PENGALAMAN DARI STASI KE STASI YANG BERKESAN -1

PENGALAMAN DARI STASI KE STASI YANG BERKESAN -1

BRAMIN 15

Terlalu singkat rasanya tugas di sini. Banyak hal berkesan selain tugas-tugas rutin seorang Toper di
Paroki. Walaupun memang agak berbeda sedikit daripada tugas di Jawa. Di sini dikenal Turney.
Kunjungan ke stasi-stasi melayani ibadat atau pendampingan umat. Sedang di kota melayani anak-anak
muda. Pelajar SMAN atau Gabungan pelajar SMP Swasta dalam mengajar Pendidikan agama di Sekolah.
Ada 2 stasi/lingkungan yang dilayani di dalam kota dan di luar kota tetapi masih menjadi bagian dari
Pulau kecil ini. Pulau Laut. Sedangkan wilayah Stasi lainnya yang lebih banyak berada di daratan
Kalimantan yang dalam pelayanan ke sana harus menyeberang laut dengan speedboad atau dengan
kapal Klotok. Motor untuk menjangkau stasi yang jauh dibawa serta sepeda motor diangkut dengan
klotok atau speed boad. Satu-satunya stasi terdekat yang masih ada dalam kota di daratan Kalimantan
yaitu stasi Batulicin dimana ada komunitas orang Katolik pekerja pada perusahaan Kayu Lapis dari Korea
Kodeco.


Setelah Romo mengajak saya berkeliling, memperkenalkan diri dengan umat di Stasi yang kebanyakan
berada di daratan pulau Kalimantan. Saya dan Romo Marto berbagi tugas untuk mengadakan perjalanan
pastoral. Yang menjadi titik simpulnya di Batulicin. Batulicin ke arah kiri (setelah turun di Pelabuhan dari
Kotabaru) – searah dengan perjalanan menuju ke Banjarmasin ada beberapa Stasi yang dilayani. Yaitu
Pagatan, Sebamban II Blok A, Blok D, Blok C, Blok F daerah dengan Blok-Blok ini adalah daerah
Transmigrasi. Dari arah Batulicin Sebamban II Blok C, Blok F, ada di sebelah kiri jalan Trans Kalimantan.
Sebamban II Blok A, Blok D, ada di sisi kanan Jalan Trans Kalimantan. Sedangkan dari Batulicin lurus ke
arah pedalaman masuk ke Stasi Mandam (Maria Manikam Damai) di sana ada Gua Maria di tengah
hutan melalui Jl. Codeco jalan yang biasanya dilalui mobil truk besar pengangkut kayu gelondongan dari
dalam hutan yang dibawa ke Pabrik Kayu lapis di Batulicin. Sedang Batulicin dari ke arah kanan melintasi
jalan Trans Kalimantan yang ujungnya sana bisa sampai Tanah Grogot di Kalimantan Timur adalah ada
satu stasi setelah memasuki hutan di sebelah kanan namanya Stasi Serongga. Ada juga komunitas Trans
dari Jawa Timur. Berikut beberapa perjalanan yang meninggalkan kesan bagi saya.


Pertama di Stasi Batulicin sendiri ada komunitas karyawan pabrik Kayu Lapis Codeco. Stasi ini ada di
sekitaran Pelabuhan. Di Stasi ini Rm. Marto pernah marah, karena Romo mendengar adanya penolakan
dari umat untuk kehadiran Romo. Saya tidak tahu apa yang menjadi sebabnya. Sehingga Romo tidak
mau melayani sebelum mereka meminta maaf. Di Stasi ini banyak karyawannyapabrik kayu lapis berasal
dari NTT. Saat ini Perusahaan kayu dari Korea itu sudah tutup lokasinya sudah rata dengan tanah.
Keuskupan Banjarmasin/ Paroki Kotabaru yang memiliki sebidang tanah di daerah itu saat ini di tempat
itu sudah dibangun gedung gereja yang lebih megah dari gedung gereja induknya di Kotabaru. Tanah
milik keuskupan ini dulunya ada sebuah rumah tinggal untuk persinggahan Romo jika dari perjalanan ke
stasi jika diperlukan. Seorang Katekis yang berasal dari paroki Klepu Yogyakarta tinggal di tempat itu
sambil merawat kebun. Ada beberapa pohon cengkeh yang ditanam di sana. Katekis itu rajin memanen
cengkeh jika sedang berbuah. Lebih banyak tinggal di sini jika tidak sedang bertugas ke Stasi lainnya.
Sebagian besar lahannya masih berupa Semak belukar yang juga ditumbuhi rumput alang-alang yang
cukup tinggi.


Di Stasi ini oleh Perusahaan Kodeco Korea disediakan Gereja Oekumene. Yang digunakan bergantian
dengan umat Kristen pada saat beribadah di hari Minggu. Salah satu karyawan yang memiliki adik ipar
dari Ngawi Jawa Timur juga lulusan dari S-1 Widya Yuwana Madiun – yang kemudian diangkat menjadi Guru SD di Kota Banjarmasin. Saya juga bertemu salah satu karyawan dalam jajaran manajemen yang
berasal dari paroki Medari- paroki saya di Sleman, Yogyakarta.


Katekis lulusan D-3 Filial IPI Malang di Palangkaraya juga sudah menjadi Guru Inpres lebih dahulu.
Kemudian menikah dengan teman seangkatannya dari D-3 filial IPI Malang di Palangkaraya juga diangkat
menjadi Guru SD Tahun 2.000. Istrinya asli Kalimantan Tengah dari Ampah. Saya beberapa kali ditemani
dalam melakukan turney oleh Katekis ini ketika perjalanan ke Serongga, Sebamban Blok B, Karang
Bintang, Stasi Mandam. Sementara ke stasi-stasi lainnya saya melakukan perjalanan sendiri setelah
sekali memperkenalkan diri kepada umat Bersama Romo Marto. Sesudah itu kami bagi tugas 2 Minggu
ada di Kota – 2 Minggu perjalanan ke Stasi. Jika dari Batulicin Romo ke kanan ke arah Serongga – Saya
kekiri ke arah Pagatan – Sebamban II Blok A, C, D, F sedang ke arah Mandam dan Sebamban Blok B yang
ke arah tengah selang seling diantara itu. Dari antara kunjungan-kunjungan itu apa yang berkesan bagi
saya?


Di Pagatan. (Kecamatan Kusan Hilir Kabupaten Tanah Bumbu) dulu masih menjadi bagian dari
Kabupaten Kotabaru. Ketua Stasi seorang pensiunan perawat. Banyak umat di daerah pesisir Pagatan itu
dari kelompok Chinese. Ketika saya datang ke sini saya harus menginap. Hari berikutnya baru melayani
ibadah atau mengajar agama atau mendampingi anak-anak remaja belajar. Seperti memberikan
bimbingan tes. Latihan soal-soal. Saya senang pada saat anak-anak bercerita pada pertemuan bulan
berikutnya bahwa apa yang mereka pelajari bersama ternyata keluar dalam soal ulangan / ujian di
sekolah sehingga mendapatkan nilai prestasi yang bagus. Saya merasa berguna juga mendampingi anak-
anak itu saat sedang bertugas ke stasi ini. Tuan rumah pak Satari sangat baik kepada saya. Di saat waktu
luang – saya diajak keliling ke pasar di dekat muara Sungai Pagatan. Pasar tempat menjual ikan yang
besar-besar, baru kali itu saya melihat ikan segar dan besar-besar yang baru ditangkap dari laut di jual di
pasar. Juga daging rusa hasil berburu di hutan juga di jual di pasar itu. Kepada saya dia belikan telur
penyu. Sampai di rumah telur itu direbus. Dan kepada saya diberitahu bagaimana cara menikmati telur
penyu rebus itu. Ternyata meskipun sudah di rebus putih telurnya tetap cair. Tidak membeku seperti
telur ayam atau telur bebek. Kulit cangkangnya juga tidak kaku. Sehingga cara makannya perlu dirobek
ujungnya dan kemudian ditaburi garam agar terasa asin – dan diseruput. Biasanya saya kurang tahan
dengan bau amis putih telur. Tetapi entah karena apa. Saya bisa menikmatinya cara makan telur penyu
yang pertama kali itu. Saya tidak merasakan bau amis putih telur penyu itu. Mungkin karena baru
pertama kali. Sehingga rasanya menjadi sensasional. Kuning telurnya membeku dan jika dimakan
rasanya seperti berpasir tetapi terasa gurih. Di waktu yang berbeda saya juga diajaknya jalan-jalan ke
pasir laut yang berwarna agak putih kecoklatan di pinggir pantai Pagatan untuk melihat-lihat dimana
penyu mendarat dan bertelur di daerah itu. Di depan sana pemandangan lepas dari bagian laut Jawa.
Saya juga diajak menengok makam putranya yang meninggal karena kecelakaan lalu lintas, dan
kemudian dimakamkan persis di makam pinggir laut di belakang rumahnya itu. Beliau banyak bercerita
pada masa mudanya – saat Mgr. Projosuto MSF masih belum menjadi uskup, juga membantu pelayanan
beliau sampai di daerah Karang Bintang. Sambil melayani umat sebagai seorang mantri kesehatan yang
masih sangat dibutuhkan – karena belum ada dokter.


Akhir tahun 1988 itu Romo Marto mengajak kami merayakan Natal di Stasi Pagatan. Romo menyewa
satu kapal dari Pelabuhan di Kotabaru untuk merayakan Natal di Stasi Pagatan. Kami pergi satu
rombongan kapal dengan OMK dari Kobaru. Saat sampai di Pagatan Kapal menunggu di muara Sungai di
Pagatan untuk nanti Kembali lagi ke Kotabaru menjelang sore hari setelah acara selesai.

Di stasi ini sebelum saya kembali ke Yogyakarta saya diminta singgah bermalam dan pagi berikutnya
memberikan rekoleksi kepada seluruh umat baik kepada anak-anak remaja maupun orangtua. Tempat
rekoleksi dipilih dipinggir pantai Pagatan yang bersih di sekitar itu tumbuh pohon-pohon cemara yang
cukup banyak. Ada gerombolan sapi-sapi yang berwarna merah berkelompok tanpa gembala di area itu
seolah-olah ingin ikut rekoleksi dan mengucapkan selamat jalan kepada saya – karena setelah itu saya
pergi ke Banjarmasin dan untuk selanjutnya Kembali ke Yogya bersama-teman-teman seangkatan Toper
Tahun ke dua: Mas Untung, Roni, Mas Yosep Kristianto, Mas Didik Hardiyarso.


Stasi Sebamban II Blok C. (Kecamatan Sungai Loban)
Di tempat ini, jumlah umatnya tidak banyak. Ada kapel gereja yang didindingnya terbuat dari papan, dan
lantainya masih tanah. Sebagian besar geladaknya sudah lapuk. Tempat duduknya berupa dingklik
Panjang dari kayu. Jumah umatnya hanya beberapa keluarga saja. Rumah-rumah kecil jatah Transmigran
masih seperti aslinya. Sejak mereka datang tahun 1980-an. Lokasinya sekitar 3-5 Km dari jalan raya.
Akses masuk jika habis hujan tidak dapat dilalui motor tanpa jatuh bangun karena roda motor dilengketi
tanah liat warna coklatsampai penuh spakbornya. Suatu saat untuk keluar dari lokasi ini saya harus
ditemani Ketua stasi dengan membawa bilah bambu untuk membantu membersihkan roda motor dari
tanah yang melekat. Beliau sudah berpengalaman – karena berasal dari Paroki Temanggung perbatasan
ke arah Weleri. Di daerah asalnya tanah liat juga lengket seperti ketan menempel pada ban kendaraan
setelah hujan. Maka jika saya berkunjung pada kesempatan lain di waktu habis hujan. Sepeda motor
saya tinggal di warung di pinggir jalan raya. Saya masuk ke lokasi dengan berjalan kaki. Sambil
menirukan Rm. Wim dan Rm. Veuger berjalan pelan-pelan sambil membaca doa dari buku brevir atau
dari kitab suci kecil yang selalu saya bawa dalam perjalanan turney. Di daerah ini tampaknya ada
komunitas Trans yang berasal dari Bali. Karena pada suatu saat ada pertujukan tari Bali yang ditampilkan
di kampung Trans Blok C itu. Saya jadi ingat masa lalu di kampung saya sendiri pada saat saya masih kecil
– kadang pada musim panen ada Ledek yang berkeliling kampung untuk memberikan hiburan. Dengan
terang nyala obor diantara penari dan penabuh gamelannya. Biasanya saat musim panen. Di sini saya
tidak mengetahui konteks pertunjukan itu apakah karena hajatan atau sebab lain. Yang jelas penari
Perempuan memukulkan sabetan selendang atau menepiskan kipasnya kepada seorang pemuda atau
laki-laki dewasa – bahkan juga kepada anak anak laki-laki remaja dan mereka yang terkena sabetan
selendang atau pukulan kipasnya menari-nari sebentar ditengah arena pertunjukan tanpa panggung itu
dengannya sesuai dengan irama musiknya dan kemudian memberikan uang tip sambil menyenggol …
penarinya. Suasananya cukup meriah. Penerang yang digunakan adalah lampu petromak beberapa buah
karena di daerah itu belum ada aliran listrik. Syukurlah saya tidak didekati untuk senggol dengan
kipasnya untuk diajak menari dengannya. Kehidupan umat di sini tidaklah mudah. Saya tidak melihat
ladangnya di sebelah mana. Tidak ada sumur. Kalua mandi menggunakan air tadah hujan yang masih
ada tersisa di kubangan dekat sungai/parit agak jauh dari rumahnya. Saat saya pulang ke Yogya dan
bertemu saudaranya yang menjadi calon Suster PBHK dan sedang studi di Sanata Dharma,
pertanyaannya apakah saudaranya itu permukaan kulitnya masih kasar? Mungkin selama di Kalimantan
pernah pulang ke kampung halamannya. Dan saya memaklumi karena sarana kebersihan untuk
lingkungannya hanya tersedia air sehari-hari untuk mandi dari sisa tadah hujan saja.


Yang keluarga itu keluhkan adalah hasil tanaman khususnya singkong (yang disebutnya bodin) banyak
diganggu oleh babi hutan. Walaupun saya tidak melihat masih adanya hutan di sekitar situ. Tetapi
banyak tanah luas bekas milik transmigran yang tidak tahan krasan di tempat ditinggalkan pemiliknya
untuk kembali kekampung halaman. Tanah-tanah yang diberikan jatah oleh pemerintah dijual murah saja yang penting bisa digunakan untuk perjalanan pulang dengan keluarganya. Meskipun di tanah
asalnya sudah tidak memiliki tempat tinggal lagi.


Bapak ini bertahan dan berharap sebenarnya tanah subur seperti tanah Sumatera yang terbentuk dari
gunung berapi yang mudah digarap dan menghasilkan. Di sini tanah asam – tanah gambut. Tanaman
keras yang ditanam seperti cengkeh atau kelapa justru pada mati sebelum berbuah/ menjelang
berbunga. Saya turut prihatin dengan situasi umat yang ada di sini. Tetapi juga tidak dapat memberikan
bantuan materi apapun untuk meringankan hidup mereka. Saya kadang jadi merasa kesepian juga turut
merasakan penderitaan mereka. Tanah-tanah kosong yang ditinggalkan pemiliknya tumbuh subur alang-
alang, karena tidak ada yang merawatnya. Karena banyak sekali keluarga Transmigran yang tidak tahan
tinggal di lokasinya dengan keadaan seperti ini.


Ada sekolah SD Negeri dari 6 kelas gurunya hanya 2 orang. Guru-guru itu pendatang dari
daerah/Kabupaten lain. Putranya pagi-pagi sudah pulang dari sekolah SD dan Ketika ditanyakan
kenapa? Karena tidak ada gurunya. Gurunya baru mudik menjelang lebaran dan sesudah lebaran juga
tidak segera kembali ke tempat tugasnya. Jika Kembali hanya 2 orang mengajar 6 kelas. Mungkin mereka
juga mengalami kejenuhan. Anak-anak diberi tugas dan 2 orang guru tinggal di ruangan untuk bermain
catur. Bagaimana situasi seperti ini bisa membuat maju pendidikan di daerah terpencil?
Blok daerah ini sangat indah dipandang mata dari tepi jalan raya Trans Kalimantan di daerah Sebamban
ini. Karena banyak lahan kosong di tumbuhi alang-alang dari kejauhan berwarna hijau jika terkena
tiupan angin berombak-bergelombang indah seperti permadani yang meliuk liuk. Tetapi juga
menimbulkan rasa kesepian (Lonelly) jika membayangkan orang-orang yang hidup di dalamnya. Panen
gagal karena serangan hama babi atau kultur tanah yang tidak cocok untuk tanaman keras. Jika berhasil
panenan tidak laku dijual. Jika laku dengan harga rendah karena biaya angkut ke pasardi kota juga
menjadi terlalu mahal jadinya. Selain penghuninya yang tidak krasan di tanah Garapan Lokasi Transmigrasi Kembali ke kampung halaman ada juga Sebagian pergi ke kota untuk menjadi buruh di palabuhan.


Sebamban II Blok D ( Kecamatan Sungai Loban).
Daerah ini banyak dihuni Transmigran dari Jawa Timur – dari Ngawi dan sekitarnya. Ada juga yang dari
Wonosari gunung Kidul. Ada yang dari Jawa Barat. Tokoh umat yang popular pada waktu itu adalah pak
Sajiran. Asal Ngawi. Sebelum menjadi Transmigran di sini, dia bekerja sebagai buruh terutama untuk
menebang tebu. Bahkan perjalanan pekerjaannya sebagai buruh seperti itu pernah sampai di daerah
Klaten. Dari Ngawi Jawa Timur hanya naik sepeda. Mungkin tugasnya berpindah-pindah dari areal
tanaman tebu yang satu ke areal tanaman tebu lainnya di daerah Klaten atau dimanapun di daerah Jawa
Timur dia dapat bekerja menjadi buruh tebang tebu. Seperti di Madiun, Nganjuk dan sekitarnya. Dia
mengetahui bahwa di Ngawi ada seorang Diakon awam dari Keuskupan Surabaya yang ditahbiskan
sebagai Diakon tertahbis. Namanya pak Eddy.


Tentang pak Eddy ini nanti saya akan bertemu langsung dengan beliau setelah saya bekerja di
Randublatung. Pada tahun 1993. Lima tahun setelah disebutkan namanya oleh pak Sajiran di Sebamban
Blok D. Karena pak Eddy adalah ayah angkat dari Guru teman saya satu rumah kost di Randublatung.
Saya dan teman saya itu datang ke rumah pak Eddy di Ngawi tidak jauh dari Terminal Bus Lama. Kami
berboncengan sepeda motor sampai di rumah pak Eddy pada pukul 12.00 malam. Pak Eddy dan Bu Eddy baru saja selesai berdoa rosario. Luar biasa penghayatan rohaninya. Kami datang karena teman guru itu
diminta berembug oleh calon mertua soal rencana lamarannya dengan seorang gadis dari Stasi di
Randublatung. Kami datang malam-malam karena itu kesempatan terbaik yang bisa kami lakukan untuk
bertemu dengannya. Dan dengan sigap pak Eddy selaku orangtua angkat teman saya menanggapi dan
seminggu kemudian lamaran itu dilaksanakan. Mengingat hidup doanya yang sedemikian maka tidak
mengherankan jika kemudian hari salah satu puteranya (Rm. Novi, Pr) yang waktu itu masih remaja –
ditahbiskan menjadi pastor untuk Keuskupan Surabaya.


Saya mengenal pak Sajiran temperamennya jika dalam tokoh wayang, saya membayangkan seperti
Baladewa. Bicaranya Jawatimuran dan terus terang. Tetapi saya menangkapnya sebagai ekspresi dari
kejujurannya. Rumahnya tampak lebih mapan dibanding umat lain di sekitarnya. Rumah lama masih
beratap seng. Dan digunakan untuk usaha dagang kelontong. Sudah bisa membangun rumah baru di
sampingnya. Meskipun didindingnya tetap dari papan yang diserut halus, atapnya dari genteng yang
didatangkan dari Pasuruan lewat muatan kapal barang. Jika Romo dan saya datang di stasi ini – kami di
tempatkan di salah satu kamar di rumahnya yang baru itu. Kepada keluarganya Rm. Marto memberikan
pinjaman modal untuk berternak sapi. Dan tampaknya cukup berhasil karena bisa mengembalikan
angsuran pinjamannya dengan tertib. Sementara ada juga umat yang sesudah mendapatkan pinjaman
dari Romo karena tidak dapat mengembalikan lewat cicilan malah menghilang dan setiap kali kami
datang berkunjung ke stasi umat itu tidak pernah datang.


Putri dari pak Sajiran diberikan bantuan dari Keuskupan melalui Rm. Husin MSF (Vikjen di Keuskupan
Banjarmasin yang kemudian menjadi Uskup Pertama Keuskupan Palangkaraya). Tingkat SMA nya
diasramakan di Suster SFD. Studi lanjut ke Akademi Sekretaris Santa Maria Pring Wulung di Yogyakarta.
Sayangnya setelah lulus dan kembali ke Kalimantan malah menikah dengan orang Islam di kampungya
dan menjadi mualaf.


Pada saat pastror Paroki berganti dari Rm. Marto Setyoko MSF ke Rm. Darmo Kusumo MSF Bapak Uskup
Mgr. Projosuto MSF hadir untuk meresmikan Kapel Stasi Sebamban Blok D yang baru selesai di renovasi.
Untuk ukuran di Kota bangunan Kapelnya sederhana saja. Dinting dari Papan kasarBanyak umat hadir
dari Banjarmasin mengikuti Rombongan Bapak Uskup. Umat dari Stasi stasi yang berdekatan diundang
hadir, sehingga banyak sekali umat yang hadir di dengan ukuran bangunan 7 x 15 m2. Lantai dari plester
semen. Atap seng yang panas. Berdiri di atas tanah seluas 100 m2. Umat dariBanjarmasin dan dari stasi-
stasi itu tidak semua dapat tertampung di dalam kapel. Banyak diantara mereka yang duduk-duduk di
halaman kanan kiri dan depan kapel yang panas. Tenda yang dipasangpun tidak mencukupi untuk semua
yang hadir. Pada saat itu. Stasi ini memeriahkan acara itu dengan menyembelih seekor sapi untuk
menjamu para tamu yang hadir. Meskipun dengan makan nasi bungkus dengan sepotong daging sapi
suasananya sangat meriah. Setelah selesai acara saya menitipkan seorang anak remaja Perempuan dari
daerah ini untuk bekerja di kota Banjarmasin, menjadi pembantu rumah tangga pada seorang ibu yang
rumahnya tidak jauh dari Keuskupan di jl. Lambung Mangkurat.


Saya tidak mengetahui persis mata pencaharian umat. Tetapi dari cerita-cerita yang saya dengar ada
umat yang bekerja keras masuk ke dalam hutan untuk mencari getah kayu Gaharu yang laku dijual. Atau
pergi menambang emas. Ada juga yang berhasil diangkat menjadi guru SD negeri atau berdagang
kelontong kecil-kecilan di rumahnya. Seperti yang dilakukan keluarga pak Sajiran ini. Romo Marto juga
mencoba memberikan bantuan untuk pengembangan ekonomi dengan bantuan modal untuk berternak
sapi. Atau usaha lain untuk pengembangan modal usaha. Saya juga diminta membantu untuk tabungan dana dan arta yang dari Keuskupan Agung Semarang, dengan memberikan bukti kepemilikan tabungan
berupa materai dalam buku tabungan mereka.


Akses masuk ke stasi ini lebih baik daripada akses masuk ke Stasi Blok C. Jalur jalan yang lebar masih bisa
dipilih dan cukup padat sesudah selesai hujan. Ada jalur lainnya yang lebih baik karena jalanan keras
melewati sedikit hutan yang pohonnya sudah jarang. Masuk dari jalan raya sekitar 4-5 km ke dalam.
Tetapi motor atau mobil bisa masuk dengan baik. Zaman Rm. Darmo Kusumo MSF Kotabaru mendapat
fasilitas mobil Kijang Tahun 1984 seperti mbil Kijang Coklat di Skolastikat MSF yang digunakan untuk
mengantar belanja ke Pasar Beringharjo. Hanya mobil paroki Kotabaru warnanya biru. Dan di tempat
persewaanparkir di pintu masuk Pelabuhan Batulicin. Di dalam Kotabaru sampai di Stasi Stagen sekitar
10 km dari Kotabaru Rm. Marto mengendarai Yamaha Trail dan saya menngunakan Motor CG 110.
Selama 2 bulan dengan Rm. Darmo Kusumo saya belum pernah bersamanya pergi ke Stagen. Di dalam
kota juga belum pernah mengadakan pertemuan lingkungan di rumah salah satu umatnya.
Di Stasi ini ada seorang bapak asli dari Jawa Barat, yang memiliki empang untuk memelihara ikan.
Namanya Balong. Mungkin di daerah aslinya dahulu seperti itu juga yang dilakukan untuk menopang
ekonomi rumah tangganya. Di daerah inilah saya juga pertama kali merasakan makanan nasi yang
dicampur dengan singkong. Entah bagaimana cara membuatnya – karena ada bau yang tidak sedap,
saya merasa kurang bisa menikmati makanan seperti itu yang disajikan untuk saya. Saya merasa saya
belum bisa meninggalkan diri saya sendiri untuk bisa menikmati apa adanya yang disediakan untuk saya
dari kalangan umat.


Sejak Rm. Darmo menjadi pastor paroki Kotabaru, tampaknya rumah pak Sajiran tidak lagi menjadi
tempat menginapnya saat kunjungan ke stasi. Tetapi berpindah-pindah dari satu rumah ke rumah
lainnya. Juga belakangan Rm. Dwi Sulistyo bercerita kepada saya beliau tidak pernah singgah di rumah
pak Sajiran.


Sebamban II Blok F ( Kecamatan Sungai Loban, Kabupaten Tanah Bumbu).
Tokoh umat yang saya kenal di sini adalah pak Turimin. Keluarga muda asal dari daerah Sukorejo. Sama
menyebut singkong menjadi bodin. Dari rumahnya saya pertama kali merasakan daging babi hutan.
Karena pada saat saya datang ke stasi ini, pak Turimin baru saja mendapat buruan babi hutan di
kebunnya. Dia bisa menangkap babi hutan itu karena memasang racun berupa buah nenas yang diberi
madu di dalamnya. Tisak lama setelah babi hutan memakannya dia menjadi pingsan, dan belum jauh
dari kebunnya dia melihat babi itu tergeletak dan disembelihnya untuk dimasak dagingnya. Masakan
yang dibuatnya cocok dengan selera saya karena sama-sama dari Jawa Tengah. Sangat berbeda dengan
kesempatan lain yang kepada saya disajikan masakan babi hutan hasil buruan umat di stasi Sebamban
Blok D yang terpisah agak jauh dari kelompok umat dan komunitasnya banyak dari warga NTT. Pak
Turimin memiliki ternak kambing yang cukup banyak. Darinya saya belajar soal keberihan lingkungan.
Kebunnya tertata rapi. Rumahnya yang masih berlantai tanah, terjaga bersih. Bahkan Ketika makan –
sampah di tempatkan pada tempat yang tepat, dan kemudian dibuang di tempat sampah yang
disediakan. Dia seorang muda yang suka bertirakat. Ajaran-ajaran ngelmu Jowonya masih dia pelihara
sampai di tempat ini. Juga soal perdukunan dia ketahui tentang banyak hal. Menjurus pada klenik. Suka
berpuasa. Sesirik. Satu anak laki-lakinya masih belum berumur 10 tahun. Model pemikirannya cukup
kritis.

Di sekitar lingkungannya juga ada kelompok umat yang datang dari Klaten. Dan masing-masing
kelompok lingkungan membawa nama daerahnya. Dari mana mereka berasal dan khususnya dari daerah
Jawa Tengah. Letak kapel ada di sisi kiri sebelum rumah Pak Turimin. Agak jauh dari rumah penduduk. Saat kumpul di Kapel malam hari harus membawa lampu petromak. Sama dengan kondisi kapel di Blok C. Bangunan dari kayu yang tampak kurang terawat. Kondisi kapel yang paling baik memang kapel yang ada di Blok D.


Selain di rumah pak Turimin kami juga pernah bermalam di rumah umat yang lain. Ada umat yang cukup
mapan juga. Berasal dari Flores dan menikah dengan orang Jawa. Dia bukan kelompok Transmigran.
Tetapi awalnya menjadi penduduk di Blok F ini, dari pekerja perantau penebang pohon di hutan –
mungkin pekerja proyek pembukaan hutan untuk lahan para transmigran. Maka memiliki alat gergaji
mesin Chainsaw. Rumahnya sangat kokoh dibangun dari kayu ulin (kayu besi) berwarna hitam berkilat.
Baik lantainya yang di atas tiang-tiang yang kokoh setinggi hampir 80 cm. Dindingnya juga dari kayu ulin,
meskipun atapnya dari seng.


Ada juga bagian dari Umat di blok F ini, hanya saja tempat tinggalnya terpisah jauh dari blok F ( di
Angsana Kecamatan Kuranji). Beliaunya asli dari Kulon Progo. Istrinya bidan negeri. Dari segi ekonomi
cukup berhasil. Dengan bantuan Romo bisa membeli sebidang lahan kebun yang ditanami buah jeruk
dan sahang (lada hitam) yang sudah menghasilkan panenan. Saya diajak ke rumahnya dan kebunnya
yang cukup jauh itu. Di kampungnya yang berada di daerah Angsana. Berada di sebelah kanan 5-7 Km
dari Arah Blok F. Masuk lagi ke dalam sekitar 5 km dari jalan raya Trans Kalimantan di Sebamban II.
Akses jalan masuknya cukup becek berkubang. Sepeda motor harus pilih-pilih jalur agar tidak masuk
dalam kubangan berlumpur.


Ketika singgah di rumahnya, saya melihat album foto kegiatan di RT-nya saat perayaan Hari besar 17-an
Agustus. Saya melihat satu foto yang familiar di pikiran saya. Yaitu foto Guru Agama Islam pak Hadi di SD
Negeri Sanggrahan Prambanan tempat saya dulu sekolah. Saya konfirmasi kepada tuan rumah. Apakah
ini betul foto pak Hadi dari Prambanan? Jawabnya betul. Saya langsung meminta agar saya ditunjukkan
rumahnya yang satu RT dengannya. Saat saya memperkenalkan diri kepada pak Guru itu – tentu beliau
sudah lupa. Karena saya mengikuti pelajaran agama Islam hanya sampai di kelas II SD. Saya
memperkenalkan diri bahwa saya mahasiswa dari Sanata Darma – mantan murid Bapak dari SDN
Sanggrahan Prambanan. Kemudian beliau ingat Kembali masa yang sudah silam itu. Beliau senang
bahwa saya mantan muridnya masih ingat kepadanya dan mau berkunjung di rumahnya yang ada di
pedalaman Kalimantan di daerah yang tidak lebih baik daripada di kampungnya di dusun Kebondalem
Lor (Kokosan) di sebelah utara agak ke timur dari Candi Prambanan. Saya ikut bersyukur karena beliau
berangkat menjadi Transmigran Spontan yang memiliki bekal sebagi PNS sehingga tingkat kehidupan
ekonominya lebih baik di banding yang lain. Saya melihat di kebunnya yang cukup luas beliau memiliki
beberapa ekor sapi.


Ada juga keluarga yang sangat sederhana. Yang membuat hati saya merasakan karya saya di tempat ini
seperti tidak berguna. Karena saya kadang juga merasa malah merepotkan mereka di kalangan umat
yang sangat sederhana. Sajian makan dengan indomie goreng, nasi, satu telor ceplok, yang hanya
tersedia untuk saya, sementara keluarga itu tampaknya tidak memiliki persediaan makanan lainnya
selain yang sudah disediakan untuk saya, membuat saya agak sulit dapat menelan makanan yang
(sederhana) itu untuk saya – tetapi merupakan makanan istimewa untuk dia. Saya merasa diri tidak
nyaman dengan kehadiran saya di dalam keluarga yang demikian. Karena saya tidak dapat memberikan apa-apa tetapi rasanya malah mengganggunya karenya, dia harus menyediakan makan untuk saya
dengan cara berkurban seperti itu. Entah dimana pikiran dan hati saya pada waktu itu? Jika saya mau memberikan bantuan untuk penyediaan makan saya yang sederhana itu saya sebenarnya saya juga bisa menyisihkan dari uang jalan yang Romo berikan kepada saya, tetapi hal yang baik itu waktu itu tidak pernah saya pikirkan dan apalagi saya lakukan.


Sebamban II Blok A ( Kecamatan Sungai Loban, Kabupaten Tanah Bumbu)
Hanya sekali saja saya datang di tempat ini. Hanya satu keluarga saja yang ada di sana. Keluarga Katolik
yang cukup mapan karena Bapak keluarga ini adalah KUPT (Kepala Unit Penempatan Transmigrasi) yang
berasal dari Klodran Bantul. Saat saya hadir di sana hanya istrinya saja yang ada di rumah bersama
putranya yang masih SMP. Putranya yang besar sedang menempuh studi di Fakultas Kedokteran
Universitas Lambung Mangkurat dan tinggal di rumah kost di Banjarbaru. Ibunya mengeluhkan
jarangnya kunjungan pastoral ke sini. Bahkan seringkali seorang pendeta singgah untuk mengajak
keluarga ini menjadi umatnya. Di Sekolah putranya diajar oleh pendeta dalam pelajaran Agama Kristen
karena tidak ada guru agama Katoliknya. Maka ada alasan bagi pendeta GKE itu untuk mengunjungi
rumahnya. Sayangnya saya berkunjung di tempat ini di bulan-bulan terakhir sebelum saya
menyelesaikan tugas Orientasi Pastoral itu. Akses jalan ke Blok ini jalurnya sangat buruk seperti
kubangan lumpur. Apalagi saya datang ke tempat itu waktu baru saja selesai hujan. Jalur jalan sangat
licin dan harus ekstra hati-hati. Meskipun beberapa ruas jalan utamanya sudah baik.
Saya bisa memahami Romo tidak sering datang ke sini karena umatnya hanya satu keluarga. Ayah
karena PNS di DepartemenTransmigrasi sering tidak di rumah dan harus berkeliling untuk melaksanakan
tugasnya. Tetapi keluarga ini karena termasuk keluarga terpelajar maka juga berdampak bagi
lingkungannya. Dari rumahnya di salurkan aliran listrik bermesin diesel ke rumah-rumah di Bloknya
dengan kabel listrik sederhana yang diberi tiang-tiang kayu seperti kabel untuk radio Break di kampung
saya dulu. Tetapi lingkungan itu memiliki jaringan listrik swadaya yang pembangkit listrik dieselnya ada
di samping rumahnya, yang dinyalakan diwaktu malam. Ibu dan putranya tadi juga buka usaha cetak
foto ( Foto afdruk dari Film seluloid sebelum zaman digital) di rumahnya. Saat saya meninggalkan
rumahnya kepada saya dititipkan surat untuk salah satu putranya yang sedang menempuh studi di
Bantul. Saya mengantarnya ke rumah keluarganya di Klodran Bantul setelah saya sampai di Yogya. Saya
mantan Frater Toper yang merangkap menjadi Opas Pos yang mengantar surat gratis sampai di Klodran
Bantul.


Sebamban Blok III B ( Kecamatan Sungai Loban. Kabupaten Tanah Bumbu)
Pak Bambang adalah orang Katolik yang pernah terpilih menjadi Kepala Desa di situ. Pak Bambang
berasal dari daerah Wonosobo. Pengalamannya banyak. Sebelum menjadi lurah ia pernah bekerja
menjadi sopir angkot di Batulicin. Dia pernah menceritakan pengalamannya itu dengan solilokui
(senandika) “Rasanya tidak menjadi orang terhormat saat menjadi seorang sopir angkot – setiap orang
menyebut diriku dengan jangkar: Mbang – Mbung. Asal saja. Tanpa basa-basi dengan embel-embel: Mas
Bambang atau pak Bambang. Saya merasa tidak dihargai. Sementara makan dan minum mereka di
warung saya yang mbayari”. Semua orang memanggil namanya begitu saja. Tanpa embel-embel apapun.
Saat terpilih menjadi kepala desa dia juga memiliki usaha jual beli kayu. Kayu ulin yang ditebang di
tengah hutan ditarik ke jalur jalan besar yang dapat dilewati truk untuk angkutan kayu dari perusahaan kayu lapis Kodeco. Penarik kayu dari dalam hutan digunakan binatang kerbau. Di kebun belakang
rumahnya ia juga memelihara ternak babi. Dia katakan tentang babi itu: “Kalau melihat pantat babi yang
mulus dan gemuk itu ingin rasanya saya segera menyembelihnya”.


Di daerah tempat tinggalnya tidak ada kapel. Kegiatan peribadatan dilakukan di ruang bagian Tengah
rumahnya yang cukup luas dan dapat menampung banyak orang. Kami jika sedang berkunjung di stasi
ini disediakan kamar di lantai II. Bahan bangunan rumahnya dari kayu ulin yang kokoh. Sebagai kepala
desa dia juga masih merawat kesenian dari Jawa. Ketoprak. Pemain ketoprak adalah komunitas orang-
orang Jawa di kampungnya. Ada seperangkat gamelan di rumahnya. Suatu saat di rumahnya digunakan
untuk pentas ketoprak. Saya lupa dalam rangka apa. Kami dari Kotabaru datang bersama dua orang
Suster SPM tentu saja juga Bersama dengan satu Katekis yang tinggal di Batulicin untuk ikut menikmati
acara itu.


Salah satu putrinya yang masih SMP juga ikut bermain dengan peran sebagai seorang permaisuri raja
dalam pentas ketoprak itu. Meskipun masih SMP dengan mengenakan pakaian kebaya tampak sudah
seperti perempuan dewasa. Kala itu juga sudah pdkt dengan seorang pria dari kalangan Floresa, guru
tidak tetap yang mengajar di sekolah milik Perusahaan Kayu Kodeco di Batulicin. Saat saya mengunjungi
salah satu keluarga di daerah ini dia ikut juga hadir dalam kunjungan itu. Saya tidak tahu apakah
akhirnya mereka lanjut di dalam pernikahan. Yang berkesan pada saya adalah pertanyaan dari putri pak
Bambang itu saat kunjungan saya terakhir kali sebelum saya kembali ke Yogya. Dia bertanya kepada
saya: “ Frater apakah Jakarta itu dekat dengan Jawa.” Tampak sekali kualitas hasil pendidikan di
Kalimantan ini. Sudah sekolah di Tingkat SMP tetapi ilmu pengetahuan umum tidak sungguh-sungguh
dia kuasai. Dengan menanyakan Jakarta apakah dekat dengan Jawa. Dikiranya Jakarta dengan Jawa itu
satu tempat yang dapat diperbandingkan. Tidak paham bahwa kota Jakarta itu ada di pulau Jawa. Saya
tidak tahu – apakah dia memakai terminologi seperti orang-orang yang merantau di Jakarta? Sehingga
kalau pulang ke Jawa Tengah mengatakan kita pulang ke Jawa. Jakarta berbeda dengan Jawa. Memang.
Tetapi tidak sepadan untuk diperbandingkan. Yang satu nama kota yang satu nama pulau. Sama
kasusnya orang-orang yang merantau ke Jakarta tidak dapat membedakan dengan tepat antara Jakarta
dengan Jawa (Tengah – Timur). Menganggapnya sebagai suatu tempat atau entitas yang setara untuk
diperbandingkan.


Di daerah ini saya juga mengunjungi rumah umat yang lainnya. Salah satu yang saya kunjungi
diantaranya juga satu keluarga yang berasal dari daerah Prambanan yang salah satu temanya saya kenal
karena menjadi bagian dari saudara saya. Kakak temannya itu menikah dengan pak Dhe saya. Dan
kemudian dia juga menikah dengan orang yang sekampung dengan saya di Prambanan. Nasib temannya
itu menjadi lebih mujur karena kemudian menjadi pegawai Pemda di Semarang dan memiliki rumah di
Banyumanik. Keluarga yang saya kunjungi itu juga mengetahui hal itu – dia seperti meratapi nasibnya
karena sudah menjadi Transmigran tetapi secara ekonomi juga belum menjadi jelas kemajuannya.
Berbeda dengan temannya yang ternyata bisa tetap tinggal di Jawa bahkan menjadi PNS di Pemda Kota
Semarang. Memiliki tempat tinggal yang lebih bagus di kompleks Perumahan Banyumanik.
Sama seperti di stasi lainnya beberapa orang yang diberi bantuan pinjaman modal usaha oleh Romo,
karena tidak dapat mengembalikan cicilan hutangnya malah hilang dari perkumpulan umat Katolik.
Tidak mau lagi berkumpul dengan umat jika kami datang berkunjung. Bahkan ada cerita yang
memilukan, karena setelah mendapatkan pinjaman untuk membeli ternak sapi, pinjaman yang diterima
tidak digunakan sebagaimana rencana peminjaman untuk membeli sapi tetapi uang hasil pinjaman untuk beli televisi dan sisanya dihabiskan untuk jalan-jalan ke kota mencari kesenangan dan akhirnya
habis tanpa sisa dan tidak dapat mencicil untuk pengembaliannya. Tampaknya ini menyangkut
mentalitas seseorang.


Ada juga satu keluarga yang hidupnya sangat miskin dan menderita. Ibunya menderita penyakit kanker
panyudara. Dengan ringan kami memberikan nasehat agar dibawa ke RSUD di Banjarmasin saja dengan
menggunakan surat miskin dari RT dan dirawat disana. Itu adalah cara yang paling mungkin untuk
mengatasi masalahnya. Tetapi rasanya kami tidak pernah memikirkan detil teknisnya bagaimana biaya
transportasinya ke Banjarmasin? Bagaimana keluarga yang menemani dan harus tinggal menemani di
Banjarmasin? Bagaimana biaya hidup orang yang menemaninya di sana. Belum lagi prosedur perawatan
orang miskin di rumah sakit umum yang sampai sekarang ini meskipun sudah ada BPJS juga tidak akan
terlayani dengan baik. Apalagi menyangkut kasus penyakit yang berat seperti itu. Waktu itu bisa saja
kami berteori seperti itu – memudahkan segala perkara menjadi sederhana. Pada hal kenyataan tidak
semudah orang berbicara memberikan nasehat. Namun demikian satu kasus ini terbawa terus dalam
pikiran saya. Sesudah kembali dari Kalimantan memasuki tingkat IV di Kentungan ada mata kuliah
Proyek Harapan. Baru saya menemukan jawaban atas penderitaan keluarga itu. Bagi keluarga itu satu-
satunya hal yang mungkin memberikan hiburan hanyalah berpasrah kepada Tuhan. Bagi mereka hidup
mereka sudah berada dalam ambang keterbatasan manusia. Penderitaan akan sangat dirasakan jika
orang tidak memiliki iman dan harapan. Jauh hari kemudian setelah saya menjadi PNS dan mendapat
kesempatan bertugas ke Banjarmasin dan bertemu dengan teman Katekis dari Kotabaru dahulu yang
sudah menjadi guru di Banjarmasin, saya bertanya kembali Nasib keluarga di Sebamban Blok B ini. Dia
bercerita – dialah yang merawat saat kematiannya. Panyudara yang terjangkit penyakit kanker itu
pecah. Dan ibu itu meninggal dunia. Tidak ada orang yang mau mendekat karena bau jenasahnya extra
ordinary. Saya dapat membayangkan ketabahan teman Katekis itu yang merawat warga Trans demi
pelayanannya. Saya sendiri pun tidak akan mempu menjalankan pelayanan tanpa merasa mual-mual
dalam kondisi seperti itu seandainya saya masih melaksanakan tugas di sana. Teman Katekis itu dapat
melayaninya dengan ketulusan hati.


Saya ikut bersyukur karena ketika bertemu terakhir kalinya di Keuskupan Banjamasin di tahun 2022 (dia
menjadi salah satu warga paroki Katedral dan tetap aktif di gereja dengan istrinya), Tuhan
memberkatinya dengan kelimpahan. Anak-anaknya dapat melanjutkan sekolah di perguruan tingginya di
Yogya. Bahkan dapat membeli rumah di daerah Kalasan. Anaknya yang besar sudah lulus dan bekerja di
bidang Kesehatan. Dia sudah memasuki purnabakti dari PNS dan tidak pulang ke Yogya, tetapi
melanjutkan berkebun di daerah Ampah kebun warisan dari keluarga istrinya.

Jakarta, 15 Noveber 2025
Sunlake, Waterfront, Sunter Jakarta Utara
Ansgarius Hari 45 Wijaya

admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *