PENGALAMAN DARI STASI KE STASI YANG BERKESAN -2 DAN PERJALANAN NON PASTORAL
BRAMIN 16
Serongga ( Kecamatan Kelumpang Hilir – Kabupaten Kotabaru)
Serongga adalah sebuah desa di Kecamatan Kelumpang Hilir, yang termasuk dalam
wilayah Kabupaten Kotabaru, Provinsi Kalimantan Selatan. Meskipun terletak berdekatan
dengan Batulicin (ibu kota Kabupaten Tanah Bumbu), dan berada di daratan Pulau Kalimantan,
namun secara administratif Serongga bukan bagian dari Kecamatan Batulicin maupun Kabupaten
Tanah Bumbu. Serongga berada di jalur jalan nasional Batulicin-Kaltim dan menjadi daerah
perbatasan antara Kabupaten Tanah Bumbu dengan Kabupaten Kotabaru.
Seperti sebelumnya saya ceritakan saya berbagi tugas dengan Romo Marto Setyoko, jika Romo
ke kiri saya ke kanan. Serongga mengarah ke kanan setelah turun dari pelabuhan Batulicin.
Mengikuti jalur jalan nasional itu dalam jarak sekitar 60 km. Dalam pertengahan jalur itu harus
melewati hutan, yang jalur jalannya seperti jalan truk trailer pengangkut kayu perusahaan
Codeco di beberapa tempat sudah ditumbuhi semak belukar yang akan menyatukan kembali
sebelah kanan dan sebelah kiri jalan. Yang saya takutkan jika suatu saat bertemu dengan ular
yang besar atau beruang hitam atau macan tutul. Kadang-kadang saya bertemu monyet berwarna
hitam dan berekor panjang – tetapi monyet seperti itu takut kepada manusia, maka jika bertemu
mereka yang akan menghindar lebih dahulu menimbolkan suara kemrosak karena berlompatan
menerobos cabang-cabang pohon di dalam hutan. Kemudian kita yang lewat hanya mendengar
suaranya saja. Suara teriak-teriak mungkin bersama dengan kelompoknya atau karena terpisah
dengan kelompoknya. Di atas pohon yang tinggi kadang-kadang kita dapat melihat gerombolan
burung enggang yang sedang hinggap atau sedang terbang di langit. Kelompok burung enggang
bukan dalam kelompok koloni besar seperti burung kuntul yang pernah saya lihat di langit
kampung saya waktu saya masih kecil. Tetapi burung enggang dalam kelompok kecil yang
berjumlah 5 – 10 ekor saja. Suara mencerecaunya sangat khas. Saya kadang-kadang merasa ngeri
juga karena jalur itu sepi. Tidak ada orang lain yang lewat. Bisa jadi jalur itu sendiri sepanjang
15-20 km. Karena jarak Batulicin ke Serongga sekitar 95 km.
Beberapa kali saya ditemani katekis paroki. Tetapi juga pernah melakukan perjalanan seorang
diri. Bersyukur saat motor yang kami kendarai mengalami bocor ban-nya. Saya ada teman
Katekis. Sehingga saat itu Katekis menyarankan saya lanjut berjalan kaki menyusuri jalur jalan
hutan itu. Sedangkan dia kembali ke kampung Serongga untuk menambalkan ban di sana. Saat
saya berjalan sendiri itu suara bising dari tonggeret- gareng pung – atau kinjeng tangis (yang
kami kenal di Jawa). Suara serangga dari pejantannya yang timbul biasanya saat terjadi
pergantian musim, di akhir musim penghujan. Memenuhi telinga – dan membuat hati sedih
kesepian – rasa ngelangut. Frasa ini sulit diterjemahkan dalam bahasa Indonesia, mungkin
mendekati pengertian perasaan rindu atau sedih karena tenggelam dalam pikiran dan perenungan
yang mendalam. Kata ini sering digunakan untuk menggambarkan kondisi batiniah yang
kompleks, yaitu perpaduan antara sepi, galau, kekosongan, dan kontemplasi yang
mendalam.
Meskipun kadang ketemu juga beberapa orang yang sedang membangun tenda bivak karena mereka sedang menebang pohon. Tetapi jeda mendengar suara orang – yang ternyata ada
orang lain di sekitar hutan yang sepi itu, tidak menghilangkan perasaan kesendirian itu.
Di kampung Serongga ini, saya menemukan sejumlah orang Jawa dari Jawa Timur, antara lain
dari Blitar, ada juga dari Batak. Di tempat ini saya mendapat informasi – “Frater, jika ingin tanah
luas di sini, tinggal membicarakan dengan ketua adat. Tidak dengan harga mahal. Bisa memilih
tanah mana yang ingin dikelola. Saya hanya tersenyum menanggapi informasi seperti itu. Di
daerah ini untuk kedua kalinya saya dapat menikmati daging babi hutan masakan orang Jawa
yang cocok dengan lidah saya. Udara di daerah ini pada malam hari sangat dingin. Bisa membuat
tubuh sampai menggigil.
Penyelenggara Bimas Katolik Kabupaten Kotabaru – yang masih ada hubungan keluarga dengan
Mgr. Hilarius Moa Nurak Uskup Pangkalpinang (1987), memiliki tanah di tempat ini. Tanahnya
ditanami sahang (lada hitam) yang sudah menghasilkan, tetapi tanahnya yang disini dijual
dengan harga murah untuk biaya kembali ke kampung halaman di Sumba. Rumah tempat tinggal
tetapnya yang ada di Kotabaru – juga dijual dan dibeli oleh Keuskupan Banajrmasin melalui Rm.
Marto Setyoko MSF.
Masyarakat yang ada di daerah ini jika sakit berat dan ingin dirawat di rumah sakit di Kotabaru
harus melalui jalur laut, dengan kapal. Dan itu tidak mudah perjalanannya. Dari jalan darat tidak
ada kendaraan umum yang memadai. Orang sakit harus dipikul dengan tandu sampai di tempat
kapal mesin kecil yang tersedia di dermaga kecil pinggir laut. Perjalanan dengan tandu itu
membutuhkan waktu beberapa jam. Juga perjalanan lautnya membutuhkan waktu puluhan jam
karena harus menyeberangi selat laut yang kadang terhalang oleh ombak laut yang tidak ramah.
Satu-satunya rumah sakit pemerintah adalah RSUD. Jaya Sumitra di Jl. Pangeran Hasan Basri
No.57, Semayap, Pulau Laut Utara, Kotabaru yang berada di dekat Pastoran Gereja Katolik St.
Yusup Kotabaru Pulau Laut, Kalsel.
Stasi Mandam (Kecamatan Kelumpang Hilir – Hampang)
Sekarang sudah menjadi Paroki Santa Maria Ratu Pecinta Damai Mandam. Paroki Mandam
terletak di wilayah yang mencakup Kecamatan Kelumpang Hilir dan Hampang, Kabupaten
Kotabaru, Kalimantan Selatan. Daerah pelayanannya meliputi Karang Liwar, Serongga, Blok B,
Merah Delima, Intan Ringgo, Batu Laso, dan daerah sekitar Pandan.
Jika menuju Stasi Mandam arahnya dari pelabuhan Batulicin mengarah lurus ke dalam ( arah
barat laut), agak serong ke kiri sedikit dari arah ke Sebamban III Blok B. jalur yang dilalui jalur
yang masih aktif untuk pengangkutan kayu dari hutan ke pabrik kayu lapis Kodeco yang ada di
Batulicin. Sehingga kadang-kadang dapat bertemu dengan trailer yang mengangkut kayu yang
hanya memuat 3-5 batang log kayu yang sangat besar dan Panjang. Debu berterbangan dan kita
harus berhenti minggir untuk beberapa waktu. Tetapi lebih banyak waktu jeda yang sepi. Dalam
sepi demikian kadang bertemu dengan babi hutan yang sedang menyusur tepi jalan, atau
menyeberang dan Kembali masuk ke dalam hutan. Di beberapa lokasi ada hutan yang
dibawahnya cukup banyak airnya- seperti rawa-rawa tetapi airnya cukup jernih. Ada juga
beberapa tempat yang beralur dan becek karena bekas pengangkutan log kayu ulin yang diangkut
sepasang kerbau untuk ditempatkan di pinggir jalan besar jalur pengangkutan kayu.
Saya pernah bertemu dengan seekor babi hutan tetapi warnanya putih – besar sebesar gudel anak
kerbau.. Dari kejauhan saya sudah berhenti Ketika melihat babi itu persis di tengah jalan yang
akan saya lewati. Semula berdiri tenang seperti melihat ke arah saya, sehingga saya takut juga
berhadapan dengannya. Rupanya babi itu juga takut dengan suara bunyi motor. Karena saat
motor trail yang geberkan bunyi gasnya dia cepat-cepat lari menyeberang ke sisi kanan dan
masuk ke dalam hutan yang di bawah pohon-pohonnya berair sepertinya di dekat situ ada aliran
sungainya.
Saat saya sampai di kampung Cantung saya menanyakan tentang babi hutan warna putih yang
baru saja di temui dalam perjalanan hari itu, orang kampung menjelaskan, memang ada babi
hutan jenis itu di daerah ini. Karena dahulu ketika zaman pendudukan Belanda di pedalaman ini
diserbu Jepang orang Belanda yang memelihara ternak babi berwarna putih (merah jambu)
melepaskannya dari kandangnya agar masuk ke dalam hutan hutan supaya tidak menjadi bahan
logistic bagi pasukan Jepang. Babi ternak piaraan itulah yang kemudian kawin campur dengan
babi hutan dan menurunkan babi-babi hutan warna putih seperti itu. Maka badannya juga ektra
besar dibandingkan dengan babi hutan yang berwarna hitam yang biasanya tidak terlalu besar.
Mereka tahu babi-babi tidak selalu sendirian, kadang mereka bergerombol juga saat
menyeberang sungai. Babi bisa berenang. Jika menyeberang dalam gerombolan tampaknya
mereka saling melindungi anak-anak babi yang masih kecil. Anak-anak babi dalam barisan
tengah setelah babi terbesar memimpin mereka lebih dahulu – menyusul yang terakhir nanti
induk-induk babi yang menjaga keamanan anak-anaknya. Seperti rombongan pasukan dengan
komandan dan pengawalnya.
Mereka mengingatkan akan cerita mistis juga. Mereka berpesan jika ada gubug dipinggir jalan di
tengah hutan dan ada gangguan di jalan karena gerimis atau hujan dan di tempat itu bertemu
wanita cantik- supaya diperhatikan apakah di bawah hidungnya terdapat belahan bibirnya atau
tidak. Jika tidak ada belahan bibir di bawah hidungnya itu berarti dia adalah jelmaan dari seekor
harimau yang menyamar menjadi Wanita cantik. Orang yang tergoda untuk berteduh apalagi
melakukan perbuatan tidak terpuji terhadap wanita cantik di gubug itu, jantungnya akan hilang
dicabik-cabik oleh harimau yang menyamarkan diri menjadi wanita cantik itu. Cerita seperti itu
memang dapat terdukung oleh situasi lingkungan yang sepi. Karena pada jarak tempuh kurang
lebih 80 km itu kanan kiri masih berupa hutan lebat dengan pohon yang tumbuh rapat dan jarang
bertemu dengan manusia sepanjang perjalanan itu. Kadang-kadang dalam area wilayah tertentu
sekitar jalan itu berbau harum. Jika hal ini tidak dipikir secara rasional – dapat menyebabkan
bulu kuduk berdiri juga. Tetapi jika pikiran normal dan membayangkan bisa terjadi di daerah itu
ada pohon-pohon yang sedang berbunga dan bau bunganya harum, tentu pikiran rasional ini akan
membanttu menghilangkan perasaan takut dalam perjalanan seorang diri di daerah yang sepi
seperti itu. Ingat perjalanan malam hari berkabut saat pulang dari daerah gunung Payung
Candiroto Temanggung pada TOP Tahun pertama dulu. Sadar jika siang hari di sekitar itu ada
kebun kopi yang sedang berbunga. – bau harum disekitarnya. Malam hari yang sepi – kabut pekat
– yang sulit ditembus lampu kendaraan bermotor. Tidak menimbulkan perasaan mistis dan
membuat takut. Perasaan mistis dan takut akan hilang jika dibantu dengan pikiran yang rasional.
Stasi ini memiliki kapel yang cukup untuk menampung umat yang tidak terlalu banyak.
Besarnya sekitar 8m kali 10 m. tetapi umat yang ikut bergabung dalam ibadat di kapel saat saya
hadir hanya sekitar 15-20 orang saja. Dewasa dan anak-anak. Bangunan Kapel cukup bagus dan
kokoh karena menggunakan kayu ulin sebagai tiang bangunan panggung dan lantainya,
meskipun atapnya dengan atap seng. Tetapi karena masih banyak pohon-pohon di sekitarnya
tempat itu tidak terasa panas.
Di samping kapel ada jalur jalan setapak menuju ke gua alami- di sana dibangun tempat Ziarah
Namanya gua Maria Manikam Damai (Mandam). Jalur jalan setapak itu masih ditumbuhi
Semak-semak pohon hutan. Kalau kita berjalan masuk ke arah gua Maria akan terdengar suara
meletik-letik seperti jentikan kaki belalang daun yang cukup keras kedengarannya. Binanatang
yang mengikuti kita dalam perjalanan itu tidak lain binantang pacet ( litah darat) yang melompat
dari daun ke daun lainnya tampaknya mengikuti Gerakan kita. Jika ada pacet yang menempel di
kulit kita, di kaki telanjang, tangan, leher, dia akan menempel dengan kencang. Mengisap darah
yang menjadi makanannya. Binatang hitam kecoklatan yang semula pipih akan menjadi gendut.
Hanya dapat lepas dari kulit yang ditempelinya jika ia disulut dengan korek api atau dikucuri air
tembakau. Bekas tempelannya membuat kulit ari di tangan atau di kaki yang habis ditempelinya
menjadi terkelupas. Menimbulkan rasa perih.
Di belakang kapel ada ladang dari ketua umat. Ditanami padi ladang. Tanpa pengairan. Juga
mentimun. Singkong. Tanahnya bukan tanah gembur karena tanahnya agak berbatu-batu dan
berkapur. Tetapi padi gogo bisa tumbuh di tempat ini, meskipun hasil produksinya tidak banyak
dan tumbuhnya tidak subur, karena pupuk hanya mengandalkan daun daunan dari alam. Jika
sudah tidak produktif akan dibiarkan dulu menjadi hutan Kembali agar tanah dapat ditanami
pada periode berikutnya. Model ladang berpindah. Bukan pertanian yang intensif dipupuk
dengan pupuk buatan.
Jika siang hari saya sudah sampai di tempat, saya perlu berkunjung dari rumah ke rumah umat,
untuk memberi tahu kita akan melakukan ibadat di kapel. Sore hari setelah pulang dari ladang
atau selaesai melakukan kegiatan rutin mereka berkumpul di kapel.
Ada juga umat yang istrinya orang dari Jawa. Punya usaha warung di pinggir jalan dekat
jembatan kali Cantung. Di perempatan ini cukup ramai jumlah penduduknya. Bapak Uskup Mgr.
Projosuto MSF sempat singgah di rumah – warung ini saat berkunjung ke gua Maria di Stasi
Mandam ini. Saya dalam perjalanan turne jika ingin mengisi bahan bakar kendaraan motor agar
tidak kehabisan di jalan mengisi di warung ini. Harga bensin pada waktu itu 750/liter. Harga
normal di kota hanya sekitar 150 – 250/liter.
Saya pernah melihat seekor ular yang baru saja menyeberangi jalan yang saya lewati saat saya
sedang menuju kapel untuk beribadat Bersama umat. Saat saya sampai di tempat itu ekor ularnya
sudah melewati batas pinggir jalan dan sudah masuk ke semak-semak belukar. Ujung ekornya
saja yang saya lihat sudah sebesar jempol kaki. Bujel. Saya tidak dapat membayangkan betapa
besarnya ular yang baru saja lewat menyeberangi jalan tadi. Membayangkan saja bulu kuduk
saya jadi berdiri. Untung saya tidak melihat langsung seberapa besarnya secara utuh. Dia sudah
masuk ke semak-semak belukar menuju ke arah bukit bukit gua.
Bagi penduduk asli suku Dayak yang ada di daerah ini, rupanya ular seperti itu tidak
menyebabkan mereka takut. Tetapi justru menjadi sumber gizi. Karena suatu saat saya pernah
melihat di jemuran baju. Kulit ular piton sebesar lengan atas orang dewasa yang gemuk
sepanjang 5 meter yang sudah dikelupas dari badannya dan sedang dijemur. Sepertinya daging
ularnya sudah dimanfaatkan untuk di konsumsi. Saya belum pernah makan daging ular seperti itu
dari dulu sampai sekarang. Dan tidak ingin merasakannya juga. Kadang mereka juga berburu
kancil atau pelanduk dengan senapan angin atau sumpit. Mereka berburu kancil pada malam
hari. Peralatan lampu sorot yang diikatkan pada kening mereka menjadi alat yang dapat membuat
pelanduk berhenti bergerak saat mereka diburu dan disorot matanya dengan lampu itu. Saat
itulah pemburunya dapat menembakkan senapan angin atau sumpitnya kepada tubuh kancil itu.
Karena tidak terlalu besar jika buruan mereka tertangkap dan mati akan ditempatkan pada Anjat
yaitu tas gendong dari bahan rotan yang mereka bawa pada pungunggnya. Tas ukuran diameter
50 – dan tinggi 70 cm berbentuk bulat seperti tabung. Saya belum pernah makan daging kancil
atau pelanduk ini.
Saya sekarang dapat membayangkan kemungkinan rasa daging pelanduk itu seperti daging
kijang yang lembut. Daging kijang ini baru saya rasakan di kemudian hari ketika saya mendapat
tugas di Sorong atau Merauke. Sebelum itu di hutan jati Blora Radublatung pun rupanya
penduduk di pinggir hutan pada musim kemarau dapat memperoleh buruan kijang di hutan saat
kijang-kijang mencari minum di cekungan yang masih ada airnya dan dagingnya dijual ke
sekolahan dalam bungkusan daun jati dan harga cukup murah.
Saya jika datang ke tempat ini tinggal bermalam di rumah Ketua umat yang berasal dari suku
Dayak ini. Saya kurang bisa menikmati makanan yang disajikan oleh keluarga ini. Meskipun
kadang didapatkan tangkapan ikan dari Sungai Cantung yang ada di dekatnya. Tetapi cara
memasaknya berbeda dengan cara orang Jawa. Kalaupun di goreng sepertinya belum matang
betul sehingga bau amis masih sangat terasa. Sayurnya dari mentimun atau daun papaya di rebus.
Tanpa rasa garam. Hambar. Kami makan bersama-sama dengan keluarga di sekitar tunggu api.
Duduk di lantai geladak rumah. Di situ juga ada anjing piaraannya yang berputar-putar
mengelilingi wajan yang bekas digunakan untuk menggoreng ikan.
Kelesuan saya dalam hal makan di tempat ini, rupanya diamati juga oleh tuan rumah. Tuan
rumah tidak berani menegur saya secara langsung, tetapi menyampaikan penilaiannya itu kepada
Katekis. Katekis memberikan pembelaan kepada saya di hadapan Ketua Umat itu diluar
pengetahuan saya dengan pernyataan: “memang seorang frater tidak boleh makan terlalu
banyak” dia harus menjalankan tirakat dalam hal makan dan minum. Suatu pembelaan yang
bombastis – berbohong tetapi cukup bijak agar tuan rumah tidak merasa tersinggung karena
makanan yang disajikan tidak dimakan dengan penuh semangat.
Ada seorang dari Flores yang tinggal di Stasi ini. Dia menikah dengan wanita Dayak. Punya
anak kecil berusia 5 tahun dan diberi nama Floda. Singkatan dari Flores Dayak. Tinggal agak
jauh dari kapel Mandam tetapi dipinggir jalur besar Jalan Kodeco dari arah Batulicin menjelang
masuk kampung Cantung. Di rumahnya selalu dinyalakan perapian untuk mengusir nyamuk
dengan asapnya. Karena di belakang rumahnya hutan- hutan. Rumahnya sederhana dari kayu
dalam bentuk rumah panggung yang tidak tinggi dindingnya dari kulit kayu.
Tahun 2010 saat saya sudah menjadi PNS di Bimas Katolik Pusat, dan ditunjuk menjadi Pejabat
Pembuat Komitmen untuk memberikan bantuan kepada Gereja, saya memberikan rekomendasi
dan bantuan sebesar 50 juta untuk Pembangunan/ Rehabilitasi Gereja di Batulicin dapat disetujui
dan dicarikan. Satu lagi sebesar 40 juta untuk Pembangunan asrama anak-anak dari pegunungan
Dayak dari pegunungan Meratus (Proyek Meratus) dan asrama itu akan didirikan di daerah
Magalo – dari Serongga bergerak lebih jauh lagi melewati jalur jalan nasional menuju
Kalimantan Timur itu – tetapi masih di wilayah Magalau Hulu Kecamatan kelumpang Barat
Kabupaten Kotabaru. Untuk hal tersebut saya harus mengarahkan kepada pastor Paroki yang
bukan lagi dari MSF tetapi dari Konggregasi Pasionis. Bagaimana cara membuat proposal
bantuan – meminta penerbitan rekening bank atas nama Paroki. Yang semula Romonya merasa
enggan karena takut intervensi pemerintah dan merasa dibhohongi dapat saya yakinkan dan dana
dapat diproses dan diterima dengan baik. Menjelang akhir tahun saya Ketika diminta melakukan
monitoring bantuan memilih datang ke kedua tempat ini.
Saya mendapat kesempatan untuk datang kedua kali ke kota baru setelah selesai tugas tahun
1989 akhir. 19 tahun kemudian di tahun 2010. Dalam perjalanan itu saya harus datang ke
Kotabaru lebih dahulu dengan Kapal Veri dari Batulicin – berbeda dengan Pelabuhan yang
dahulu. Saat saya datang di Kotabaru disambut dengan baik oleh oleh Penyelenggara Bimas
Katolik di Kotabaru. Saya juga sempat mengunjungi pastoran yang sudah berubah sama sekali.
Pastoran dibangun jauh dari gereja yang berada Jl. Singabana 94. Pastoran dibangun dengan
bangunan tembok beton. Pastor dari Konggregasi CP berbeda dengan pastor yang ada di
Batulicin, juga ramah kepada saya. Setelah semalam menginap di Kotabaru menyeberang
Kembali ke Batulicin. Tanah Keuskupan yang dahulu ada rumah kecil ditengahnya dan beberapa
pohon cengkeh dan Semak belukar serta rumput ilalang sudah menjadi bangunan gereja yang
megah dan cukup luas. Lebih megah daripada Gereja induknya dulu di Kotabaru. Di belakang
pastoran ada asrama anak-anak sekolah. Floda dari Mandam, anak keturunan laki-laki Flores dan
wanita dari Dayak( Ayahnya Bernama Petrus ibunya bernama Irus), yang pada saat dahulu saya
menjadi Toper masih berusia 2 tahunan, sekarang sudah tumbuh menjadi perempuan muda yang
cantik dan tinggal di asrama dekat pastoran Batulicin bersama-sama dengan para Suster.
Mungkin dia sudah menjadi karyawan di asrama sekolah itu.
Mata pencaharian penduduknya selain berladang, juga berburu, mencari ikan, mendulang emas
di Sungai, mencari sarang burung walet di tengah hutan, dan mencari kayu gaharu. Meskipun
tidak jelas berapa penghasilan perbulannya. Tuhan dan alam selalu menyediakan dan
menyelenggarakan untuk kehidupan mereka. Umat yang mencari sarang burung wallet di dalam
gua di Tengah hutan, perjuangannya luar biasa. Mereka bisa pergi dalam waktu panjang minimal
3 minggu sampai satu bulan. Hanya berbekal parang/ mandau beras dan garam serta alat masak
sederhana. Tidak dapat berkomunikasi dengan keluarga sepanjang waktu itu dan kemana mereka
pergi tidak ada yang mengetahui karena harus masuk ke dalam hutan rimba. Tetapi saat dapat
kembali dengan selamat dan berhasil mendapatkan sarang burung, sarang burung itu dijual
kepada Tauke, harganya sangat mahal. Bahkan dari mencari sarang burung di gua di tengah
hutan ini ada umat yang dapat membiayai perjalanannya menuju Yogyakarta untuk mengikuti
acara kedatangan Paus Yohanes Paulus II pada tahun 1989 itu. Masyarakat yang penghasilannya
mendulang emas, juga bisa mendapatkan penghasilan cukup besar – tetapi pada umumnya penghasilan yang cukup besar itu habis untuk konsumsi dan bersenang-senang, karena belum ada
budaya menabung. Prinsipnya dari alam selalu akan didapatkan apa yang mereka butuhkan.
Dengan Romo dan kedua pegawai dari Bimas Katolik kabupaten Kotabaru saya diantar ke
Magalau untuk melihat perkembangan Pembangunan Fisik asrama dan dari romo saya mendapat
Informasi Ketua Adat menyerahkan tanah yang cukup luas termasuk bukit yang ada di situ seluas
seluas sekitar 6 ha dengan biaya sekitar 40 juta. Jadi dana yang dibantukan itu dapat digantikan
dengan hibah tanah untuk proyek Meratus itu sebesar itu. Saya mewakili apparat pemerintah
dapat melihat mata kepala sendiri. Dana untuk ukuran Lembaga Pemerintah yang tidak seberapa
– Ketika diserahkan kepada Gereja menjadi asset gereja yang nilainya ratusan juta. Kehadiran
saya menjadi penyambung yang dapat meyakinkan Gereja atas kehadiran pemerintah di
lingkungannya. Dan saya dapat menjadi jembatan dari pemerintah akan kebutuhan Gereja untuk
sesuatu yang bermakna bagi kesejahteraan masyarakatnya. Pemerintah meyakini saya karena
saya aparatnya. Gereja percaya kepada saya karena saya tidak membohonginya dengan bantuan
yang pemerintah berikan kepadanya. Tetapi Langkah-langkah yang seharusnya dikehendaki oleh
pemerintah juga saya sampaikan kepada gereja bagaimana Gereja seharusnya memberikan
pertanggungjaaban administratifnya kepada pemerintah.
Sekian tahun kemudian – meskipun tidak dipanggil menjadi orang yang tertahbis, seperti yang
semula saya cita-citakan – ternyata saya merasa tetap dapat menjadi berkat bagi Gereja tetapi
sekaligus juga dapat menjadi berkat bagi Pemerintah. Karena Gereja yang sekian lama curiga
terhadap aparat Pemerintah – menjadi percaya karena kehadiran saya di dalamnya.
Gunadarma Karawaci, Ruang 246.
Senin 17 November 2025
Ansgarius Hari 45 Wijaya

