BEKERJASAMA DENGAN SUSTER-SUSTER SPM DI KOTABARU PULAU LAUT (4)

BEKERJASAMA DENGAN SUSTER-SUSTER SPM DI KOTABARU PULAU LAUT (4)

BRAMIN 14

Gereja di Kotabaru yang terbuat dari dinding kayu berlantai kayu ulin, dibawahnya kolong yang selalu
terisi air laut sesuai dengan pasang-surut waktunya. Meskipun air laut sedang pasang air tidak pernah
menyentuh geladak lantai gereja dan pastoran yang ada d samping belakangnya.


Di samping gereja juga ada bangunan sekolah Taman Kanak-kanak yang dikelola suster-suster Santa
Perawan Maria (SPM). Sekolah SD dan Komunitas Susteran ada di tempat lain tetapi tidak jauh dari situ.
Sekitar 100 meter di seberang pertigaan sebelah kanan dari gereja. Guru-guru yang mengajar di TK dan
SD yang dikelola Suster-suster semuanya alumni SPG Vanlith Muntilan. Juga berasal dari Muntilan dan
sekitarnya. Ada satu yang berasal dari Cawas Klaten. Mereka inilah yang menjadi penggerak di Paroki
untuk koor atau tugas-tugas lektor. Guru yang mengajar di TK atau SD berjumlah 6 orang. Guru
Perempuan dan laki-laki di tempatkan dalam rumah sewa yang berbeda. 3 guru Laki-laki di rumah
samping belakang Susteran. 3 guru Perempuan di rumah masuk gang di seberang gereja/ pastoran.
Saya kadang-kadang membantu Suster mendampingi anak-anak SD jika mereka sedang mengikuti lomba
di dinas Pendidikan. Biasanya menang, karena kualitas Pendidikan yang diselenggarakan suster-suster
termasuk bagus di tempat ini. Namun demikian yang bersekolah di sekolah milik suster tidak ada yang
berasal dari kelompok suku Banjar. Tetapi dari anak-anak PNS pendatang dari Jawa, Batak, Toraja,
kebanyakan dari kelompok Chinese pendatang dari Surabaya atau dari Kalimantan Timur. Orangtua dari
suku Banjar yang ingin menyekolahkan anaknya di Susteran dikucilkan oleh tetangganya. Karena
menganggap tetangga yang menyekolahkan anak-anaknya di sekolah Katolik akan berpindah agama
menjadi Katolik. Pada hal banyak juga dari kalangan Chinese yang sekolah ke situ tidak diwajibkan
menjadi Katolik, tetapi memang harus mengikuti mata pelajaran Pendidikan agama Katolik yang
diajarkan oleh Suster guru agamanya.
Pagi hari jika saya sedang tidak melakukan perjalanan ke stasi-stasi yang berada di daratan Kalimantan,
saya suka mendengarkan omongan dari anak-anak TK yang menggunakan bahasa Banjar. Saya menjadi
sedikit tahu dan kadang ikut-ikutan menggunakan beberapa kata yang mereka pakai : guring, uyuh,
banar, kadak hakun, ampih, ayuha, bagawi,..
Para suster senior bercerita di awal merintis karya di tempat itu memang tidak mudah. Cenderung
dimusuhi atau diganggu agar tidak kerasan. Di halaman Susteran di lempari dengan kotoran berupa usus
binatang atau bahkan di masukkan ular dalam lingkungan Susteran agar menjadi takut. Tetapi setelah
sekian lamanya, perkembangan sekolah juga baik. Menerima banyak siswa dari kelas I sampai kelas VI
dengan jumlah murid yang cukup banyak.
Pada suatu saat saya mengalami sakit. Bukan karena malaria, seperti sudah dicegah dengan obat anti
Malaria dari RS. Suaka Insan saat saya pertama kali sampai di Banjarmasin. Saya hanya merasakan badan
saya panas rasanya. Kalau saya berkaca, muka saya menjadi merah. Saya sudah mencoba berobat ke
dokter yang praktek di kota ini. Tetapi diagnose dari ke dua dokter tempat saya periksa, tampaknya
tidak tepat. Sakit saya tidak kunjung sembuh. Romo dan Suster-suster menyarankan saya untuk dibawa
ke Banjarmasin saja. Di bawa ke RS. Suaka Insan yang ditangani oleh Suster-Suster SPC.
Perjalanan saya ke Banjarmasin ditemani oleh 2 Suster yaitu: Suster Antonia, SPM Kepala Sekolah SD St.
Maria – asli dari desa Dekso Kalibawang satu kampung dengan Rm. AB Marto Setyoko dan Sr. Serafin
SPM Kepala Sekolah TK St. Maria- asli dari Purbolinggo Jawa Timur. Perjalanan kami dari bandara Gusti

Syamsir Alam di Stagen dengan pesawat DAS (Deraya Air Servis), pesawat kecil yang berisi 8 orang
penumpang, sehingga kami seperti hanya dengan satu mobil kecil terbang rendah melintasi selat laut –
hutan-hutan di Kalimantan Selatan. Dari udara tampak pemandangan di bawah terlihat waduk Riam
Kanan yang ada di daerah Martapura. Walaupun saya sedang sakit tetapi saya masih bisa menikmati
pemandangan di bawah karena pesawat kecil yang terbang dari Bandara Stagen ke Syamsudin Noor
tidak pernah terbang terlalu tinggi. Saat itu Stagen – Banjarmasin dilayani penerbangan seminggu 3 kali
dengan satu penerbangan PP. Ketika saya menceritakan hal itu sesudah saya sehat Kembali kepada Rm.
Marto – Romo berkomentar – jika cuacanya sedang baik, penerbangan seperti itu menjadi
menyenangkan. Karena pemandangan di bawah terus akan kelihatan, tetapi jika cuacanya tidak baik
akan sangat menakutkan karena pesawat kecil begitu akan terombang ambingkan oleh angin yang tidak
bersahabat. Sampai di Banjarmasin saya langsung periksa ke RS. Suaka Insan dan kedua Susteryang
menemani perjalanan saya melanjutkan acara pertemuannya dengan Komunitas SPM yang ada di
Banjarmasin.
Diagnosa dokter rumah sakit Suaka Insan, ditemukan bahwa saya menderita sakit pembengkakan hati.
Hepatitis ringan. Namun harus menjalani rawat inap selama satu minggu di rumah sakit. Beberapa Romo
yang sedang di Keuskupan Banjarmasin menjenguk saya di rumah sakit. Ada juga dokter Katolik sedang
mendapatkan tugas di salah satu Kabupaten di Kalsel hadir. Dokter lulusan Undip yang sedang menjadi
Kepala Puskesmas di daerah Tanjung Tabalong, jika sedang ke kota Banjarmasin selalu datang ke
Keuskupan. Dokter ini juga yang meyakinkan saya – bahwa saya harus cukup istirahat sebelum Kembali
ke tempat bertugas di Kotabaru. Beberapa karyawan administrative di Keuskupan juga menjenguk saya
di rumah sakit. Di luar kunjungan mereka saya tinggal sendirian di kamar rawat inap di RS. Suaka Insan
itu. Rasanya seperti kesepian. Being alone. Saya membayangkan beginilah nanti kalua menjadi seorang
Imam. Tidak memiliki keluarga yang berkunjung dan menemani di saat mengalami seperti ini.
Sementara di rawat saya mendpatkan kabar duka. Dari Konggregasi MSF meninggalnya Rm. The Tjun An
yang memang sudah lama menderita sakit karena liver. Kemudian Kakek saya dari ibu – yang sudah 3
tahun menjadi Katolik – meninggal karena serangan jantung. Meninggal saat sudah siap berangkat ke
gereja, karena di tangan kanannya memegang buku Kidung Adi. Terbaring di tempat tidur dengan
mengenakan baju safari warna gelap polos, baju yang dipandangnya layak untuk pergi ke gereja. Saya
mendoakan keduanya dalam hening. Bersyukur Rm. The Tjun An sudah dibebaskan dari sakitnya. Dan
pernah mendengar dari Rm. Sing yang diminta mendampingi sepanjang sakitnya di RS. Elisabeth
Semarang karena sesudah Rm. The Tjun An dapat menerima keadaan sakitnya – siapapun yang
mengunjunginya diberikan berkat melalui tanganya. Kakek saya yang menjadi Katolik meninggal dengan
cara yang baik. Dalam persiapan menuju ke gereja untuk mengikuti perayaan ekaristi pada hari Minggu –
saya hanya dapat mendoakan dan membayangkannya perjalanannya langsung disambut Tuhan dalam
kebahagian-Nya. Keinginannya untuk meninggal secara Katolik – tidak harus dibungkus dengan kain
kafan yang menakutkan anak cucu sudah dikabulkan Tuhan. Meninggal tanpa sakit. Dalam persiapan
untuk melaksanakan kewajiban ibadatnya Ketika dia masih harus menjalani hidup didunia ini. Semoga
keduanya meninggal dengan bahagia.
Seminggu setelah di rawat saya dinyatakan sembuh. Saya Kembali ke Keuskupan lagi. Saya ingin cepat-
cepat Kembali lagi ke Kotabaru. Saya bisa sendiri dengan naik taxy. Karena selama ini sudah beberapa
kali mengadakan perjalanan PP dari Kotabaru ke Bajarmasin. Dengan kendaraan CG 110 yang disediakan
untuk tugas saya. Apalagi kalua naik taxy seperti perjalanan pertama saya. Saya tidak akan menjadi
terlalu lelah. Tetapi Rm. Husin MSF yang menjabat Vikjen Keuskupan Banjarmasin pada waktu itu
melarang saya cepat-cepat Kembali ke Kotabaru. Beliau meminta saya untuk menambah istirahat dulu di
Keuskupan selama 1 minggu lagi. Dan sepanjang itu beliau memberikan tawaran agar menikmati masa

istirahat dengan membaca buku-buku yang ada di Perpustakaan Keuskupan. Untuk mengisi waktu
akhirnya saya memilih beberapa buku yang menghibur. Buku tulisan RA. Kartini Habis Gelap Terbitlah
Terang, say abaca dari Perpustakaan di Keuskupan Banjarmasin ini. juga Buku cerita yang kemudian
dijadikan Film serial televisi yang terkenal pada saat saya masih kelas I SMA “Little House Of The Prairi”
juga saya baca di sini. Rasanya kisah perjuangan keluarga Charles Ingalls (Michael Landon), Carolin
Quiner Inggals (Karren Grassle), Laura Inngals (Melissa Gilbert), Marry Inggal kendall (Melissa Sue
Anderson), dan Carrie Ingalls ( Linsay) hidup kembali dalam imajinasi saya dengan membaca buku itu.
Satu buku lain yang mengesankan yaitu buku novel anak-anak klasik berjudul Charlotte’s Web yang
ditulis oleh E.B. White.  Buku ini mengisahkan tentang persahabatan yang mengharukan antara seekor
anak babi bernama Wilbur dengan seekor laba-laba yang bijaksana dan baik hati bernama Charlotte. 
Wilbur terlahir sebagai anak babi terkecil (kerdil) dan awalnya hampir dibunuh karena dianggap tidak
akan bertahan hidup. Ia diselamatkan oleh seorang gadis kecil bernama Fern Arable, yang merawatnya
dengan penuh kasih sayang. Ketika Wilbur tumbuh besar, ia pindah ke lumbung di peternakan paman
Fern, Tuan Zuckerman. Di sana, ia merasa kesepian sampai akhirnya berteman dengan Charlotte, seekor
laba-laba gudang. Wilbur mengetahui bahwa nasibnya adalah untuk disembelih saat Natal. Untuk
menyelamatkan temannya, Charlotte mulai menenun kata-kata pujian tentang Wilbur, seperti “Babi
Luar Biasa” dan “Rendah Hati”, ke dalam jaringnya. Hal ini membuat penduduk desa menganggap Wilbur
sebagai babi yang istimewa, bahkan ajaib, sehingga nyawanya terselamatkan dan ia memenangkan
hadiah di pameran daerah.  Cerita ini adalah kisah klasik tentang persahabatan, kesetiaan, dan cinta
tanpa pamrih. 
Buku Habis Gelap Terbitlah Terang, memberikan inspirasi kepada saya dalam tulisan yang pernah saya
sampaikan pada tulisan yang diabadikan pada buku Bunga Rampai tulisan teman-teman PBMN. Judulnya
saya balik Ketika panggilan saya untuk menjadi imam gagal tidak berlanjut. Bukan habis gelap Terbitlah
Terang. Tetapi dari Terang menjadi Remang-remang. Karena Ketika saya harus berhenti dari cita-cita
imamat itu seolah sesuatu yang semula sudah jelas bagi saya menjadi buram. Dengan latar belakang
Pendidikan Filsafat Teologi lalu mau jadi apa saya sesudah itu? Tidak jelas. Kabur. Tetapi dengan
berbagai perjuangan yang sudah saya tempuh simpulannya juga sudah menjadi jelas. Hidup saya hingga
saat ini juga baik-baik saja berkat perlindungan dan penyelenggaraan dari Tuhan yang saya yakini
dengan sepenuh hati.
Persahabatan, kesetiaan dan cinta tampa pamrih juga berlanjut. Setelah saya Kembali ke Yogya dan
berlanjut untuk menyelesaikan kuliah di Kentungan. Suster Antonia SPM yang yang dulu saya temani
saat mendampingi murid-muridnya mengikuti Lomba di dinas Pendidikan dan menemani saya dalam
perjalanan ke RS. Suaka Insan Banjarmasin saat saya sakit. Juga dipindahkan ke Magelang. Menjadi
Kepala Sekolah di SD Santa Maria di Jalan Magelang.
Suster Antonia sudah mengetahui bahwa akhirnya saya tidak berlanjut untuk tetap menjadi calon Imam
dari Konggregasi MSF dan mengetahui bahwa saya sudah pulang ke rumah di Tempel Sleman. Salah
seorang yang sangat kecewa karena saya terhenti dari perjalanan panggilan adalah Suster Antonia SPM
ini. Rupanya Suster mendengar kisah entah dari siapa dan menarik kesimpulan yang membuat banyak
frater termasuk saya harus berhenti sebagai calon Imam adalah Rm. Margo Murwanto MSF. Kemarahan
kekecewaan itu juga ditujukan kepada Rm. Margo. Tetapi Suster terhenyak ketika Rm. Marto datang
berlibur dari Kalimantan – saat itu Rm. Marto sudah bertugas di Sampit. Mengajak Rm. Margo
berkunjung ke rumah saya di Tempel dan mengajak juga saya dan Rm. Margo mengunjungi Suster
Antonia yang sudah pindah ke Magelang. Kedatangan kami bertiga tampak rukun-rukun saja. Tidak
tampak kekecewaan saya kepada Rm. Margo yang dia simpulkan sebagai penyebab gagalnya panggilan

saya. Dengan kehadiran kami bertiga ke Komunitasnya di Magelang kekecewaan Suster Antonia
terhadap Rm. Margo menjadi tersembuhkan.
Kepadanya dititipkan untuk membantu membimbing seorang anak laki-laki dari Orangtua Katolik di
Kotabaru yang pernah ditunjuk menjadi Camat di Karang Bintang itu diterima di SMA Van Lith Muntilan.
Tentu orangtua Katolik yang secara ekonomi cukup kuat sangat berharap agar-anak-anaknya
memperoleh pendidikan yang baik. Meskipun biaya yang akan ditanggungnya cukup besar. Tetapi
kemampuannya memang ada karena selain ayahnya PNS dengan jabatan tertentu – ibunya juga seorang
bidan PNS yang berkarya di RSUD Pangeran Jaya Sumitra di Kotabaru Pulau Laut. Suatu saat Suster
Antonia SPM datang ke rumah saya di Tempel mengajak saya untuk mengunjungi “anak titipan” dari
Kotabaru itu. Kami berkunjung ke Asrama Putra SMA Van Lith sampai 2 kali. Setiap kali mendapat kabar
dri orangtuanya bahwa putranya mendapat teguran indisipliner. Sayang sekali akhirnya kami mendengar
anak laki-laki yang dulu waktu SMP rajin menjadi misdinar di gereja itu tidak dapat berlanjut
menyelesaikan pendidikannya di Van Lith Muntilan. Mungkin salah bergaul atau bagaimana sehingga
Sekolah terpaksa mengeluarkannya dari proses pendidikannya. Saya dan Suster gagal memberikan
bimbingan karena apa yang kami lakukan tidak berdampak membuatnya menjadi lebih baik dan taat
kepada aturan di sekolahyang sudah ditentukan. Sayang sekali harapan orangtua untuk mengusahakan
anaknya mendapat Pendidikan yang baik tidak terjadi.

Jakarta, 8 November 2025
Ansgarius Hari 45 Wijaya

admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *