Katolik, untuk mendekatkan diri pada Tuhan, memperkuat iman, dan membentuk karakter Kristiani.

Renungan harian dapat memberikan ketenangan batin dalam menjalani kehidupan keseharian yang sibuk, sambil memberikan panduan moral. Waktu pribadi dengan Tuhan melalui Injil harian menciptakan relasi personal spiritual mendalam. Selain itu, membaca Injil mendorong umat Katolik untuk menyadari panggilan misioner dan memperkaya hubungan dengan sesama.

Bacaan dan renungan hari Kamis, 6 November 2025, akan berpusat pada Injil Lukas 15:1-10, yaitu perumpamaan tentang domba yang hilang dan dirham yang hilang. Kedua perumpamaan ini menggambarkan sukacita Allah saat menemukan kembali yang tersesat, baik yang tersesat secara fisik maupun spiritual. Renungan ini mengajak umat untuk menyadari bahwa Allah senantiasa mencari manusia, bahkan dalam kehidupan modern, dan Gereja pun diajak untuk bersukacita saat ada saudara yang kembali kepada-Nya.

Bacaan Pertama : Rm. 14:7-12

Baik hidup, atau mati, kita adalah milik Tuhan.

“Sebab tidak ada seorangpun di antara kita yang hidup untuk dirinya sendiri, dan tidak ada seorangpun yang mati untuk dirinya sendiri. Sebab jika kita hidup, kita hidup untuk Tuhan, dan jika kita mati, kita mati untuk Tuhan. Jadi baik hidup atau mati, kita adalah milik Tuhan.”

Bacaan Injil: Luk 15:1-10

Akan ada sukacita di Surga karena satu orang berdosa yang bertobat

Para pemungut cukai dan orang-orang berdosa biasanya datang kepada Yesus untuk mendengarkan Dia. Maka bersungut-sungutlah orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat, katanya: “Ia menerima orang-orang berdosa dan makan bersama-sama dengan mereka.”

Lalu Ia mengatakan perumpamaan ini kepada mereka: “Siapakah di antara kamu yang mempunyai seratus ekor domba, dan jikalau ia kehilangan seekor di antaranya, tidak meninggalkan yang sembilan puluh sembilan ekor di padang gurun dan pergi mencari yang sesat itu sampai ia menemukannya?

Dan kalau ia telah menemukannya, ia meletakkannya di atas bahunya dengan gembira, dan setibanya di rumah ia memanggil sahabat-sahabat dan tetangga-tetangganya serta berkata kepada mereka: Bersukacitalah bersama-sama dengan aku, sebab dombaku yang hilang itu telah kutemukan.

Aku berkata kepadamu: Demikian juga akan ada sukacita di sorga karena satu orang berdosa yang bertobat, lebih dari pada sukacita karena sembilan puluh sembilan orang benar yang tidak memerlukan pertobatan.” Perumpamaan tentang dirham yang hilang “Atau perempuan manakah yang mempunyai sepuluh dirham, dan jika ia kehilangan satu di antaranya, tidak menyalakan pelita dan menyapu rumah serta mencarinya dengan cermat sampai ia menemukannya?

Dan kalau ia telah menemukannya, ia memanggil sahabat-sahabat dan tetangga-tetangganya serta berkata: Bersukacitalah bersama-sama dengan aku, sebab dirhamku yang hilang itu telah kutemukan.

Aku berkata kepadamu: Demikian juga akan ada sukacita pada malaikat-malaikat Allah karena satu orang berdosa yang bertobat.”

Renungan dan Makna: Tuhan Tidak Pernah Berhenti Mencari

Kedua perumpamaan ini menekankan adanya sukacita besar yang dirasakan Allah dan surga ketika seseorang yang berdosa bertobat dan kembali kepada-Nya. Inisiatif datang dari Allah. Allah tidak menunggu kita datang dengan wajah bermuram durja. Ia terus-menerus mencari, bahkan ketika kita tersesat dalam kesibukan dunia modern.

Allah bisa menjangkau kita melalui “sapaan-sapaan rohani” seperti firman Tuhan, doa, atau melalui sesama yang memberi tah, mengingatkan, menegur kita dengan kasih. Gereja, sebagai persekutuan umat beriman, komunitas umat Allah, dipanggil untuk ikut bersukacita setiap kali ada saudara yang bertobat, kembali kepada Tuhan.

Renungan ini mengajak kita untuk semakin menyadari bahwa pertobatan sejati tidak lahir dari rasa takut, tetapi dari kesadaran akan kasih karuniaTuhan yang selalu mencari dan memanggil kita pulang kepada-Nya.

Kita tentu pernah mengalami kehilangan. Entah kehilangan barang, kehilangan seseorang yang kita cintai, atau bahkan kehilangan arah dalam hidup. Kita merasakan betapa resah gelisah hati ketika sesuatu yang berharga hilang. Hati tidak tenang sebelum menemukan “yang hilang ” itu. Demikianlah gambaran hati Allah dalam bacaan injil hari ini. Yesus menceritakan dua perumpamaan  tentang domba yang hilang dan dirham yang hilang. Sesungguhnya, Yesus melalui perumpamaan perumpamaan itu sedang mengajarkan tentang hati Allah Bapa yang penuh kasih dan tidak pernah menyerah dan berhenti mencari manusia yang berdosa, tersesat.

Orang-orang Farisi (tokoh dan petinggi massyarakat Yahudi) mengeluh, “Mengapa Yesus mau bergaul dengan orang berdosa?” Bagi mereka, dosa adalah aib, noda, najis yang harus dijauhi. Orang berdosa adalah orang yang harus dikucilkan. Yesus melakukan hal yang sebaliknya: Ia mendekat,  makan bersama, mendengarkan mereka. Bagi Yesus, setiap orang enta berdosa atau tidak berosa adalah domba yang sangat berharga, yang layak dicari dan diselamatkan.

Kita -mungkin- merasa diri termasuk di antara sembilan puluh sembilan yang tidak hilang. Kita merasa cukup baik, saleh, rajin ke Gereja, rajin berddoa, sopan dan religius. Tapi kadang, tanpa disadari, kita juga bisa tersesat -bukan karena meninggalkan Gereja, tapi karena menjauh dari kasih. Kita tersesat saat kita mudah menghakimi, sulit mengampuni, memandang rendah orang lain yang dianggap “lebih berdosa.” Bacaan pertama, Santo Paulus jelas dan tegas mengingatkan, “…tidak ada seorang pun yang hidup untuk dirinya sendiri, dan tidak ada seorang pun yang mati untuk dirinya sendiri. Baik hidup atau mati, kita adalah milik Tuhan.”  Hal ini berarti, kita tidak berhak menghakimi siapa pun, sebab setiap orang akan berdiri di hadapan Tuhan Allah dan bertanggung jawab atas diri sendiri.

Tuhan Yesus hari ini ingin menunjukkan bahwa kasih karunia Allah itu aktif, bukan pasif. Allah berinisiatif, bukan menunggu orang berdosa datang dan minta ampun. Allah mendatangi, mencari, menjemput pendosa. Ia tidak malu memanggul, menggendong domba yang kotor di bahu dan dadanya. Ia menyalakan dian, pelita dan menyapu rumah untuk menemukan dirham yang hilang. Sungguh besar kasih Allah kepada kita,tidak berhenti mencari, sampai menemukannya.

Allah ketika menemukan “yang hilang itu” reaksi-Nya bukan marah, menegur panjang lebar, seperti kita lakukan untuk istri, suami dan anak-anak kita, tetapi bersukacita. Ia memanggil tetangga dan sahabatnya, “Bersukacitalah bersama aku!” Allah bersuka cita bukan karena kesempurnaan kita, tapi karena pertobatan. Surga bergembira setiap kali satu hati manusia mau kembali pulang, bertobat. Di sinulah terjadi rekonsiliasi relasi Allah dengan manusia, dan.. manusia dengan manusia.

Hari ini, Tuhan ingin mengingatkan kita untuk berhenti menjadi “hakim” atas sesama, berganti peran  menjadi saksi kasih yang mencari dan menuntun. Mungkin ada orang di sekitar kita -entah anggota keluarga, teman, atau rekan kerja -yang sedang tersesat dalam hidup, iman, keputusan-keputusan, kita kita tidak boleh menutup pintu dan berkata, “Biar saja, itu urusannya sendiri.” Tuhan tidak pernah berbuat seperti itu kepada kita. Allah tidak pernah Lelah, menyerah mencari ketika kita jatuh kedalam dosa. Allah menunggu, menjemput, memanggul, dan mengembalikan kita ke rumah-Nya. Inilah SUKACITA Surgawi.

Mari kita belajar memiliki hati seperti hati Tuhan: hati yang tidak cepat menghakimi, tetapi hati yang mau mencari. Hati yang tidak puas karena sembilan puluh sembilan aman, tetapi yang peduli pada satu “yang hilang”. Saat ini sangat butuh hati seperti itu -hati yang berani menjangkau, bukan mengucilkan; hati menghidupi kasih, bukan berbicara tentang kasih.

Hidup kita -suka atau duka, jatuh atau bangun- semuanya milik Tuhan. Maka kita tidak boleh takut kembali, malu untuk bertobat. Setiap langkah kecil menuju Tuhan, ada sukacita besar di surga.

Semoga hari ini kita mengalami kasih Allah yang tidak berhenti mencari, dan perpanjangan tangan-Nya bagi sesama yang sedang tersesat. Sebab Tuhan, menghendaki semua orang selamat.

Doa : Tuhan Yes,us, ajari kami memiliki hati yang tidak cepat menghakimi, tetapi mau mencari dan mengasihi. Bila kami tersesat, jemputlah aku pulang, bila saudara kami hilang, jadikan kami alat ditangan-Mu yang menuntun kembali pada kasih-Mu.Tuhan Yesus, Engkaulah Gembala yang baik. Setiap kali seseorang bertobat, surga bersukacita. Ajari kami untuk peka terhadap panggilan-Mu dan menjadi alat di mana Engkau dapat menemukan kembali yang tersesat. Demi Kristus, Tuhan kami. Amin.”.

admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *